Di pintu rumah tua itu pelukmu tumpah sudah ke sekujur bidang tubuhku, sampai kelaimin kita bersalaman, meski tersekat dalaman. Kala itu, tubuh kita bak dua benda yang disatukan oleh paku. Turun tangismu di itu waktu, sebagai penanda rasa cinta yang paling dalam atas kepergian yang engkau kasihi. Ya, siapa yang tak hanyut dalam larut kesedihan ketika seorang ibu meninggalkan segenap keluarganya untuk selama-lamanya?
Engkau yang masih membujang. Dan aku yang melukaimu. Mengapa pelukmu di itu waktu, begitu nyaman kurasakan? Ya, tak ada sedikit pun pemberontakan dari jiwaku. Adakah selama ini rasamu untukku tak pernah berubah sedikit pun? Maafkan aku! Maaf! Jika itu adamu hingga kini, harus jujur ku akui—bahwa sesungguhnya rasa ini masih milikmu satu—meski kini aku sudah resmi menjadi seorang ibu.
**
Makan siang terakhir bersamamu, selepas penguburan; telah membawaku ke segenap ruang dan peristiwa yang pernah kita lewati. Aku ingat benar, engkau selalu memeluk punggungku dari belakang. Begitu khidmat dan sopan kala mendaratkan kecupan ke telingaku. Laju menuruni leher jenjangku. Seterusnya engkau pergi mengejar cita yang tengah kita bangun; dengan atas nama cinta, hingga setiap langkahmu selalu dibarengi sumringah.
Andai engkau tahu, bahwa aku sering menangis selepas pergi dari sisimu, seperti sahabatku yang kerap mengabarkan adamu di itu waktu. Tubuhmu yang menjadi kurus. Segenap semangatmu yang hilang. Kariermu yang hancur. Namun ada satu hal yang masih aku suka dari segenap pemberitaan, yaitu tentang gaya berpakaianmu yang berantakan. Engkau tak pernah kehilangan identitas, tak seperti para wakil rakyat itu—tak lagi manis sehabis sepah—paska kampanye.
Kenapa pula kita harus berpisah? Ah, ini hanyalah pertanyaan bodoh. Ya, bodoh. Bodoh sekali! Bukankah engkau sudah berjuang dengan maksimal, memintaku untuk menjadi istri resmi pada surgaku? Aku yakin engkau mendengar jerit pilu dalam tangisku kala itu, ketika surgaku tak memberikan restu. Apa dikata, langkahku terpenjara khitbah, yang engkau sendiri tak pernah tahu hal itu sebelumnya. Akulah yang salah dalam kalang mutlak.
Ya, akulah yang salah langkah itu. Kenapa aku mencintaimu begitu dalam? Kenapa pula Tuhan menitipkan rasa kasih dan sayangku untukmu begitu sempurna? Begitu juga dengan segenap kasih yang aku rasakan dari ketulusan hatimu untuk kunikmati alurnya. Adakah di itu waktu sebagai ujian untuk kita berdua? Jika benar sebagai ujian, mengapa rasa itu masih ada hingga kini? Jika rasa ini terlahir dari bisikan setan, mengapa aku selalu menyebut namaNya, kala mengingat segenap utuh adamu?
Kini, jiwaku bak lakara yang memanjat gelombang pasang dengan angin buritan yang siap menghadang. Adakah rasa ini bisa bersatu di surga? Seperti pepatah bilang; rindu itu virus dan vaksinnya adalah bertemu. Tuhan Yang Maha Hakim, aku terima semua keputusanmu itu, tetapi kenapa Engkau tak menghapuskan segenap perasaanku untuknya? Jika ini mutlak dari kesalahan langkahku yang menerima khitbah di itu waktu, aku memohon maaf: mohon dengan sangat!
**
Aku suka laut, bukan sekadar menikmati inidahnya, melainkan aku ingat benar tentang anganmu yang ingin merampungkan sisa usia di tepi laut, bersama kekasih plihan hati: “Manakala debur ombak, pertarungan hidup sudah!” katamu di itu waktu, di ambang senja, sambil kita menyaksikan terbenamnya sang surya. Sulur-sulur merahnya jadi segaris permukaan air laut yang beriak susul-menyusul, hingga ke tepian:
“Seperti itulah rindu datang berulang. Seperti lidah ombak yang tak pernah bisa lepas mengucup bibir pantai, meski kembaranya tak pernah usai, tapi ia tak pernah lupa untuk kembali!” katamu, di itu waktu. Di ujung semenanjung, kita saling melepaskan pandang ke semesta terbuka, sambil berdoa pada Yang Maha Kuasa. Doa yang sama, seperti di atas atap kala itu di kontrakan biru, sambil tiduran menatap langit yang ditaburi ribuan bintang. Senyumku selengkung bulan, katamu.
Engkau kini entah ada di mana, kekasih! []









