MEMBACA TANDA-TANDA
Aku bersaksi tanah ini hidup dan matiku. Tanah ibu-bapakku. Tanah kakek-nenekku. Tanah buyutku. Tanah leluhurku. Tanahku!
Aku ingin tetap hidup disini dan mati disini pula. Di tanah yang selalu kurawat dan kujaga. Seperti halnya aku merawat anak-anakku. Keluargaku.
Sialan! Suara-suara gagak itu seperti sedang mengancamku, setiap aku berbicara tentang tanah leluhurku. Suaranya menterrorku. Seperti suara-suara senjata api yang ditembakkan. Hei kalian!
Jangan coba-coba rampas tanahku! Tanah yang kuinjak ini adalah harga diriku! Martabatku! Kalau kalian mau, ambilah bunganya. Ambilah buahnya. Jangan kau tebang pohonnya. Pohon itu adalah tubuhku juga. Tubuh yang tumbuh bersama orang-orang yang telah kehilangan tanahnya. Rumahnya. Kebunnya. Masa depannya. Nyawanya. Segalanya. Ya! Segalanya!
Kenapa gagak-gagak itu
selalu datang lagi?
dan datang lagi? Firasatku mengatakan : ada sesuatu yang akan terjadi. Aku harus tetap disini. Aku harus menjaganya dan mempertahankan tanah ini dari para perampok tanah. Dari kebiadaban para makelar tanah negeri ini.
Pergilah kalian gagak-gagak sialan! Jangan ganggu kami!
Diamlah-diam anakku. Diamlah dalam pelukanku. Mendekap eratlah ke tubuhku. Jiwaku memelukmu. Jangan bicara apapun lagi. Biarlah alam bicara dengan segala tanda-tandanya.
Suara-suara gagak itu mengingatkanku akan adanya tanda-tanda kejadian yang tidak diinginkan. Entah! Ada apa yang akan terjadi? Malapetaka? Gempa?
Udara di sekitar baunya menyengat semakin membusuk.
Hei! Kalian yang disana!
Ya kau! Siapa namamu?
Dari mana asalmu? Dari Jakarta? Kau mau apa jauh-jauh datang kesini?
Disuruh siapa? Kenapa? Oh kau mau menembak aku! Silahkan tembaklah aku! Aku siap untuk ditembak! Hei kenapa kau diam? Kau takut? Aneh! Kau ini abdi negarakah? Atau abdi Tuhankah? Kalau kau tidak berani menembak? Pulanglah! Jangan datang lagi kesini! Jangan ganggu kami! Jangan racuni kami? Ayo pulanglah! Kau tersesat! Kau telah menyesatkan kami pula!
Sekarang dengarkan baik-baik. Dengarkan tanah bicara! Langit bicara! Angin bicara! Pohon-pohon bicara! Hujan bicara! Sungai bicara! Lihat dan dengarkanlah tanda-tanda di sekelilingmu!
Malam menyanyikan bulan. Bulan tergolek di tepian sungai. Sungai menangis merindukan hujan. Hujan airmata. Bacalah tanda-tanda disekelilingmu!
Awan meleleh jadilah hujan. Tanah belah jadilah gempa. Pohon menangis jadilah embun. Hutan terbakar. Api menjalar. Asap hitam mengepul ke seantero penjuru angin. Angin barat terbakar. Angin timur membeku. Angin utara yang hampa. Angin selatan membisu.
Semuanya telah memberikan tanda-tanda. Angin? Masih adakah suara angin? Suara sungai? Suara gunung? Suara laut? Suara rerumputan?
Suara-suara itu telah ditelan gemuruhnya suara-suara pabrik! Suara-suara mesin pembunuh!
2014









