PERCA

PERCA e1750125642253

Aku tidak akan pernah mempertanyakan perihal kenapa kau pergi, sebab ada ribuan alasan yang bisa aku dengar langsung dari mulutmu. Hal itulah yang membuatku tak berselera dalam meretasnya, sebab ada banyak jawaban yang bisa aku paparkan sehingga kau tak bisa pergi. Seperti peluit kereta dalam kekal ingatan di itu malam.

Seperti malam-malam panjang yang dingin di sebuah ruang biru, kau dan aku begitu telaten saling membaca peta tubuh. Seperti perjalanan pulang menuju rumahmu dan kita berhenti di warung tutup, sekadar berteduh dari derasnya hujan dan kau tak mau pulang ke rumah; bukan disebabkan kelamin kita yang berbeda. Namun ada hal lain yang mengganggu pikiranmu, meski pada akhirnya kau mengalah.

Adakah itu penanda patuh? Sementara kau pun sendiri tahu — sudah membodohi laku diri sendiri dan segenap atmosfer yang ada di sekitarmu. Seperti menjajakan sebuah dagangan yang sudah pernah tergigit. Namun pesonamu tetap memikat hati bak buah apel dalam keranjang yang menanti pisau. Pada akhirnya aku mengerti adamu di itu waktu, meski kau tak mengindahkan segenap perasaanku.

Adakah kau tersiksa dengan rasamu sendiri? Sementara senyummu dalam gaun biru begitu nampak bahagia, tak terbaca sedikit pun sesal. Bisakah dikata engkau begitu piawai memainkan lakon yang tengah kau perankan di itu waktu? Ya, kita memang anak panggung yang sudah terbiasa berperan dalam ragam watak. Namun untuk berperan di atas panggung realita, aku sendiri tak sanggup; sebab aku tak pernah mengenyam dunia intelegensi.

Pada akhirnya berbicara atas nama cinta berbicara ragam kemungkinan dalam jejak baca — siapa membaca siapa? Adakah tanah senantiasa mampu menumbuhkan biji? Adakah tunas senantiasa mampu menjadi pohon? Adakah buah senantiasa bisa jadi nutrisi? Adakah diri senantiasa bisa mengerti pribadi? Dan engkau lebih tahu tentang hal itu. Tentu saja, sebab lakon yang tengah kau mainkan hanya dirimu satu yang mampu merasakannya secara utuh.

Aku tak tahu tentang definisi patuh yang mana, yang kau pilih kala itu. Sebab berulang kali kau datang mengunjungi pelataran hatiku. Berulang kali kau menangis di depanku. Berulang kali kau memohon padaku. Berulangkali kali pula aku menahan gejolak yang masih menyimpan rindu hanya untukmu. Sengaja aku menahannya. Bukan apa dan mengapa, tapi aku ingin tahu dengan pasti tentang keteguhan hatimu yang berjanji akan pergi sebentar saja. Sampai akhirnya kita berjalan melewati jalan setapak, melintasi pekuburan dan itu pertemuan terakhir sebelum berganti status.

Di rumah itu, di atas tangga, tangismu kembali bedah. Dan aku hanya mampu menatapmu meski sesungguhnya segenap rasa sudah bergejolak, bergemuruh di sebalik dada; ingin membentangkan tangan, laju berkata: menangislah di dadaku. Bersandarlah di bahuku. Tidurlah di pahaku. Aku masih seperti yang dulu. Seperti kemarin, saat pertama kali kau gilai diriku. Bukan pula aku menahan gengsi. Tidak dan tak! Aku hanya ingin melihat kesungguhan hati, pikir dan rasamu dalam ikrar janji yang pernah kau katakan.

Ya, meski aku tahu jiwamu di itu waktu sudah terbaca dengan tegas, tetapi bukan engkau saja yang punya perasaan. Aku tidak ingin hal buruk itu kembali terulang. Musabab itulah aku hanya butuh kepastian; bukan janji. Seperti kedatanganmu yang berulang dalam mendaur kenangan yang dibumbui sakit hati dalam memainkan alur lakon hidup dan kehidupan yang kau pilih dengan dalih patuh. Namun hati sulit untuk dibaca, meski kita sudah sama-sama saling mengantongi peta rahasia.

Seperti yang kau tahu bahwa menunggu itu bukanlah hal yang mudah. Genap seratus delapan puluh purnama, engkau kembali hadir dengan menawarkan ragam obat penawar untuk dipilih. Aku tuliskan surat ini, sebelum sunyi mekar di liang kubur, sekadar penanda bahwa sesungguhnya rindu kita itu milik siapa? [Li]

ENIGMA LIMA KUNCI
Baca Tulisan Lain

ENIGMA LIMA KUNCI


Apakah artikel ini membantu?

2 thoughts on “PERCA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *