SAJAK DARI RUMAH SAKIT JIWA
Begitu tenang kujaring bulan
Di atas bayang-bayang, cermin
Yang menghadang, rumus dan dongeng
Dari sudut mata setiap orang
Atap rumahku menyimpan salju
Dan kini aku bunuh diri di ruang
Yang tak kau ketahui: hujan, angin
Halilintar, ada di dalam diri
Kekasih, rabalah dada ini
Tak usah kau tebak arah kata-kataku
Sebagai teka-teki atau kartu mati
Kekasih rabalah dada ini
Aku memilih hujan dari senyuman
Seorang lelaki yang dingin dan menghilang
Aku rindu kematian, angin
Telah membawaku pergi dari bangkai malam
Mata dunia, potret-potret hujan sementara
Yang sembunyi di luar nalar
Di balik ruang-ruang yang samar dan bergetar
Aku memilih kematian sebelum kauciptakan
Mawar, alamat yang tak pernah kautuju
Aku memilih mata angin, bagi rasa sepi
Yang kekal dan dingin
Aku memilih kematian, kekasih
Bulan separuh meruang di atas batu
Lalu mawar itu kubawa sebagai lagu
Sebagai kelahiran yang datang dari lukamu
Aku bukanlah pengecut, kekasih
Dan tidak pernah takut, aku ingin
Memenggak racun langsung dari mulutmu
Sebuah cahaya datang setelah malam
Mengolah laut di dasar kalbu

SAJAK-SAJAK Lintang Ismaya
LANGIT KACA
Tengadah ke bintang-bintang
Cahaya menarikan ritus purnama
Cermin melayang-layang
Berdenting ke udara
Jalan di atas muara dengan lampu-lampu
Memblokir sebuah kenangan
Patung-patung putih berlinang
Menuding langit, gumpalan awan
Bergerak sebelum hujan
Membasuh aura malam
Cahaya mahkota pada sepotong ingatan
Mengukir peta perjalanan
Tubuhmu menari-nari di nanar tiang-tiang
Jembatan layang, persembahan setetes embun
Yang jatuh dari keinginan tersusun
Dalam sketsa biru jendela-jendela udara
Benang-benang langit dan cahaya
Lewat sungai tanpa arus
Lewat senandung yang menelikung
Sebuah lukisan menengok lautan
Sepiku tanpa batas, angin yang memusar
Ke tebing-tebing, guguran ingatanku
Memeluk gunung-gunung, memeluk jiwamu
Yang tergantung, suara biola dari sebuah ruang
Alamat yang sempat kukenal dari letih napasmu
Aku menembus lalu-lalang hatimu






