Noktah November di Bulan Desember

NAKTAH FIKS

Di antara deru waktu yang terjaga dalam ruang-ruang maya, ada banyak narasi yang terbang, bak burung-burung malam yang merajut jaring takdir di angkasa. Puisi-puisi pamflet bersayap, opini-opini yang berkelebat, essai, cerpen, prosa, hingga meme—semuanya mengalun dalam satu simfoni yang sama, bersatu dalam rasa peduli yang terpecah-pecah dari Aceh yang memendam luka, Sibolga yang terhimpit derita, Morowali yang kehilangan harapan, hingga kasus korupsi yang menggerogoti jiwa bangsa.

Namun, jika kita mencoba mencerna dengan mata batin, dalam beningnya itu, kita akan melihat sungai yang tak sekadar mengalir. Narasi-narasi itu—dalam keheningan yang rapuh—merupakan sumur jernih yang dipenuhi mineral kebenaran. Sebagaimana air Sungai Batang Ombilin, meski diterpa bencana banjir dan longsor, ia tetap menampung kebenaran dalam setiap alirannya yang tidak mengenal usang.

Sungai yang berhulu di Danau Singkarak itu tak hanya mencerminkan airnya yang jernih, tetapi juga hati yang selalu haus akan keadilan. Namun, apakah kita tahu siapa yang harus disalahkan ketika langit tidak lagi menurunkan hujan dengan cara yang adil? Hujan yang deras dan menakutkan itu bukan hanya bencana alam; ia adalah simbol dari ketidakseimbangan yang membanjiri negeri ini. Lantas, siapa yang patut dipersalahkan dalam deru kehidupan ini?

Bukan sekadar naif untuk menanyakan siapa yang salah—karena di dunia ini, selalu ada pencari jawaban yang tak terpuaskan. Tetapi masalah yang lebih besar adalah tata kelola, yang bagaikan halaman yang belum sepenuhnya dibaca oleh mereka yang diberi kuasa. Siapa yang harus mendahulukan apa? Apakah kita perlu menatap dengan mata yang lebih dalam, untuk melihat dari sudut pandang yang lebih tinggi? Lalu, teringat-lah kita akan narasi-narasi yang harus melawan gelombang, berlayar menuju hulu yang sama—seperti doa-doa yang mengalir, terombang-ambing oleh noda, menuju semesta yang tak terbatas.

Namun, jawaban yang kita cari tak selalu datang dari air yang jernih. Sebab, seringkali jejak kita tersesat dalam pemahaman yang salah. Kita ingin menyalahkan pendidikan, atau mungkin sistem, tetapi ada sesuatu yang lebih mendalam yang harus dibenahi—yaitu kemanusiaan itu sendiri. Gotong-royong, kerja kolektif yang telah menjadi darah daging kita sejak nenek moyang, adalah benteng terakhir kita yang tak boleh runtuh. Di balik caci-maki, ada suara dari hati yang menolak diam. Adakah kita mampu mengulurkan tangan di tengah amukan badai ini, atau kita akan membiarkan tangan kita terluka karena tak mau meraih sesama?

Caci-maki bukanlah racun; ia adalah pemantul wajah bangsa yang memantulkan cahaya kebenaran—walau kadang ia tajam, menggigit, bahkan menyakitkan. Sebab dalam setiap ujaran yang kita lontarkan, ada jiwa yang bergolak, ada suara yang menuntut keadilan meski terbungkam oleh ancaman dan ketakutan. Dan, lebih penting lagi, caci-maki bukanlah sebuah pencitraan, bukan upaya menjadi pahlawan yang datang terlambat. Ia adalah luka yang terungkap dalam bentuk kata-kata yang seharusnya menjadi pelajaran, bukan penghinaan.

Kata-kata itu menelanjangi kebohongan, menyisihkan ruang untuk kebijakan yang seharusnya ada, tapi seringkali hanya tersembunyi di balik kemewahan singgasana. Kita lupa, di atas gunung, ada gunung yang lebih tinggi—bagaikan sebuah mantra yang selalu benar: jika rakyat adalah kedaulatan tertinggi, mengapa suara mereka masih bisa dibungkam oleh kekuasaan yang merasa lebih tinggi? Jika kalam Tuhan yang menjadi hukum hidup, mengapa masih ada yang berani memutarbalikkan ayat-ayat-Nya untuk kepentingan diri sendiri?

Lantas, mengapa tulisan ini harus ada? Apa yang ingin kita capai dengan mengurai kata-kata ini, jika bukan untuk berhenti sejenak dalam kesibukan mencari pengakuan diri? Di balik setiap huruf yang kita ukir, ada sebuah panggilan—untuk menerima kelemahan kita. Mungkin, menerima rasa sakit adalah gerbang pertama menuju pertumbuhan yang sejati. Karena di sanalah, di dalam luka, di dalam suara yang terbungkam dan terabaikan, kita akan menemukan cara untuk berjalan lebih baik, lebih bijaksana, lebih manusiawi.

Di akhir tahun yang semakin pudar, di bawah langit yang semakin rapuh, kita semua kembali bertanya: apakah kita sudah cukup bersatu, atau kita hanya terus berlari dalam kegelapan yang kita buat sendiri? []

HOROR 
Baca Tulisan Lain

HOROR 


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *