Akar dan batang pohon tua itu seperti kaki dinosaurus? Tumbuh menjulang di antara persimpangan? Dua jalan yang membentang itu gerbang menuju dua misteri? Mistik? Area itu seperti ada dalam mimpi atau di dalam buku fiksi? Letaknya di dalam hutan? Hutan gigantik? Aneh memang? Di kedalaman rimba? Ada tempat sebagus itu? Warna-warna pastelnya? Seperti racikan para pelukis ekspresionis saja? Tak ada guguran daun satu pun? Adakah yang merawat?
Barangkali daun-daun itu abadi? Tak pernah merontokan diri? Tapi rasanya itu tak mungkin? Bukankah setiap yang hidup akan mati? Ups? Kaaan? Kaaaan? Kaaaaan? Ternyata aku salah melihatnya? Ya? Saking indahnya? Guguran daunnya itu tertata dengan rapi? Ya? Rapi sekali? Hingga menyerupai tekstur tanah merah yang likat? Adakah seorang seniman yang bersembunyi di tempat ini? Bisa jadi?
Satu demi satu tanya kembali menggelusur? Seperti seekor ular dengan warna hitam pekat yang keluar dari rungkun gelap? Yang siap mencari mangsa? Pusing juga akhirnya? Bagaimana tidak? Pertanyaan itu keluar dari mulutku dan harus dijawab oleh sendiri?
Seperti halnya slogan saja? Dariku? Untukku? Olehku? Pahit? Layaknya mengunyah-ngunyah obat yang hanya bisa menelan kebenaran rasanya oleh sendirian saja? Nangis? Kalau pun aku harus menangis atas segenap pertanyaan? Tentunya bukan dari mulutku sendiri? Kenapa pula keindahan selalu menyimpan tanya? Kenapa pula Tuhan sendiri menyukai keindahan? Ah? Terlalu jauh untuk sampai ke sana? Terang dan jelas itu? Begini?
Aku tidak mau menyerah dengan segenap pertanyaanku ini? Aku ingin punya jawabannya dengan pasti? Adakah area ini dirawat dan jaga oleh kaum demit? Adakah tempat ini sebagai tempat ritual suku yang hilang dari peta peradaban? Dikatakan punah? Tapi masih ada yang tersisa? Bisa jadi juga ada seorang buron kelas bandit ulung yang mukim di sini?
Hingga tempat ini ditata begitu indah? Guna persembunyiannya tak terungkap? Jika ada aparat yang memburu? Mereka pasti istirahat di sini? Dan si buron bandit ulung itu bisa membidiknya dari jauh dengan senjata canggihnya? Bilamana benar? Aku tidak mau kehilangan keperawanan? Aku tidak mau tubuh seksiku dirudapaksa? Aku harus cepat-cepat kembali? Ke luar hutan dengan secepat kilat?
Harus lebih cepat dari Flash Gordon? Kelamaan? Harus seperti Ninja? Tidak? Ninja hanya bisa sembunyi? Masih ada di tempat? Harus seperti hantu? Langsung menghilang? Sekaligus pindah tempat? Dan seterusnya aku harus tutup mulut? Bisa jadi ia sudah melihatku dan merekam wajah? Dan tubuhku dengan sempurna oleh sepasang matanya itu? Mata yang setajam elang? Aku harus oprasi plastik?
Biar ia tak mengenali parasku lagi? Mana biyayanya mahal lagi? Tak mengapa? Toh demi keselamatan nyawa ini? Soal uang bisa kembali dicari? Ah? Tapi mengapa kakiku tak mau beranjak pergi dari tempat ini? Jangan-jangan? Kaukah itu yang diam-diam menjelma tubuhku yang lain? Tapi masa iya sih? Kau menjelma sebuah pohon? Oh? Adakah ini sebuah kutukan atas belahan jiwaku?
Hingga aku tak menikah sampai kini? Ah? Masa iya sih di zaman virtual masih ada kutukan? Jika benar? Berarti aku seorang putri dan kau seorang pangerannya? Haruskah aku mencium pohon itu? Tapi di mana tepat bibirnya berada? Bukankah kalau salah mencium akan mati? Jika mati? Dipastikan selamanya aku menjomblo dalam label permanen?
Ups? Bukankah para penyihir sudah pindah alam ke dalam buku dongengan? Bisa jadi masih ada yang tersisa? Semakin horor saja? Sebaiknya lupakan? Toh? Para penyihir tak suka membuat sihirannya indah? Dan itu pun katanya? Kalaulah Tuhan yang langsung mengutuk? Mustahil juga? Toh? Antrean doa saban harinya begitu panjang? Untuk diselesaikan dengan jawaban rahman dan rahim-Nya?
Jangan-jangan ini tempat malaikat beristirahat? Kala lelah dari tugasnya di bumi? Mungkin juga tempat para bidadari sehabis mandi? Kemudian menghangatkan diri di sini dengan sulur-sulur mataharinya yang tak terlalu terik dalam sengat? Hingga kulit mulusnya terawat dengan baik? Tidak seperti kulit tubuhku? Meski memang aku ini bunga desa? Ya? Namanya juga bunga desa? Menyebalkan?
Ini semua gara-gara indah? Indah? Indah? Indah? Seperti itulah adaku kini? Aku semakin masuk ke lorong-lorong gelap pertanyaanku sendiri? Ya? Lorong gelap tanpa ujung? Bukan berarti sumur tanpa dasar? Sebabnya aku belum menemukan di mana ujungnya? Hah? Kenapa jadi memasuki lorong gelap? Haduh? Lupa? Ya?
Kan? Sedari tadi? Sudah aku bilang? Bahwa segenap pertanyaanku itu bak gelusur ular hitam pekat yang keluar dari rungkun gelap? Siap mencari mangsa? Dan akulah mangsanya itu? Tapi aku baru bisa ditelan? Tak mati di dalam tubuhnya? Oh? Betapa mengerikannya ini hidup? Hingga bisa dimakan oleh pikiran sendiri?
Seperti para politikus yang kewalahan dengan janji-janjinya? Seperti para birokrat yang kebiasaan dengan manggut-manggutnya? Padahal laku dirinya yang demikian itu bukanlah penanda setuju? Terlebih mengabulkan permintaan rakyat? Mereka sendiri bingung dalam full kebingungan? Bagaimana tidak? Toh? Saban langkah mereka terpatok dengan empat dinding aturan yang ada di belakang layar mereka?
Sebaiknya aku harus bagainmana dengan segenap pertanyaanku ini? Sementara para pembaca kata begitu asyik menikmati alur kisah yang rumit ini? Tapi alur sebenarnya sederhana? Ya? Gegera terlalu banyaknya pertanyaan yang mencuat ke permukaan? Iya kan? Ini semua gara-gara ai yang mengabulkan perintahku? Untuk membuat gambar di atas? Hingga imaji menjadi-jadi? []









