SONETA Lintang Ismaya

gema dalam sapa

GETAR PURBA

Di tubir jurang itu pinus renta tumbuh
Menggurat nalar serta membawa getar
Aku yang tercipta dari letusan purba
Menolak pudar laju berjalan menjauh

Kaldera luas menyimpan riwayat panjang
Tangga batu berundak melingkar jenjang
Dinding terjal cikahuripan dirayapi kabut
Tipis yang berarak tenang meski tak runut

Dada berdenyut. Sukma menuju asin
Seperti angin tanpa pandu—berdesir
Menyisir takdir. Namamu tumbuh

Seperti telaga hijau dilingkari lumut
Menyimpan getir riwayat delapan dua
Menggores nanar—amuk galunggung

2026

PUISI Yesmil Anwar
Baca Tulisan Lain

PUISI Yesmil Anwar

BAYANG BATARI

Jenjang lingkar tangga batu berundak
Menurun menuntun langkah ke kawah
Dinding terjal menahan sinar dan kabut
Hijaunya air telaga terkunci rapat lumut

Riwayat lava menggurat benang sadar
Kisah purba menyala menolak pudar
Jiwaku bergerak menuju ruang istana
Prasasti purba menyirat batari terang

Namamu menumbuhkan batu hening
Hasratku meletup membakar senyap
Sukma menelan istana tanpa jendela

Aku tersedak bayang-bayang terbang
Angin menuliskan rindu di langit senja
Dada menjerit menolak ruang gelap

2026

GEMA DALAM SAPA

Kelak, kala angin malammu menanggalkan namaku
Di batu nisan; ragaku hanyalah sisa desir bulan biru
Suaraku telah menjadi gema mayamu dalam sapa
Tanah, adakah menerima sekujurku tanpa tanya?

Di celah hujan yang menyimpan rahasia
Rinduku bukan lagi sebagai kekasih belia
Melainkan takdir yang menolak selesai
Bara yang enggan padam dalam sansai

Di antara kabut, luka, serta cahaya
Kuseru namamu meski menjadi bisu
Tumbuh liar menembus sunyi purba

Cintaku berdiri-nyala di pusat gelap
Semesta. Kangenku hanyalah tanah
Yang kelak pulang—menantang sepi

2026

PUISI: Yesmil Anwar
Baca Tulisan Lain

PUISI: Yesmil Anwar


Apakah artikel ini membantu?

One thought on “SONETA Lintang Ismaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *