PULANG

beritatv

Dari jendela kecil rumah kayu yang sederhana, seorang pemuda sedang memandang hujan yang turun perlahan. Dia bernama Genta, seorang anak desa yang tinggal berdua bersama ibunya dari semenjak kepergian ayah dan kakaknya yang merantau ke Negeri Sakura, tepat lima tahun yang lalu. Kala Genta berusia tiga tahun.

Di sore itu, suara hujan yang menimpa genting terdengar seperti irama lagu yang menenangkan. Seiring waktu, hujan yang semakin deras menghapuskan panas yang sempat menyelimuti desa.

Di dalam rumah dengan lampu kunir yang hangat, terpancar cahaya lembut yang menciptakan bayangan panjang di dinding yang terbuat dari kayu. Genta duduk di sudut ruang tamu, matanya melayang ke luar.

Sore itu, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Hujan yang turun, seakan membawanya kembali ke kenangan masa kecil, saat ia sering bermain bersama kakaknya di halaman belakang rumah sembari menikmati aroma tanah basah yang khas.

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah dari belakang Genta. Ternyata, itu ibunya yang datang membawa cangkir dan teko yang masih terlihat asapnya keluar dari leher teko. Kemudian Ibu menyimpan cangkir itu di meja yang ada dihadapan Genta, serta menuangkan teh tersebut ke dalam cangkir itu.

“Minumlah! Ini dapat menghangatkan tubuhmu.” kata Ibu sambil tersenyum lembut.
Genta pun tersenyum kecil, lalu berkata “Terima kasih, Bu.”

Sambil menyeruput teh hangat itu, Genta teringat pada sebuah hari hujan yang sama. Tepat 5 tahun yang lalu, ketika Genta bersama Ibu mengantar Kakak dan Ayahnya ke depan halaman rumah, saat mobil travel yang akan mengantar ke bandara Kertajati datang menjemput Kakak dan Ayahnya untuk berangkat ke Jepang.

Ketika itu, Genta dan Ibunya melambaikan tangan sambil memegang payung yang mengisyaratkan ucapan perpisahan dalam kepergian yang entah akan bertemu kembali atau tidak. Tiba-tiba, terdengar suara nada dering yang berbunyi keras. Ibu pun lekas bergegas menghampiri gawai yang tersimpan di meja makan itu sambil diikuti Genta yang berjalan cepat dari kursi tempatnya duduk tadi.

“Assalamu’alaikum, bu.. Bagaimana kabarnya?” terdengar suara seorang pria.
“Alhamdulillah, Ibu dan Genta sehat-sehat disini.” jawab Ibu sembari tersenyum dan melirik kearah Genta.

Mendengar itu, Genta turut tersenyum. Dalam hati, Genta berbisik “Wahh, sepertinya ini Ayah atau Kakak yang menelpon?” Genta tetap berdiri disamping Ibu, sambil penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Ibunya di telpon itu. Melihat Genta yang terlihat penasaran terhadap peribincangan telpon itu, surti ibu pada Genta, memberikan gawainya sambil berkata “Ini, kakakmu mau bicara.”

Dengan hati gembira, Genta mengambil gawai milik ibunya, “Hallo, Kak.. Apa kabar disana?”
“Alhamdulillah baik, dek.. Kakak dan Ayah saat ini sedang berkemas.” jawab kakaknya.
“Lohh, memangnya Kakak dan Ayah mau kemana?” tanya Genta sambil mengerutkan dahinya.
“Kakak dan Ayah sedang berkemas karena akan menuju ke Bandara.” jawabnya lagi. “Hari ini Kakak dan Ayah akan kembali ke Indonesia, karna kontrak kerja Kakak dan Ayah di sini sudah habis. Kamu mau dibawakan oleh-oleh apa, dek?” lanjutnya.

Dengan penuh semangat dan wajah yang ceria, Genta pun menjawab pertanyaan kakaknya “Asikkkkk, kakak pulang nih.” serunya “Gak usah reot-repot, kak.. Bawain Genta martabak telur aja udah cukup kok..” tukasnya yang dipungkas tertawa kecil.

“Okey, nanti kakak belikan ya, dek.. Doakan Kakak dan Ayah ya! Semoga kami sampai di rumah dengan keadaan sehat dan selamat” lanjutnya. “Udah dulu ya, dek, ini biaya sewa telponnya sudah mau habis. Nanti kakak kabarin lagi, kalau Kakak dan Ayah sudah tiba di bandara Kertajati.” Pungkasnya, via telpon sewaan di tempat mereka tinggal di Jepang.

Perbincangan via virtual itu pun diakhiri dengan suasana gembira. Seterusnya Genta memberikan kembali gawai itu pada ibunya,“Bu, Kakak dan Ayah akan pulang sekarang. Berarti sore ini juga sampai, ya?”

“Alhamdulillah, mudah-mudahan penerbangan pesawat yang akan ditumpangi Kakak dan Ayah selalu diberikan kelancaran dan keselamatan. Kalau naik pesawat itu bukan seperti kita naik angkot ke pasar! Sini, ibu jelaskan …, …, ” jawab Ibu sambil tersenyum dan mengelus kepala Genta.

**

Senja yang menua, selesai aktifitas shalat isya, seperti biasa Genta dan ibunya tak pernah ketinggalan nonton film kartun favorit di salah satu canal televise, tetiba sinetron itu dijeda dengan pemberitaan internasional; perihal sebuah pesawat yang hilang dengan tujuan akhir pesawat tersebut mendarat di Bandara Kertajati, Indonesia.

Di luar jendela, hujan kembali turun dengan seketika, seolah ikut berduka pada bu Lela, ibunya Genta, yang menitikkan air mata. Genta yang melihat ibunya menangis, turut juga menurunkan air mata, meski ia belum tahu untuk rasa apa air matanya itu yang mendadak ikut jatuh?

[Bandung, 17 Juli 2025- fau -]

PIKAT
Baca Tulisan Lain

PIKAT


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *