TIRAKAT |10|

cerbung TIRAKAT karya Lintang Ismaya kosapoin.com

Gunung Agung tidak pernah sibuk menjelaskan dirinya. Ia berdiri saja, diam, dan justru dari geming dirinya itulah banyak hal menjadi terang. Ia tidak menafsirkan dirinya sendiri, tidak pula merasa perlu membela keberadaannya. Kabut pagi yang menggantung di lerengnya bergerak lambat, seolah sedang menimbang apakah ia perlu turun sepenuhnya atau cukup menyentuh pucuk-pucuk daun sebelum kembali menguap bersama waktu.

Di lereng itu, pada sebuah saung pembibitan bonsai milik Galeri Vanya Art, Dom duduk bersila. Tangannya basah oleh tanah vulkanik yang gelap, lembap, dan dingin. Tanah itu menyimpan sisa panas purba yang entah sudah berapa lama padam, seperti amarah lama yang sudah tidak lagi membakar, tetapi tetap ada sebagai ingatan. Di hadapannya, bonsai-bonsai tumbuh dalam batas. Tidak satu pun dibiarkan liar. Akar-akar mereka diarahkan, cabang-cabang dipangkas, kadang dengan luka yang disengaja.

Bagi Dom, luka itu tidak dimaksudkan untuk mematikan hidup. Justru sebaliknya. Luka adalah cara agar hidup tidak kehilangan arah. Dan Dom sering berpikir pula, barangkali manusia pun membutuhkan perlakuan serupa. Bukan karena manusia lebih rendah dari alam, tetapi justru karena manusia dikaruniai kehendak. Ia menatap Gunung Agung sejenak, lalu tanpa alasan yang benar-benar rapi, pikirannya berbelok ke laut. Samudra yang luas. Samudra yang sejak awal tidak pernah meminta dipagari. Pada kesunyataanya, pagar selalu lahir dari rasa takut. Bukan dari lautnya, melainkan dari manusia yang berdiri di hadapannya.

Laju detik yang tak pernah berhenti mengupas hari: Avieka datang ketika Dom sedang merapikan daun-daun kecil yang saling bertindih. Ia berdiri di ambang saung, terlalu lama untuk sekadar bertamu, terlalu singkat untuk disebut menghindar. Ada jeda dalam langkahnya, seperti seseorang yang membawa pertanyaan, tetapi belum sepenuhnya siap mendengar jawabannya.

“Dom, hari ini aku kembali membaca berita tentang pagar laut yang terus berlanjut. Aku bingung. Mengapa sesuatu yang luas selalu ingin kita batasi?” tanyanya.

Pertanyaan itu jatuh perlahan, tidak menuntut, tidak pula menghakimi. Dom tidak segera menjawab. Ia tahu, pertanyaan semacam itu tidak membutuhkan kecepatan, melainkan kejujuran. Ia meletakkan gunting di atas meja kayu yang permukaannya mulai kasar dimakan usia dan cuaca.

“Saya juga sering bingung, Samudra tak pernah merasa perlu diberi batas. Justru yang ingin memagari selalu manusia.” Kalimat itu keluar tanpa nada menggurui. Lebih seperti pengakuan daripada jawaban.

Sementara di dalam benaknya Dom, pantai-pantai terbuka satu per satu. Pasir besi dikeruk sampai habis. Daratan ditambal, laut dipersempit. Reklamasi dirancang rapi dalam bahasa pembangunan, pendapatan, devisa, dan kepadatan penduduk. Semua terdengar masuk akal ketika diucapkan oleh mereka yang memangku kuasa. Dalih selalu tersedia, dan hampir selalu terdengar logis. Ancaman abrasi, rusaknya ekosistem, dan hilangnya keseimbangan alam sering kali hanya menjadi catatan kecil, seolah alam bisa diminta menunggu.

Dari sisi saung, Darma muncul membawa secangkir kopi. Uapnya tipis, aromanya pahit, seperti kenyataan yang sering kali tidak ingin ditelan. “Aku melihatnya di banyak tempat, awalnya selalu terasa wajar. Lama-lama, yang rusak tak lagi terasa.” timpalnya.

Dom mengangguk pelan. Ada satu hal yang jarang benar-benar dibicarakan dengan jujur: Tuhan tidak pernah benar-benar melarang manusia berbuat apa pun. Segala yang diharamkan hanyalah pagar bagi mereka yang memilih beriman dan bertakwa. Hidup, sebagaimana ditegaskan-Nya, hanyalah senda dan gurau. Namun senda itu bukan tanpa harga. Setiap laku, sekecil apa pun, akan dimintai pertanggungjawaban.

Keinginan, pikir Dom, hampir selalu datang dengan wajah yang ramah. Ia jarang hadir sebagai keburukan yang telanjang. Ia lebih sering menyamar sebagai kebutuhan, kepentingan, bahkan kemaslahatan. Ia teringat kalimat tentang keinginan sebagai sumber penderitaan. Juga pada pemikiran bahwa bukan apa yang masuk ke tubuh yang membuat manusia sakit, melainkan pikiran-pikiran yang menggerogoti dari dalam. Dua suara yang berbeda, tetapi bertemu pada satu muara yang sama.

Ingatan Dom mundur jauh, ke kisah purba yang tak pernah benar-benar usang. Tentang bujuk rayu Azazil. Tentang Adam dan Hawa yang tergelincir bukan karena kekurangan, melainkan karena hasrat. Tentang tubuh Adam yang terbakar matahari hingga kulitnya menghitam ketika pertama kali menginjak bumi. Lalu datang Jibril, membawa satu laku: puasa tiga hari, ayamul bidl, hari-hari putih. Sebuah tirakat. Bukan hukuman, melainkan jalan untuk mengembalikan kendali diri.

“Puasa itu seperti bonsai,” ucap Dom pelan, seolah sedang berbicara kepada tanah di tangannya sendiri. “Ia membatasi agar hidup tidak liar. Pikiran harus bisa memimpin badan, bukan sebaliknya.”

Avieka terdiam. Pertanyaan-pertanyaannya tidak lenyap, tetapi kini menemukan tempat untuk beristirahat. “Jadi pagar laut itu bukan inti persoalannya?”

Dom memotong satu ranting yang tumbuh terlalu jauh dari bentuknya. “Justru yang ingin dipagari bukan laut, melainkan yang sering tak siap dipagari itu diri manusianya sendiri.”

Darma menyesap kopinya. “Aku sering merasa manusia sibuk membangun batas di luar, karena takut menatap yang di dalam.”

Kabut turun semakin tebal. Percakapan luruh bersama waktu. Avieka pamit, disusul Darma. Saung kembali sunyi. Tinggal Dom, deretan bonsai yang berjajar dalam kesabaran masing-masing, seolah daya pasukan kecil yang senantiasa tak pernah diperhitungkan matang, padahal bisa jadi bom waktu, dan Gunung Agung yang tetap setia pada diamnya.

Dalam sunyi itu, benak Dom terus mengembara. Ia memikirkan anak cucu yang belum lahir. Tentang bumi yang akan mereka terima. Tentang manusia yang diberi kebebasan, tetapi kerap lupa bahwa kebebasan selalu berjalan berdampingan dengan tanggung jawab. Tuhan tidak pernah memaksa, tetapi setiap pilihan adalah cermin. Dari sanalah manusia melihat siapa dirinya: pembangkang yang diberi akal, makhluk sempurna yang tetap membutuhkan pedoman. Sementara Gunung Agung tetap berdiri di tempatnya. Tidak menggurui. Tidak meminta ditaati. Ia hanya ada, dan justru karena itu menjadi saksi.

Dom membersihkan tanah dari tangannya. Pandangannya kembali menuju Gunung Agung yang berdiri kokoh, diam, dan tampak tak terjamah. Namun di balik keteguhan itu, ia menyimpan kecemasan yang tak sepenuhnya bisa ia singkirkan: tentang abrasi yang selalu datang setelah kerakusan, tentang pembalakan dan pembatasan alam yang kerap dibungkus dalih pemerataan pembangunan dan kesejahteraan rakyat, seperti yang sudah-sudah. Ia tahu, pagar yang paling menentukan tidak pernah berdiri di laut. Ia berdiri di dalam diri manusia—dan hanya bisa ditegakkan lewat tirakat. []

_________________

CATATAN KAKI:

cerpen ini ditulis dari essai saya yang berjudul Pagar Laut (klik pagar laut bertulis biru untuk melihat essainya) dan sudah terbit di media online.

PUCUK |4|
Baca Tulisan Lain

PUCUK |4|


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *