SAJAK-SAJAK Lintang Ismaya

RAMDIANA DRAMATIK

SAJAK LINGKAR

Laksana air terjun yang menimpa segala
Sentuhan demi sentuhannya meninggalkan
Jejak kembara. Air yang kembali menapak
Bukanlah yang kemarin, tapi lahir dari

Satu sumber yang sama; menyembur
Dari perut bumi. Akar-akar pohonan
Merambat berirama, seperti urat-urat
Sungai. Seperti gelusur ular ke semak

Belukar. Ya, laksana air terjun
Yang menimpa segala; sentuhan
Demi sentuhannya meninggalkan jejak
Kembara. Air yang kembali menapak

Bukanlah yang kemarin, tapi lahir
Dari satu sumber yang sama. Seperti
Engkau yang datang dan pergi, mengisi
Sepi hari-hari. Aku yang terkimbang

Seperti lakara memanjat gelombang
Mabuk nelayan hanya kesementaraan
Tapi mabuk hati tak berkesudahan
Rasa yang engkau mainkan menapak

Luka. Engkau datang dan pergi, seperti
Gelusur ular ke semak belukar, selepas
Menyuntikan bisanya. Akar pohonan
Merambat berirama, seperti getar dawai

Hatiku yang berdendang tak berkesudahan
Dalam kalang mendaur kenangan. Mabuk
Laut para nelayan, hanya kesementaraan
Tapi mabuk kepayang; sinambung lingkar

2024

PUISI Ayie S. Buckhary
Baca Tulisan Lain

PUISI Ayie S. Buckhary

SAJAK TANPA UJUNG

Dalam nyaring anganku
Senantiasa memantulkan bunyi
Getar dawai hati merambat sepi

Tak ada jalan buntu dalam sunyi
Meski tubuhmu ruang kosong

Mendaur alur kenangan
Seperti angin yang menabik
Sentuh rasa sampai nurani

Getar dawai hati merambat sepi
Tak ada jalan buntu dalam sunyi

Sentuh rasa sampai nurani
Seperti angin yang menabik
Mendaur alur kenangan

Tak ada jalan buntu dalam sunyi
Getar dawai hati merambat sepi

Kini tubuhmu ruang kosong
Senantiasa memantulkan bunyi
Dalam nyaring anganku

2024

SAJAK-SAJAK Rachman Sabur
Baca Tulisan Lain

SAJAK-SAJAK Rachman Sabur

LIGAR MELATI

Mengawali pagi dengan setangkup roti
Secangkir kopi dan sebatang rokok, tapi
Hati tak bisa mungkir, engkau kembali
Hadir dalam ragam bayang-bayang, jadi

Lelatu keabadian dalam keropak ingatan
Ya, bayang-bayangmu tak mau pergi
Seperti awan memayungi bumi; siksa
Dalam kenyataan, meski kesementaraan.

Kembali ke kamar kelas melati, sekadar
Mendaur memori. Ligar melati di Negeri
Timur, tiga lambang tak bisa dipisah:
Kelahiran, perkawinan dan kematian.

Mengawali pagi dengan setangkup roti
Secangkir kopi dan sebatang rokok, tapi
Hati tak bisa mungkir, engkau kembali
Hadir dalam ragam bayang-bayang ajali

2024

PUISI Rachman Sabur
Baca Tulisan Lain

PUISI Rachman Sabur

HIKAYAT BANCAH

Alunan ragam nada di batas giris
Mengunggis hati. Beringin rubuh
Hasil kalkulasi. Kayunya dijadikan
Perabot. Sebagian untuk digunakan

Sebagiannya lagi dijual demi penuhi
Keperluan. Jalan-jalan mengubur
Kata. Kata-kata diternakkan sahaja
Demi terjaga stabilitas dalam notasi

Kesejahteraan. Siapa membaca siapa
Seperti dadu di meja judi. Seperti palu
Hakim di meja hijau. Daun-daun gugur
Menggunting udara. Kembara alam rasa

Menuliskan angka-angka. Jadi bumerang
Dalam petak umpet. Hompimpa alaium
Gambreng. Bancah, bukan satu-satunya
Langkah patah dalam menuliskan madah

Kesejahteraan. Siapa membaca siapa
Seperti dadu di meja judi. Seperti palu
Hakim di meja hijau. Daun-daun gugur
Menggunting udara; jadi pupuk peremajaan

2024

PUISI Yesmil Anwar
Baca Tulisan Lain

PUISI Yesmil Anwar


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *