LEMAK YANG MEMBEKU

LEMAK YANG MEMBEKU kosapoin.com

Sungguh, aku tidak pernah menyalahkanmu ketika kau memilih pergi pada waktu itu. Kepergian, kupikir, adalah hak paling sunyi yang dimiliki seseorang atas dirinya sendiri. Sebuah kedaulatan batin yang tidak memerlukan sidang pembelaan, tidak pula membutuhkan persetujuan dari siapa pun, termasuk dari aku yang tertinggal dalam lorong panjang bernama ketidakpastian. Aku belajar menerima bahwa tidak semua yang pernah singgah ditakdirkan menetap. Namun menerima ternyata berbeda dengan memahami. Dan di antara keduanya, aku masih berdiri hingga hari ini, mencoba menjembatani retakan yang kau tinggalkan tanpa pernah benar-benar sampai ke seberang.

Ya, meski hingga kini masih tinggal satu pertanyaan yang tak juga menemukan sandaran: mengapa sepasang bola matamu yang purnama itu selalu melayarkan panorama napas sepi, bahkan ketika bibirmu melengkungkan senyum yang nyaris sempurna—selengkung bulan. Senyum itu seperti sampul buku dengan ilustrasi yang menenangkan, tetapi setiap kali aku mencoba menebak isinya, yang terbayang justru bab-bab tentang kehilangan yang tidak pernah kau izinkan untuk kubaca. Seolah-olah aku hanya diperkenankan mengagumi sampulnya dari kejauhan, tanpa hak untuk menyentuh apalagi membuka halaman-halaman rahasia di dalamnya. Dan perlahan aku mengerti, bahwa kau adalah perpustakaan yang kuncinya entah sejak kapan tak lagi bisa ditemukan.

Musabab itulah, kali setiap kita dipertemukan lagi oleh keadaan yang terasa seperti skenario dari langit—entah di warung kecil yang pengap, di trotoar yang basah selepas hujan, atau di ruang tunggu yang lampunya terlalu terang hingga menyilaukan—aku selalu mencoba membaca matamu sebagaimana orang membaca arah mata angin. Aku mencari tanda di antara kerlingmu: apakah ini utara yang menunjuk jalan pulang, atau selatan yang mengantar pergi lebih jauh? Entahlah. Terang dan jelasnya itu ada sesuatu yang mengapung di sana—bukan sekadar rindu yang klise, bukan pula semata dendam yang tajam. Keduanya seperti bercampur, berdesakan dalam hening, lalu berdiam di sudut yang tak bisa kusentuh, bahkan dengan ujung doaku sekalipun.

Ya, bahkan aku kerap merasa kau sedang mencari diriku di balik wajahku sendiri, tetapi pada saat yang sama, kau tampak ingin lari dari apa pun yang kurepresentasikan. Barangkali kau sedang bertarung dengan bayanganmu sendiri, dan aku hanyalah saksi yang tidak sengaja berdiri di garis depan peperangan batinmu. Dan aku berdiri di sana tanpa perisai, tanpa tahu apakah aku adalah musuh yang harus kau taklukkan, sekutu yang kau butuhkan, atau sekadar penonton yang terlalu lama menetap di arena yang sebenarnya bukan miliknya. Dan bisa jadi bahwa kesunyataaanya itu kita tengah terjebak dalam koreografi yang tidak pernah kita latih sebelumnya. Lupakan.

Di sebuah warung sederhana, dengan semangkuk bakso dan sebotol air mineral di hadapan kita, kesunyian itu duduk lebih dulu sebelum kita sempat memulai percakapan—ia seperti tamu tak diundang yang tahu benar di mana kursinya berada. Dan kau mengaduk kuah tanpa benar-benar berniat menyuapnya, seolah-olah kau sedang mencari sesuatu yang tenggelam di dasar mangkuk itu—mungkin sebuah kata yang hilang, atau keberanian yang tercecer di tengah jalan. Dan lucunya itu aku menunggu, berharap sebuah jawaban bisa muncul dari uap yang mengepul tipis di antara kita. Namun tak ada yang benar-benar terucap—justru yang terdengar hanyalah denting sendok beradu mangkuk dan napas yang tertahan, menjadi sebuah simfoni kecanggungan yang terasa jauh lebih jujur daripada deretan kalimat manis mana pun yang pernah kita pertukarkan dulu. Lupakan.

Pernah suatu kali kau membawa satu dus makanan berat, jatahmu sendiri yang entah mengapa tak kau sentuh. Dan entah apa yang mendorongku, aku memakannya dengan lahap, seolah-olah dengan mengunyah semua itu aku bisa menambal sesuatu yang tak terlihat dalam dirimu. Sementara kau hanya memandang dengan sorot yang sulit kutafsirkan. Semestinya lambungmulah yang menampungnya. Namun di sisi lain, barangkali atau mungkin sejak lama kita memang terbiasa menukar peran tanpa pernah membicarakannya. Ya, aku menampung yang seharusnya kau rasakan, dan kau memendam yang seharusnya menjadi bagianku. Singkatnya, aku mengenyangkan perutku dengan makananmu, sementara kau mengenyangkan jiwamu dengan memastikan aku masih berada di sana—masih bersedia menerima apa pun yang kau sodorkan, bahkan jika itu hanya sisa-sisa dari harimu yang berat dan melelahkan.

Di titik itulah aku mulai bertanya pada diriku sendiri, bukan lagi padamu. Apakah sepi yang kulihat di matamu benar-benar milikmu, atau hanya pantulan dari kecemasanku sendiri yang belum tuntas? Ya, alasannya sangat sederhana sekali, bukankah sering kali kita menuduh orang lain menyimpan luka yang dalam, padahal yang sebenarnya berdarah-darah adalah ego kita yang merasa gagal dalam menyelamatkan seseorang? Dan adakah kau tahu, bahwa aku mencoba jujur pada nuraniku sendiri: mungkin aku ingin percaya bahwa kau masih menyimpan sesuatu tentangku, karena dengan begitu, kepergianmu terasa kurang final. Aku menciptakan narasi tentang lukamu agar aku tetap punya peran, meski hanya sebagai pemeran figuran, dalam hidupmu yang kini tertutup rapat.

Dan kesadaran itu tidak selalu nyaman untuk didekap. Ada malam-malam panjang ketika aku merasa cintaku tidak sepenuhnya murni, melainkan terselip kebutuhan purba untuk tetap relevan dalam ingatanmu. Seolah-olah aku takut menjadi sekadar catatan kaki yang memudar dalam perjalanan panjangmu. Padahal, siapa aku untuk menuntut menjadi bab utama dalam hidupmu? Bukankah setiap orang adalah pengarang tunggal atas kisahnya sendiri, dengan hak penuh untuk menghapus karakter mana pun yang tidak lagi selaras dengan alurnya?

Namun, matamu selalu kembali mengajukan keberatan yang sama setiap kali kita bertemu. Ada gelombang di sana, seperti lakara yang dihantam gelombang pasang di pelabuhan tua, bak berusaha bertahan agar tidak terbalik di tengah lautan yang tak terbaca. Luka itu, jika memang benar ada, tampaknya tidak lahir kemarin sore. Ia seperti lapisan tanah yang mengeras oleh musim demi musim, menyimpan sisa-sisa hujan yang tak pernah sempat kering sempurna. Aku sadar sekarang bahwa aku bukan penyembuh, dan kau pun tidak sedang mencari tabib. Kita hanya dua orang yang mencoba tidak tenggelam dalam arus masing-masing, kebetulan saja pernah berenang di sungai yang sama sebelum arus membawa kita ke muara yang berbeda.

Dan kenangan pernah kucoba perlakukan seperti berkas lama yang bisa diarsipkan atau dimusnahkan agar meja hatiku bersih kembali. Akan tetapi, kenyataannya tidak bekerja seperti mesin penghancur kertas. Kenangan lebih menyerupai rumput liar di halaman rumah: dicabut hingga ke akar paling dalam pun, ia tetap menemukan cara untuk tumbuh kembali di sela-sela semen yang retak. Bukan karena ia kuat semata, melainkan karena tanahnya memang subur oleh perhatian yang tak pernah benar-benar usai kuberikan. Ya, seperti itulah adanya—selama aku masih mencoba memaknai tatapanmu, selama itu pula rumput itu akan terus menghijau, mengingatkanku bahwa kau adalah bagian permanen dari ekosistem jiwaku—entah hadir sebagai hujan yang menyejukkan, atau sebagai musim kemarau yang menguji ketahanan.

Lalu aku sampai pada kesimpulan yang tidak dramatis, tetapi terasa semakin jelas seiring berjalannya waktu: mungkin bukan kenangan yang membuat kita bertahan dalam ragam cuaca musim, melainkan cara kita menafsirkan kenangan itu sendiri. Dan waktu tidak selalu menyembuhkan segalanya; kadang ia hanya mengubah sudut pandang kita: apa yang dulu terasa seperti badai yang menghancurkan, kini mungkin hanya terlihat sebagai ombak yang sedikit keras. Bukan karena ombaknya mengecil, melainkan karena aku sudah belajar berdiri lebih seimbang di atas papan hidupku.

Dan sebagaimana kau tahu, bahwa rindu jiika diletakkan dalam bingkai kesetiaan yang sederhana, tidak selalu hadir sebagai gairah yang menyala-nyala atau keinginan untuk memiliki secara mutlak. Kadang ia hanya berupa keputusan sadar untuk tidak membenci, meski alasan untuk itu tersedia berlimpah di depan mata. Kadang ia hanya berupa doa diam-diam agar yang pernah singgah menemukan damainya sendiri, di mana pun ia berada, bahkan jika damai itu tidak melibatkan aku di dalamnya. Dan mungkin di situlah letak bentuk cinta yang lebih dewasa: tidak lagi memaksa untuk dimengerti olehmu, tidak pula menuntut untuk selalu diingat dalam setiap helaan napasmu.

Dan sepimu yang kurasakan hingga ke palung rasa yang paling dalam, mungkin bukan enigma yang harus kupecahkan. Barangkali ia adalah ruang pribadimu yang memang tidak pernah boleh kumiliki, meski dulu kukira aku memiliki mandat penuh untuk memasukinya kapan saja aku mau. Nyatanya kita sering keliru mengira kedekatan fisik sebagai izin untuk memahami segalanya, seolah-olah mencintai seseorang berarti kita memiliki kunci duplikat atas setiap pintu di jiwa mereka. Padahal, setiap orang menyimpan satu ruang rahasia yang bahkan dirinya sendiri pun belum tentu berani memasukinya terlalu lama. Dan di situlah aku harus belajar untuk mengetuk tanpa perlu memaksa masuk.

Dan kini setiap kali kita kembali dipertemukan, aku tidak lagi memburu jawaban atau menuntut penjelasan panjang lebar atas panorama napas sepi itu. Aku melihat kita seperti kaleidoskop yang diputar perlahan oleh tangan waktu yang tenang. Serpihan yang sama—kenangan manis, tawa yang renyah, luka yang perih, dan diam yang membeku—membentuk pola yang berbeda tergantung dari sudut mana cahaya pengertian mengenainya. Terkadang polanya terasa indah memukau, kadang terasa ganjil dan tak simetris, tetapi selalu menyiratkan bahwa serpihan itu tidak pernah benar-benar hilang dari tabung hidup kita. Ia hanya berubah susunan, guna memberikan arti baru pada setiap pertemuan.

Dan mungkin, pada akhirnya, hidup memang seperti itu adanya. Kita tidak pernah benar-benar membuang serpihan-serpihan tajam yang pernah membentuk diri kita. Kita hanya belajar memutarnya dengan hati-hati, menempatkannya dalam sudut yang baru, agar permukaannya yang runcing tidak lagi melukai tangan yang memegangnya. Jika suatu hari kau kembali menatapku dengan panorama napas sepi itu, aku tidak akan tergesa-gesa menyimpulkan atau mencoba mendiagnosis perasaanmu seperti seorang ahli medis. Aku akan membiarkannya menjadi apa adanya: sepasang mata yang menyimpan perjalanan panjang, yang mungkin tak pernah kumengerti seluruhnya hingga akhir usiaku nanti.

Dan mungkin, di situlah letak kedewasaan yang tak pernah sempat kita pelajari bersama di masa lalu—bahwa memahami bukan selalu tentang menemukan jawaban yang memuaskan logika, melainkan tentang menerima batas dengan penuh hormat. Batas antara keingintahuanku dan hakmu untuk tetap diam dalam seribu bahasa. Batas antara cintaku yang masih tersisa dan kebebasanmu untuk terus melangkah. Batas yang justru karena ada, membuat segala yang pernah kita miliki dan yang kita lalui hingga detik ini terasa jauh lebih manusiawi.

maka biarkan setiap liang di jiwamu tetap tak tersentuh tangan
seperti sisa uap di mangkuk yang mendingin tanpa percakapan
lampu-lampu warung ini hanya menyisakan kerak di meja
tempat sumpah-sumpah luruh menjadi butiran garam sisa
cinta kita hanyalah lemak yang membeku di pinggiran mangkuk
menolak larut, meski waktu terus menekan dan menekuk
sebab kita hanyalah debu yang gagal menjadi doa

MELUKIS TAKDIR
Baca Tulisan Lain

MELUKIS TAKDIR


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *