KEPADA TUAN PRESIDEN
Tuan Presiden
dimanapun berada
terimalah hormatku
salam takzimku.
Semoga saja
ke depan
pidato-pidatomu
bukan pantun
berbalas pantun
bukan lagi
sekedar omon-omon
hanya asbun
atau berteriak-teriak
sambil gebrak mimbar
asal kocak
tak berotak.
Kata-katamu itu
mulutmu harimaumu
selayaknya muncul
dari kewarasan pikiran
dan kesadaran jiwa
hati yang ikhlas.
Tidak lagi menambah
derita rakyat
yang hidupnya
tengah sekarat
sepanjang hayat.
Tuan Presiden
negeri ini
negeri rakyat
negeri yang telah lama
nyaris retak
negeri bolong-bolong
dirampok habis
bangsa sendiri.
Tuan Presiden
lupakan tanam sawit
di tanah Papua.
Selamatkan Aceh
selamatkan Sumatera.
Jadilah macan
yang sebenarnya
bukan macan boneka
mainan para Oligharki.
Tuan Presiden
di akhir tahun ini
begitu banyak prahara
banyak pula bencana
tak kau lihatkah?
tak kau dengarkah?
Lihatlah nuranimu!
Lihatlah wajahmu!
di depan cerminmu!
Siapa sebenarnya
sejatinya dirimu?
Sibakkanlah tirai
di balik matahatimu!
Tuan Presiden
Kau ada
karena adanya rakyat.
Kau tiadapun
karena adanya rakyat.
Jangan sekali-kali
melawan rakyat!
Menentang rakyat
akan dibinasakan rakyat!
Minta maaflah
kepada rakyat.
2025









