SKAK |1|

skak 1

“Lama tak jumpa, apa kabarnya?”
“Baik. Maaf dengan siapa ya?”
“Separuh bayang!”
“Ya, saya ingat. Masih di Ibu Kota kah?”
“Di kota kembara ke dua kini kami mukim!”
“Tak pulang kampung?”
“Masih ada yang membutuhkan tenaga kami!”
“Kalian masih bekerja?”
“Ya. Seperti itulah!”
“Turut bahagia!”
“Nyindir nih!”
“Maksud?”
“Ya, tidak sepertimu yang sudah punya media!”
“Hanya iseng!”
“Iseng bagaimana?”
“Sahabat yang punya. Saya hanya menjalankan saja!”
“Profesional?”
“Sambil menyelam minum air!”
“Jelasnya?”
“Siapa tahu dapat iklan dan kami bisa hidup. Tentu saja ke depannya bisa menghonor para penulisnya!”
“Sebentar!”
“Siap!”

Di pucuk malam yang sepi, angin yang bertiup setengah hati. Dom, yang tengah duduk di saung bonsai sendirian, sambil menatap bonsai-bonsai hasil karyanya. Nampak tersenyum sendiri kala kenangan kembali datang. Ya, ingatan yang kekal adalah kenangan yang membekas dan tersimpan abadi di palung rasa. Avieka, mantan managernya kala ia masih berstatus artis sinetron.

“Barusan aku sekrol sampai halaman terakhir, masa sih tidak ada pemasukan sama sekali? Padahal banyak yang beriklan dan berita-berita yang mengangkat sebuah lembaga ditambah lagi ada kolom sosok inspiratif. Biasanya mereka itu bayar ke media!”
“Ini kan media baru!”
“Bukan baru dan lamanya, tapi itu sudah ada anggarannya!”
“Kalau hal itu saya kurang tahu!”
“Baik. Kayanya aku harus kembali masuk kedalam kehidupanmu!”
“Untuk apa?”
“Jadi staf humas dan biro iklan!”
“Tidak ada honornya!”
“Itulah tujuannya biar kalian bisa dapat pemasukan!”
“Dan kau dapat gaji tambahan?”
“Hal itu bukan tujuanku!”
“Lantas?”
“Kalian harus berpikir realistis; harus bayar hosting, internet dan biaya lainnya!”
“Idealnya begitu, tapi tujuan kami mendirikan media ini bukan untuk komersil dari yang ingin mempublis branding!”
“Terus, darimana kalian penuhi resiko hidup, apa dari donasi?”
“Tidak!”
“Lantas?”
“Tuhan Maha Tahu!”
“Inilah yang aku benci. Sejak dulu kamu itu idealis, tapi tak realistis!”
“Justru saya sangat realistis!”
“Realistis dari hongkong?
“Saya sangat percaya pada adanya Tuhan yang mencipta, mengurus dan memberikan rezeki pada setiap makhluk yang diciptakanNya!”
“It’s oke! No problem. But… somaga saja kamu tidak dimanfaatkan orang!”
“Maksudnya?”
“Mereka yang untung. Kalian yang buntung!”
“Bilamana benar demikian, itu sudah jadi jalan hidup pilihannya mereka!”
“Kapan kamu berubah?”
“Dunia berubah. Semuanya berubah; dari mulai fisik dan sebagainya!”
“Pemikiranmu!”
“Pemikiran yang mana?”
“Itu tadi!”
“Sebabnya sederhana, dan sebenarnya sudah saya katakan bukan?”
“Berhentilah jadi orang baik!”
“Maksudmu?”
“Karena orang baik tidak pernah mencintai perasaanya!”
“Terangnya?”
“Apa kamu masih ingat tentang semua pelajaran psikologi yang pernah aku ajarkan?”
“Sedikit. Terus?”
“Tentang tiga kriteria orang. Masih ingat?”
“Lupa lagi!”
“Haduh… begini ceritanya: Ada orang yang egois, yang egois itu orang yang jahat, artinya apa—ia menutup pintu keluar, membuka pintu masuk hanya untuk dirinya sendiri. “Ya” ia simpan untuk kepentingannya, dan “tidak” ia tebar pada dunia luar. Bagaimana orang lain nanti, biarlah angin yang memikirkan. Asal dirinya aman, ia merasa cukup.”
“Terus?”
“Ya, ada orang baik—yang diam-diam terperangkap dalam kebaikannya sendiri. Ia hangat, ia menyembuhkan, ia membuat orang lain merasa diterima. Namun suaranya sendiri raib, seperti bisikan yang tak pernah tiba di telinganya. Ia tak pandai berkata “tidak,” bahkan ketika dadanya sesak dan langkahnya mulai gemetar. Ia selalu mengiyakan, meski hatinya sudah lama meminta jeda. Dan karena itulah, orang baik sering menjadi yang paling terluka.”
“Terus, hubungannya dengan berhenti jadi orang baik, apa?”
“Begini, ketika kuucap, “Berhentilah jadi orang baik,” yang kumaksud bukanlah menjadi jahat,
melainkan menjadi sadar. Sadar akan batas, sadar akan diri. Sebab kebaikan yang tak pernah disandari, sering menjelma menjadi kepuasan orang lain dan kehancuran diri sendiri. Berhentilah jadi orang baik—karena terlalu sering, “orang baik” hanyalah nama lain dari people pleaser. Selesai.”
“Terus kriteria orang yang ketiganya apa?”
“Altruistik,”
“Artinya?”
“Sebuah sikap, sebuah naluri—yang selalu menoleh pada orang lain sebelum menatap diri sendiri. Keinginan halus untuk menjaga, untuk mendahulukan kebaikan mereka, seakan hati diciptakan sebagai rumah bagi kebutuhan selain miliknya.”
“Bahasa sederhananya, apa?”
“Sikap atau naluri untuk memperhatikan dan mengutamakan kepentingan dan kebaikan orang lain!”
“Seperti itulah adanya dirimu dari dulu sampai sekarang, dan itulah sebabnya saya tak pernah bisa berhenti untuk mencintaimu!”
“Semprul!”

Ledak tawa Dom memecah hening malamnya malam. Bulan dikulum awan. Udara menabur dingin bersepuh aroma melati. Ligar melati di Negeri Timur, tiga lambang tak bisa dipisah: kelahiran, perkawinan dan kematian. []

TIRAKAT |10|
Baca Tulisan Lain

TIRAKAT |10|


Apakah artikel ini membantu?

One thought on “SKAK |1|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *