‎WS Rendra, Sastra, dan Keberanian Berkarakter

ilustrasii ws rendra 1 1

WS. Rendra. Foto tangkapan layar modifikasi.

WS Rendra tidak besar karena puisinya lantang dan sering menyerang, tetapi dia hidup karena keberaniannya menolak menjadi jinak. Di tengah tradisi sastra yang sering merasa cukup dengan keindahan bahasa, Rendra justru memilih paradoksal. Ia membuat puisi yang mengganggu, menyela, bahkan memancing kemarahan.

‎Bagi Rendra, sastra bukan tempat bersembunyi dari kenyataan, melainkan ruang terbuka untuk berhadapan langsung dengan persoalan manusia. Di situlah letak kecerdasannya.Rendra sadar bahwa keindahan tanpa keberpihakan tidak akan jadi kekuatan. Dan yang membuat Rendra berbeda dari banyak penyair adalah kesadarannya bahwa kata-kata memiliki konsekuensi. Ia tidak memperlakukan puisi sebagai barang pajangan intelektual, tetapi sebagai tindakan. Puisi-puisinya seperti keputusan moral, jelas sikapnya, tegas arah suaranya.

‎Ia berbicara tentang kemiskinan, kekuasaan, pendidikan, dan kemanusiaan karena ia merasa bertanggung jawab untuk bersuara. Inilah yang menjadikan Rendra lebih dari sekadar penyair. Ia adalah warga yang berpikir dan bertindak lewat bahasa. Daya pikat Rendra juga lahir dari keberaniannya meruntuhkan jarak antara sastra dan publik. Ia tidak membangun puisi untuk dikagumi diam-diam, tetapi untuk didengar, diperdebatkan, bahkan ditolak. Ketika membaca puisi Rendra menghasilkan tubuh, suara, emosi, dan keyakinan. Publik tidak sekadar mendengar puisi, mereka mengalami puisi. Itulah sebabnya karya Rendra terus hidup. Karena ia memberi pengalaman.

‎Pada akhirnya, WS Rendra mengajarkan bahwa sastra yang kuat tidak selalu lahir dari kalimat yang rumit, tetapi dari kejujuran yang berani menanggung risiko. Ia membuktikan bahwa menjadi cerdas bukan berarti aman, dan menjadi seniman bukan berarti netral. Dalam dunia yang sering meminta seniman untuk diam atau menyesuaikan diri, Rendra memilih berdiri tegak. Sikap itulah yang membuatnya dikenang.

Studi Kasus: Puisi Pamflet dan Reaksi Kekuasaan

‎Salah satu contoh konkret yang menunjukkan posisi Rendra sebagai penyair yang sadar risiko adalah kemunculan puisi-puisi pamfletnya pada masa Orde Baru. Dalam karya-karya tersebut, Rendra secara terbuka menyinggung ketimpangan sosial, kebijakan negara yang menindas rakyat kecil, serta sistem pendidikan yang mematikan daya kritis.

Bahasa yang digunakan lugas dan langsung, sehingga mudah dipahami oleh publik luas. Respons terhadap puisi-puisi itu bukan sekadar apresiasi. Pembacaan karyanya diawasi, dibatasi, bahkan sempat dilarang. Rendra mengalami pencekalan, Bengkel Teater berada dalam pengawasan, dan ruang geraknya sebagai seniman dipersempit.

‎Namun justru di titik inilah terlihat bahwa puisi Rendra bekerja sebagai intervensi sosial yang menimbulkan kegelisahan, reaksi, dan diskusi publik. Studi kasus ini menegaskan bahwa Rendra sepenuhnya menyadari konsekuensi dari kata-kata yang ia pilih. Ia tetap berbicara ketika diam lebih aman. Dengan demikian, kekuatan Rendra terletak pada keberanian menjadikan puisi sebagai tindakan etis di ruang publik.

Otoritas Moral dan Risiko Personal

‎Keberanian WS Rendra sering diposisikan sebagai heroisme kultural. Namun secara kritis, keberanian tersebut dapat dibaca sebagai keputusan sadar untuk menempatkan seni menjadi risiko personal. Rendra tidak sedang mencari sensasi perlawanan, melainkan menjalankan keyakinan bahwa seniman memiliki tanggung jawab terhadap realitas sosial.

‎Dimensi personal ini tidak bisa dilepaskan dari kehidupan rumah tangganya. Sunarti, istri pertamanya, hadir pada fase awal pembentukan Rendra sebagai penyair. Masa ini ditandai oleh pencarian bentuk, pendalaman intelektual, dan pendisiplinan diri.

‎Stabilitas pada periode tersebut berperan dalam membangun fondasi keteguhan sikap Rendra sebagai seniman. Pada fase berikutnya, Ken Zuraida, istri keduanya, menjadi pendamping penting dalam keberlanjutan visi kebudayaan Rendra, terutama melalui Bengkel Teater. Peran ini menunjukkan bahwa keberanian Rendra tidak sepenuhnya individual, melainkan bertopang pada relasi dan dukungan yang memahami risiko sosial-politik dari pilihan bersikap kritis.

Analisis

‎Sebagian kritik menilai puisi pamflet Rendra terlalu langsung dan mengorbankan kehalusan estetik. Namun kritik ini justru memperjelas pilihan sadar Rendra, bahwa ia mengutamakan kejelasan sikap dibandingkan kemewahan puitis.

‎Salah satu ciri kuat puisi WS Rendra adalah keberaniannya mengajukan pertanyaan langsung kepada realitas. Dalam salah satu puisinya, Rendra menulis secara sederhana:

“Aku bertanya
‎tetapi pertanyaanku membentur meja kekuasaan”

‎Potongan singkat ini menunjukkan sikap khas Rendra. Subjek “aku” tidak tampil sebagai penyair yang melankolis, melainkan sebagai warga yang sadar posisi. Kata bertanya di sini bukan tindakan pasif, melainkan simbol kesadaran kritis. Pertanyaan justru menjadi ancaman ketika berhadapan dengan kekuasaan, sehingga “membentur meja” menandakan adanya struktur yang menolak dialog.

‎Secara estetik, larik tersebut nyaris tanpa metafora rumit. Namun justru di situlah kekuatannya. Rendra sengaja mengorbankan keindahan simbolik demi kejelasan sikap. Puisi ini tidak mengajak pembaca menafsirkan terlalu jauh, melainkan mengajak menyadari satu hal sederhana: bahwa dalam sistem yang timpang, bertanya saja bisa dianggap sebagai pembangkangan.

‎Contoh ini memperkuat analisa bahwa puisi Rendra bekerja sebagai tindakan sosial, bukan sekadar ekspresi personal. Ia menempatkan bahasa sebagai alat konfrontasi yang sadar risiko. Dengan cara itu, Rendra menegaskan bahwa puisi tidak selalu harus indah untuk menjadi penting.

Penutup

‎WS Rendra adalah contoh seniman yang menyatukan kata, sikap, dan konsekuensi hidup dalam satu garis lurus. Ia membuktikan bahwa sastra dapat menjadi alat kesadaran tanpa kehilangan martabat estetiknya. Dengan dinamika kehidupan pribadinya bersama Sunarti dan kemudian Ken Zuraida, Rendra menjalani seni sebagai jalan hidup yang menuntut keberanian, bukan kenyamanan.

‎Di tengah zaman yang kerap menuntut seniman untuk aman, ramah pasar, dan tidak mengganggu kekuasaan, warisan terbesar WS Rendra justru terletak pada ketidakpatuhannya. Ia meninggalkan pelajaran yang tetap relevan, bahwa suara yang jujur mungkin tidak selalu nyaman, tetapi selalu diperlukan. Selama puisi masih mampu menggugah kesadaran, suara Rendra akan terus hidup, melampaui zamannya.


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *