Di segenap canal-canal televisi, serempak memutar satu tajuk kasus perkara yang digelar secara terbuka. Para penonton yang menyaksikan berita itu sepakat berkesimpulan bahwa data sama drama kalah. Aku sebagai pemilik warung kopi, ya setuju-setuju saja pada mereka. Bukan apa dan kenapa, toh pepatah berkata: pembeli adalah raja. Iya kan? Jadi sudah sewajarnya aku melayani mereka plus turut serta larut dalam euforianya.
Bagaimana aku tidak membahagiakan mereka, toh aku sendiri amat sangat bahagia dengan daganganku yang laris manis itu bukan sekadar kopi saja yang dibeli: Secara otomatis ketika jiwaku bahagia, mereka pun ikut merasakan betapa aku melayani dengan penuh suka cita.
Inilah yang bernama bisnis itu: konsumen puas atas produk dan pelayanan, penjual untung besar ditambah lagi mendapatkan bonus, terlebih dari langganan setia. Sama-sama nyaman dalam ruang dan waktu yang begitu kondusifitas.
Terlepas di satu detik ke depan yang entah kapan itu terjadi, misalkan; apakah alur sidang yang disiarkan di canal-canal televisi itu akan serentak pula mengabarkan laju perjalanan narasinya berubah? Berubah dan tidaknya alur persidangan itu mutlak urusan mereka yang bermasalah dan mereka yang berkuasa dalam memangku kebijakan dengan ragam profesi dan tanggungjawabnya pada penghuni bumi pun pada pemilik semesta.
Sebentar: Data sama drama kalah? Baluh maksudnya? Ah, nasi basi pun bisa jadi aron, masih enak untuk dihidangkan dengan semangkuk bakso? Sebaiknya aku kembali fokus pada jualan bakso dan kopi saja dengan cita rasa tetap loma di lidah alias tak berubah, dan harga mah angger we nu bareto dengan pelayanannya full prima. Ada pun untuk daftar menu lainnya yang dijual, hanya sekadar pemanis saja :
Bismillah []









