BOLA |7|

filosofi bola

Kabut yang turun merayap-nempel ke tanah dengan ketinggian satu jengkal–di Lereng Gunung Agung—arakan kabut tipis itu seperti dalam sebuah adegan film misteri saja, hingga kaki-kaki Saung Pembibitan Bonsai lenyap tertutupinya, seakan Saung Pembibitan Bonsai milik Galeri Vanya Art itu melayang tak menapak ke bumi.

Dan seperti biasanya, Dom, dengan tangan yang telatennya tengah membentuk bonsai, ia seakan tenggelam dalam dunianya sendiri. Setiap guntingan, setiap sentuhan, bukan sekadar pekerjaan tangan—ia adalah wujud kesadaran yang perlahan mendewasa. Dalam kesadaran itu, bersemayam berbagai kombinasi: Kenangan yang diselipkan di antara ranting, kegelisahan yang menempel pada daun, dan bisikan-bisikan hati yang tak pernah benar-benar padam. Sebagaimana Darma yang sedari tadi ngoceh pada Avieka:

“Bagiku, ketika sumpah pemuda disusun dan digaungkan ke segenap pelosok negeri bukan hanya untuk mengusir penjajah. Sumpah pemuda itu salah satu cara dalam mengingat bahwa kita tidak sendirian, tapi sayang … kini, yang kaya punya hak membuat aturan dan yang miskin hanya wajib menuruti. Dan pertanyaan sederhananya itu sumpah pemuda katanya menyatukan semua … Nyatanya? Serbasatu itu cuman slogan yang busuk!”
“Darma, hati-hati kalau ngomong, bisa-bisa kau dicap subversif!”
“Vie, aku ini bicara fakta kini. Lihatlah tentang kerusakan alam yang terus menjalar? Belum lagi perihal korupsi, kolusi dan nepotisme. Bahkan lulusan sebuah lembaga lebih diutamakan diterima kerja ketimbang lulusan lembaga serupa. Jauhnya, di manakah taman cinta itu ada selagi sumpah pemuda masih terus ditanam dan dipupuk di setiap kalbu tunas bangsa, sementara kini mereka saling mengkhunuskan pedang dan … ah, tentu saja kalian bisa melanjutkan sendiri ke mana arah pikiranku akan berlabuhnya!” Hening. “Kenapa kalian pada diam?” lanjut sapa Darma pada Avieka dan Dom.

Avieka nampak merenung dan berusaha mengalihkan topik: “Kalau aku sih jadi teringat pada dosenku, Dr. Eko Wahyuanto yang pernah berkata; kepemimpinan yang lahir dari manipulasi hegemoni pasti hidup dengan konflik berkepanjangan, karena ia tidak lagi berdiri di atas etika akademik, tetapi di atas kalkulasi kekuasaan kelompok.” seterusnya melirik pada Dom: “Dom, kalau menurutmu?”

Seperti biasanya, Dom tak buru-buru menjawab, ia begitu asyik memainkan guntinng di tangannya, seakan tengah bermain adegan dalam sebuah teks monolog satire:

“Vie, sebenarnya saya tak ingin ikut larut dalam percakapan kalian, bukan berarti juga apatis. Toh sudah jauh hari Soekarno telah meramalkan hal ini dengan ungkapannya: Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri. Ungkapannya itu bermaksud mengingatkan bahwa perjuangan bangsa setelah merdeka itu ada pada ranah melawan kemiskinan, korupsi, perpecahan, dan kebodohan, yang mana hal tersebut jauh lebih rumit daripada melawan penjajah asing yang jelas musuhnya. Perjuangan melawan bangsa sendiri berarti harus mengatasi masalah internal seperti konflik sosial, keserakahan, dan ketidakbersatuan, yang seringkali lebih sulit karena musuhnya ada di dalam diri atau masyarakat sendiri.”
“Tepat. Ah, tapi kenapa juga ya, kita jadi ngomongin sikon bangsa, padahal kita berada di sini ini itu hanya satu kunci sepakatnya—merakit pohon untuk dijadikan bonsai!”
“Sebab begitu besarnya rasa kita dalam merasa memiliki itulah faktor utamanya!”
“Nah itu dia Dom, dari tadi aku ngoceh itu karena rasa cintaku terlalu besar, bukan karena benci, Vie!”
“Terus apa yang bisa kita lakukan, Dom?”
“Saya hanya bisa mengilustrasikannya sebagaimana pohon, menanam ulang apa pun yang tumbuh patah!”
“Jabarannya?”
“Sebagaimana kita bertiga tumbuh berbeda. Tidak seragam. Tidak serbasatu, tapi semuanya hidup dan punya kehidupannya. Dan itu yang membuat kita kuat, sekaligus kunci dari awal mulanya sumpah pemuda dicetuskan; saling melengkapi!”
“Jadi, menurutmu perihal satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa itu apa?”

Lagi-lagi Dom tak buru-buru menjawabnya, ia malah menyeduh kopi dan mencicipi sekerat pisang goreng: “Saling mengayomi. Sebagaimana tubuh kita sendiri, ada tangan, ada kaki dan ada anggota tubuh lainnya. Katakanlah ketika kepala kita terluka, otomatis tubuh lain pun bereaksi disamping ikut merasakannya. Sebagaimana kita masing-masing punya rakitan bonsainya, tapi kita saling mengoreksi, guna bisa tumbuh indah pada waktunya. Dan di sinilah letak soalnya itu ada: Kita ingin negeri ini berubah, tapi kita sendiri menolak diubah!”
“Ya … jelaslah kita bukan pohon. Karena kita tidak ingin dibentuk jadi bonsai; dipangkas, dibengkokkan, dipaksa indah padahal dasarnya luka, betul gak Vie?”

Avieka hanya tersenyum simpul, seakan tak ingin masuk dalam perdebatan. Akan tetapi Dom begitu tenangnya dalam menjawab: “Ma, coba kau lihat baik-baik pohon beringin ini. Dulunya pohon beringin ini tumbuh liar. Lalu dipangkas, dibentuk dan dibatasi, tapi apa ia mati? Tentu saja tidak. Justru ia menemukan bentuk baru.”
“Jadi kamu mau bilang bahwa kita itu harus pasrah dibentuk orang lain?”
“Tidak dan tak. Maksud saya, bonsai itu simbol. Ia beradaptasi, tapi tetap dirinya. Sebagaimana kepala kita yang terluka, kita kembali menanam ulang apa pun yang tumbuh patah. Menjahitnya luka itu ke dokter bedah. Membiarkan tumbuh dagingnya dan kulit barunya yang perlahan kembali merapat seperti semula.”
“Haduh … Dom, jangan terlalu rumit dalam membahasakannya. Pusing pula jadinya aku ini!”
“Baik. Kembali ke topik: dicetuskannya sumpah pemuda itu tidak sekadar berfungsi untuk mengusir penjajah, tapi untuk mengusir rasa sendirian. Kita bersatu bukan sekadar di perang, tapi juga di hidup dan kehidupannya!”

Dengan secepat kilat di luar prediksi Dom dan Avieka, Darma mengambil sebuah bonsai dan menghempaskannya ke ubin penuh muatan emosional: “Dan bahwa kita itu akan selalu siap memungut kembali pot yang pecah, menyusun tanah yang berserakan, dan menanam ulang apa pun yang tumbuh patah, bukan begitu Dom? Seperti negeri yang kita cintai ini: Pecah, tapi masih bisa ditanam ulang.” Lantang suaranya bak retak kayu yang tengah dipatahkan: “Aku sepakat dengan pendapatmu itu Dom, tapi di pot kecil ini aku bisa melihat simbol negeri yang tengah sakit—yang kaya dipelihara, yang patah dipotong, dan yang bengkok dipaksa lurus. Semua ingin seragam. Serbasatu. Seolah manusia bisa disamakan begitu saja!”

Seterusnnya Darma menarik napas panjang: “Maaf, kamu selalu membawa isu sebesar negara ke dalam pot kecil bonsai. Ya, tapi bonsai juga indah, Dom. Bahkan setelah dipangkas dan dikurung dalam pot, ia tetap punya cara buat tumbuh dengan jalannya sendiri.” laju Darma melirik pada Avieka: “Dari tadi itu pertanyaanku hanya satu, Vie, sumpah pemuda itu … kok rasanya hanya berlaku untuk mengusir penjajah? Apa tidak berlaku untuk memperlakukan orang-orang sebangsa sendiri sebagai … ya, manusia yang setara?”

Avieka mengernyitkan dahi sejenak, pada jejak baca ucapannya Darma yang dirasa tidak konsisten, akan tetapi Avieka tetap menjawabnya dengan bijak: “Pertanyaanmu itu berat, tapi bagus, dan jawabannya mungkin ada di bonsai juga!”
“Apa maksudmu, Vie?”
“Begini Ma, kita tidak bisa memaksa batang tumbuh sama, tapi kita bisa merawatnya supaya masing-masing tumbuh dengan bentuk yang paling ia sukai. Yang paling ia bisa. Yang paling ia jujur. Justru kalau tiap batang punya konflik batin, bonsai lebih hidup. Dan satu hal yang harus kau ingat, aku tidak bilang karakter itu tidak penting. Bukan begitu Dom?”
“Mungkin itu yang kita lupa; kita cinta negeri ini, tapi negeri ini terasa makin seperti pasar besar. Kumuh, semrawut dan penuh teriakan. Terbuka untuk siapa saja, tapi juga bikin semua orang saling tindih! Dan selama kita masih mau duduk bareng, berdebat, merawat sesuatu bersama … mungkin itu cara kecil kita dalam menjaga sumpah pemuda itu tetap hidup!”
“Jadi, ceritanya kita ini tiga orang yang berusaha menjaga negara lewat spot bonsai?”
“Lewat banyak hal, Ma. Termasuk dari mulutmu yang cerewet itu, dan dari analisamu yang kelewat psiko-sosial.”
“Sepakat Dom!” sambar Avieka, “Ma, inti masalahnya bukan itu. Kau terlalu sensitif soal negeri ini. Semua kau kaitkan ke ranah politik, ke arah kelas sosial, ke substansi sumpah pemuda. Bagiku, itu hanyalah obsesimu!”
“Tapi kenyataanya di negeri ini, dengan masyarakat manusianya yang berbangga-bangga, dan selalu mengagulkan memiliki sumpah pemuda—yang isinya pernyataan dan pengakuan serbasatu itu—toh kenyataanya tetap saja … manusia dikelas-kelaskan … dikategori-kategorikan!”

Avieka mendekati Darma yang diikuti Dom: “Ya, kita semua tahu hal itu, Ma. Ada si menak sampai cacah. Ada yang sekolah pakai biaya selangit, hingga ada yang menyebrang sungai hanya untuk sampai kelas, dengan bertaruh nyawanya sendiri. Ada yang punya hak bikin peraturan sampai ada yang hanya dapat kewajiban menuruti. Aku pikir semenjak kita ngobrol sudah dapat jawabannya dengan jelas. Kuncinya bergantung pada kita bersikap!” seterusnya Avieka menatap Dom, sambil memegang pundaknya Darma, seakan meminta persetujuan dan Dom mengangguk dengan begitu pelan:

“Bahkan pohon pun tak mau kau dramatisir terus. Lihatlah rantingnya yang melengkung, seperti tubuh aktor yang menolak takdirnya. Ini bonsai, bukan skenario besar. Dan kau pernah berkata padaku, bahwa; bonsai itu tentang keseimbangan. Tentang struktur. Tentang memahami dinamika psikologi tanaman. Bukan tentang monolog eksistensial. Ma, apa kau lupa pada ucapanmu sendiri di itu waktu?”
“Vie, memangnya negeri ini bukan drama besar?”
“Ma, sudah aku bilang bahwa kuncinya itu bergantung pada kita bersikap. Dan kau pun pernah berkata: Terkadang drama diperlukan demi menjaga stabilitas dan keamanan negara dari rongrongan yang ingin menghancurkan sistem yang sudah berjalan—demi arah masa depan yang sudah jelas terkonsep dengan baik. Apa kau lupa juga pada ucapanmu itu?” []

AKAR |5|
Baca Tulisan Lain

AKAR |5|


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *