SAJAK-SAJAK Rachman Sabur

babeh 4

ALBUM HITAM 1998

Membuka album sejarah. Album hitam dari sejarah yang kelam.
Ada banyak orang mati. Ada banyak tulang-belulang berserakkan terpampang
menghiasi album sejarah. Ada banyak peluru ditembakkan membolongi tubuh-tubuh yang lemah. Mayat-mayat bergelimpangan dimana-mana. Ada banyak orang-orang bermuka hijau dan bermuka coklat bersenjata lengkap menghabisi mereka. Bunyi-bunyi tembakkan itu tidak pernah sepi. Kepulan asap hitam dan bau mesiu menyesakkan dada. Doktrin-doktrin stabilitas keamanan telah digelapkan oleh sihir kata-kata kebenaran yang keluar dari mulut bebek-bebek yang diternakkan. Dan dari suara lenguhan panjang badak-badak yang diliarkan hidup di belantara peradaban.
Kata-kata kebenaran itu dimuntahkan dari mulut besi yang angkuh. Ketika itu pula kebenaran menjadi senjata dan bunyi-bunyi tembakkan menjadi kebenaran mutlak.
Sekarang situasi semakin mengancam. Kata-kata kebenaran menjadi ancaman bagi yang lain. Bagi siapapun yang membenarkan kata-kata lebih dari ancaman apapun. Lebih dari pembunuhan pikiran. Lebih dari itu kebebalan pikir telah berbiak dalam setiap kepala. Membatu dalam setiap kepala. Menjadi batu dalam otak setiap kepala. Semuanya menjadi bunyi-bunyi tembakkan. Siapa lagi yang harus mati? Berapa banyak lagi orang harus mati bapak?

2000

PUISI Gusjur Mahesa
Baca Tulisan Lain

PUISI Gusjur Mahesa

OMON-OMON

Dulu waktu di gorong-gorong ucapan omon-omon dari mulutnya begitu puitis.
Begitu dramatis. Bahkan omon-omon itu menjadi puisi pencitraan panjang baginya.
Dulu waktu mengenakan baju kotak-kotak di depan tugu monas ber-omon-omon tentang jakarta. Tentang idealisme bangsa.
Tentang Indonesia kaya.
Sekarang ucapan omon-omon itu masih terngiang-ngiang di telinga.
Ucapan ndasmu itu juga menjadi viral keluar dari mulut orang berikutnya.
Ucapan sinistis-ejekan kepada seseorang.
Keduanya berkongkalikong
bermufakat.
Lalu Dimanakah itu mobil-mobil esemka?
Dimanakah itu uang
sebelas ribu trilyun?
Katanya disimpan
di saku baju putihnya?
Dimanakah itu hasil dari Freeport 60 persen?
di selipan kopiahnya?
Dimanakah itu uang bansos ratusan trilyun?
Dimanakah itu uang covid ratusan trilyun?
Di bunkernyakah?
Dimanakah itu
uang komisi dana pinjaman luar negeri?
Di simpan di bank-bank ojolkah?
Dimanakah?
Di mana-mana!
Semuanya itu
ternyata hanya omon-omon.
Hanya tipu-tipuan saja.
Pura-pura jadi dermawan
padahal preman
preman juga.
Pura-pura jadi
wong ndeso
padahal bajingan juga.
Pura-pura merakyat
padahal merampok rakyat.
Pura-pura lugu
padahal dungu.
Seribu satu pura-pura
diungkapkan dalam omon-omon.
Hanya dengan ber-omon-omon
kepada rakyat
semuanya menjadi takjub. Tersihir oleh perilakunya.
Itu soalnya
Itulah realitasnya.
Kita tidak bisa menafikan faktanya
memang begitu.
Bersahaja namun garang.
Kita semua kena prank.
Terlalu dielu-elukkan
sebagai sosok satria piningit yang diturunkan dewa dari langit.
Tapi apa yang terjadi selanjutnya?
Terbukalah segala kepalsuannya.
Banyak orang menangis
menyesali pujian
dan dukungan
yang diberikan
kepadanya.
Kepada Presiden palsu.
Orang-orang
saking marah
dan kecewa.
Orang-orang
menangis
Ironis.

2025

SAJAK-SAJAK Gusjur Mahesa
Baca Tulisan Lain

SAJAK-SAJAK Gusjur Mahesa


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *