“Untuk hari ini kau tak usah ke lapangan. Olah saja dari data yang sudah ada. Rangkum dan elaborasikan. Jika kurang data kontak tim, atau nanti saya yang suruh menghubungimu.”
“Foto-foto, aman?”
“Aman. Jangan lupa ke pantry dulu. Nyeduh kopi. Rokok suruh ambil ke satpam, oke?”
“Sip!”
“Eeeu satu lagi… kalau ada telepon tak dikenal masuk angkat. Bisa jadi tim kita pakai nomor darurat!”
“Siap!”
“Oh ya, sambungkan monitormu dengan monitor saya, biar sekalian saya bisa tahu harus diedit di bagian mana saja!”
**
Demonstrasi besar-besaran telah pecah di berbagai kota di Indonesia sejak 25 Agustus 2025. Jakarta, Bandung, Makasar, Solo dan Yogyakarta menjadi saksi bisu atas kemarahan rakyat yang telah mencapai titik puncaknya. Demonstrasi ini bukan hanya tentang pajak atau gaji anggota DPR, tapi tentang masa depan Indonesia.
Demo dimulai di Jakarta pada hari senin, dipicu oleh laporan bahwa 580 politisi DPR akan menerima tunjangan perumahan bulanan sebesar Rp. 50 juta disamping gaji mereka. Para kritikus menilai bahwa tunjangan ini bersifat menghamburkan dan tidak peka, mengingat banyaknya masyarakat yang sedang berjuang menghadapi kenaikan biaya hidup, pajak, dan pengangguran yang semakin meningkat.
**
“Hallo”
“Dengan kang Asep Reuhak?”
“Maaf. Salah sambung!”
**
Prabowo, yang baru beberapa bulan dilantik sebagai presiden, mungkin menyadari bahwa isu ini tidak hanya terbatas pada protes terhadap kenaikan pajak atau gaji anggota DPR yang mencapai tiga juta rupiah per hari. Isu ini menyangkut legitimasi, kepercayaan, dan apakah rakyat masih dapat mempercayai politik setelah satu dekade terakhir mereka menyaksikan politik mencapai titik nadir.
Tentu saja Prabowo memahami, bahwa rakyat ingin melihat keadilan yang nyata dan pemerintah yang pro-rakyat. Dan Prabowo menyadari bahwa stabilitas rezim bertumpu pada tiga hal krusial: legitimasi, keadilan dan kepercayaan rakyat. Tanpa ketiganya, maka kekuasaan itu seperti bangunan yang tidak memiliki fondasi yang kuat.
Bilamana Prabowo dapat menjawab tuntutan rakyat, maka Indonesia masih memiliki harapan untuk menjadi negara yang lebih baik. Namun, jika tidak, maka kemarahan rakyat akan terus membara dan mengancam stabilitas negara.
**
“Hallo!”
“Sayang, anak kita belum SPP, ini ada surat dari wali kelasnya!”
“Kan sudah dikasih awal bulan?”
“Katanya hilang!”
“Kok baru tahu sekarang hilangnya?”
“Meleketehe!”
**
Sementara itu, berdasarkan analisa para ahli dan pengamat politik, terdapat kemungkinan bahwa demonstrasi besar-besaran ini sedang dimanfaatkan oleh kepentingan-kepentingan tertentu yang memanfaatkan momentum untuk mencapai agenda sendiri, yang mungkin tidak sepenuhnya selaras dengan tuntutan dan aspirasi para demonstran.
Demo ricuh di Indonesia jadi sorotan dunia, paska tiga orang tewas setelah massa membakar gedung parlemen daerah di Indonesia. Lima orang lainnya dirawat di rumah sakit. Bentrokan atara polisi antihuru-hara dan pengunjuk rasa tak bisa dihindarkan lagi, pecah jadi letusan di beberapa kota di Indonesia sejak jumat, termasuk di Medan, Magelang, Bengkulu, Tasikmalaya, Pekanbaru dan Manokwari di wilayah paling timur Indonesia.
**
“Hallo!”
“Rakyat sudah bergerak menjarah rumah-rumah target!”
“Terus?”
“Elaborasikan berita yang sedang kautuliskan itu dengan menambahkan data baru.”
“Data yang mana?”
“Yang barusan saya bilang dan yang ini, perihal tuntutan dari pendemo: Sahkan Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset. Pecat anggota DPR yang terbukti menghina rakyat atau hanya memiliki kepentingan parpol yang tidak kredibel. KPK audit segala kepemilikan harta, asset, dsb. Bebaskan pihak-pihak yang ditangkap dalam kaitannya dengan penyampaian aspirasi masyarakat pada demo 25, 28, 29, 30 dan 31 Agustus 2025. Tuntut pihak-pihak terkait yang menyebabkan kematian para pendemo!”
**
“Hallo”
“Ayah, boleh pinjam laptopnya buat presentasi proposal skripsi!”
“Sekarang?”
“Besok!”
**
Amnesty Internasional mengkritik pemerintahan Indonesia pada hari sabtu dengan menyatakan bahwa pemerintah menekan kebebasan berbicara melalui tindakan represif terhadap protes publik, sehingga membatasi kebebasan berbicara.
**
“Hallo!”
“Malam ini jadikan kita kumpul, sekalian bahas proyek yang sudah tertunda lama!”
“Proyek! Proyek apa?”
“Gorong-gorong!”
**
“Tidak seorang pun boleh kehilangan nyawa karena menggunakan haknya untuk berunjuk rasa. Pihak berwenang harus segera dan tanpa syarat membebaskan siapa pun yang ditahan semata-mata karena menjalankan hak mereka.” Jelas Usman Hamid. Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia.
**
“Hallo!”
“Kenapa yang setiap nelepon kautuliskan?”
“Masa?”
“Coba baca ulang!”
“Hahaha… kayaknya bagus juga kalau dibikin film, judulnya Balada Kuli Tinta, bos!” []










Cemerlang