ARSITEK |6|

cerbung ARSITEK

Gerimis tipis di sore itu seperti dry ice smoke yang menyelimuti panggung pertunjukan teater. Likat aroma tanah gunung yang basah menembus celah lantai kayu Saung Pembibitan Bonsai milik Galeri Vanya Art yang terletak di Lereng Gunung Agung. Area pembibitan pohon bonsai itu dibangun bak tempat meditasi yang tak ikut sibuk menimbang hiruk-pikuk peradaban zaman. Dan dari luas udara yang membentang tanpa ujung, terdengar suara-suara ragam burung dari kedalaman rimba gigantik Gunung Agung itu begitu nyaring bersatu dengan desir angin yang disepuh risik dedaunan.

Sudah tiga waktu, di saban hari minggu, Avieka datang ke Saung Pembibitan Bonsai dengan alasan ingin belajar merakit sebuah pohon sampai menjadi bonsai. Dan simfoni alam seakan ikut berlatih improvisasi pada kegelisannya Avieka yang tersembunyi bak kabut yang tak bisa digenggam, tapi nyata ada dan terasa. Bisa jadi, kegelisan yang disembunyikannya itu untuk sebuah pementasan yang tak pernah diumumkannya.

Avieka yang duduk di meja kerja bonsai, sambil menatap tajam sebuah Pohon Cemara Sinensis dengan batang yang condong miring ke arah barat dari ia terduduk dalam gemingnya. Condong batang pohon sinensis itu seperti tubuh demonstran yang sudah terlalu sering mendorong atau menangkis arah mata angin politik yang begitu cepat berbalik bak kilat petir dalam merubah arah sambar.

Tanpa sepengetahuan Dom yang lagi asyik dengan Pohon Klampis, tajam sorot matanya Avieka begitu kuat menatap ke arahnya. Laju Avieka bertanya dengan notasi pelan bermuat letupan yang nyaris tak terbendung: “Dom, setiap kali aku mencoba belokkan dahan dan rantingnya kayak gak mau, apa aku salah teknik atau pohonnya yang keras kepala?”

Dom yang begitu tenang menggerakkan lehernya guna bisa melirik ke arah Avieka yang diselingi dengan meneguk sisa teh hangat yang tertampung di dalam cangkir batok kelapa. Laju tersenyum balik menatap Avieka begitu hangat. Ya, Dom sebagai lulusan sarjana teater, sudah jadi kebiasaannya jika ia bicara selalu dibumbui laku teatrikal, sepertihalnya Iman Soleh. Tatapannya penuh makna yang dipadukan dengan lentur gerak tubuhnya dan narasi-narasi yang dibangunnya bak dialog naskah drama yang belum menjadi magma:

“Ya, bisa jadi batang pohon itu keras kepala sepertimu. Ah, lupakan. Sebenarnya pohon itu butuh alasan untuk berubah, seperti kita … khususnya dirimu. Hahaha… hahaha… Ups. Anggap saja dialog itu tak pernah ada,” sambil menarik napas panjang dengan sorot mata setajam elang: “Intinya itu janganlah kau terlalu cepat dalam menarik kesimpulan, oke!

“Kamu ini bagaimana sih Dom, aku ke sini itu saban minggu; jauh-jauh dari Bandung, buat belajar bonsai, bukan untuk terapi kognitif perilaku!” jawab Avieka dengan ledak suaranya yang menggelegar, sebagai mana mayor perempuan yang tak pernah mau salah, meski salah dalam menafsirkan.

Mendengar jawaban Avieka seperti itu, justru ledak tawa Dom kian menjadi: “Sebaiknya simpan dulu basismu sebagai sarjana psikologi, sebab kita terkadang lupa bahwa tidak semua yang hidup itu bisa dibaca menggunakan teori. Terkadang ada yang cukup untuk didengarkan saja!”

Hening bertilam hening. Rinai gerimis yang perlahan-lahan menjadi deras hujan mengetuk-ketuk atap Saung Pembibitan Bonsai dengan pola notasi acak dalam ritmenya, seperti tabuh genderang perang yang begitu nyaring menawarkan ragam tafsir.

Kembali Avieka membuka percakapan dengan suara lebih rendah, seakan mengakui akan kesalah- pahamannya itu: “Kalau boleh jujur, fokusku sedang mengarah pada yang lain, yaitu negara. Ya, negara kita ini tak ubahnya seperti bonsai yang dipaksa bengkok sesuai dengan selera segelintir orang. Dan aku enggak tahu, kenapa hidup dan kehidupan di negara kita ini, khususnya akhir-akhir ini semuanya terasa berat!”

Mendengar ucapan Avieka yang nampak serius, sejurus pandang tangan Dom pun berhenti dalam memainkan gunting, laju menaruhnya di atas meja. Sementara Avieka menarik napas panjang, menghembuskannya ke udara terbuka, laju melanjutkan percakapannya:

“Dom … Masih ingat banjir bandang minggu lalu? Percaya atau tidak, bahwa hal itu bukanlah murni bencana alam, tapi hasil dari penggundulan alam selama bertahun-tahun. Dan kau tahu, tambang-tambang liar itu dapat izin aspal; asli tapi palsu yang disebarkan bak brosur kampanye di bawah meja!” Dom yang mengangguk lemah, dan Avieka yang terus bersuara: “Dan yang sangat paling mengerikannya itu di sini Dom, publik percaya—mereka digiring pada pikir bahwa hal itu harga yang wajar untuk kemajuan.”

“Hahaha…” tawa Dom yang hambar terasa pahit dalam pandang Avieka; “Ya, desain opini yang menyelimuti alur penjarahan dengan lakon besar. Dan tentu saja kau lebih tahu itu bahwa naskahnya ditulis oleh yang ahli dalam memainkan psikologi massa. Maaf, sebagaimana kau yang ahli dalam membaca perilaku manusia!”

“Ya, dan bukan sekadar psikologi massa, tapi sudah masuk ke dalam ilusi kolektif, Dom. Dan tentunya kau masih ingat pada janji-janji di saban kampanye yang digelembungkan iklan di ruang-ruang publik dan di ruang-ruang media massa itu bak letus balon di udara. Sistem nilai yang ditawarkan para balon itu … tak pernah benar-benar menyentuh realita yang ada di dalam hidup dan kehidupan rakyat dan masyarakatnya!”

“Dan itu yang bernama salah satu variable penting keberhasilan dalam kepemimpinan, Vie? Sistem nilai. Jika nilai yang ditawarkan sekadar slogan, maka kepemimpinan tak akan pernah bisa mengubah apa pun secara signifikan. Meski memang ada yang berubah, sih … ya … spanduk di pinggir jalan!” sela Dom.

Dari lengkung langit, hujan kian menebal, laju seketika kembali menipis, melemah dan kembali menebal bak emosi penonton yang terseret hanyut dalam gelombang konflik pada sebuah alur lakon drama pemberontak di atas panggung:

“Dan jangan lupa bahwa tipe kepemimpinan itu punya lima lapis: fighter, leader, manager, operator, dan janitor. Katakanlah kalau … kita berfungsi sebagai operator, maka pertanyaan sederhananya itu operator dari siapa?” tukas Dom

“Dan jangan lupa arsiteknya siapa?” sambung Avieka. Dom hanya tersenyum tipis saja sambil menimpali: “Nah, siapakah dia? Ah, terangnya itu, disitulah pertanyaan yang paling banyak dihindari orang!”

Saung Pembibitan Bonsai kembali hening sejenak. Asap kabut yang mulai meluncur turun menuruni bukit dan terus menjalar ke kebun-kebun yang ada di lereng, pelan-pelan mulai menjengkal-sentuh pohon-pohon bakal bonsai yang berbaris rapi seperti pasukan kecil grilyawan yang menunggu komando:

“Vie, bilamana kerusakan alam itu bukanlah kebetulan, tentu saja ada yang mengaturnya. Jauhnya itu ada arsiteknya yang memilih untuk menebangi hutan, mengeringkan sungai-sungai dengan memanipulasi narasi. Tegasnya itu ada tangan-tangan yang sengaja tengah membengkokkan negara ini menjadi bonsai milik mereka.”

Avieka menunduk laju buku-buku jemarinya menyentuh sentuh batang pohon sinensis: “Dom, sejujurnya aku kembali mendapat telepon dari perusahaan tembang itu … mereka memintaku untuk kembali menduduki posisi hrd. Di sisi lain, di sini, selama tiga kali pertemuan, kini aku lebih paham perihal akar pohonan, bahwa tak semua akar pohon itu bisa menahan abrasi!”

Fluktuasi curah hujan seakan ikut mendengarkan dengan kian derasnya turun, seolah menggila memukul-pukul atap Saung Pembibitan Bonsai, suaranya yang gemuruh itu seperti stadion sepak-bola yang riuh oleh penonton, tapi tak terlihat. Di satu sisi Dom menajamkan tatapannya: “Kau akan kembali ke sana?”

“Kan sudah aku bilang sebelumnya, bahwa aku sudah resign tiga tahun yang lalu … kini aku bingung dengan tawaran itu …”
“Bilamana kau kembali dan menjadi salah satu penguat arsitek yang salah?”
Kembali Avieka memejamkan mata, entah untuk kesekian kalinya: “Tentu saja, aku sadar akan hal itu, tapi hidup harus realistis; perlu uang!”
“Kata Tatang Macan itu bukankah uang bisa dicari, tapi integritas, tak bisa tumbuh kembali seperti akar bonsai yang dikebiri!”

Keheningan kembali meruang. Desir angin yang bertiup setengah hati, membawa aroma pinus, likat tanah yang disepuh notasi getir dari hutan yang terluka. Seiring hujan mereda, di atas dahan-dahan burung-burung nampak bertengger. Dom yang sedari tadi curi-curi pandang pada Avieka, bangkit dan mendekat, suaranya lebih lembut, bak tengah berperan sebagi seorang bapak pada anaknya yang masih rawan dalam pemikiran:

“Kini saya tahu, kau datang ke sini selama tiga hari di tiap minggu, sesungguhnya bukan untuk belajar merakit bonsai. Dan saya, sudah tak asing lagi dengan lakumu itu. Ya … Seperti biasa kau tengah mencari celah atau tengah mencari arah. Tegasnya, kau sedang menimbang alur hidupmu sendiri: Mau tetap jadi operator atau mulai jadi arsitek bagi hidupmu sendiri?”

Sepasang bola mata purnama Avieka yang sedari tadi terpejam kembali membuka, tapi tak mau menatap balik Dom, pandangannya fokus pada Pohon Sinensis: “Dom, … bolehkah aku mencoba sekali lagi untuk membengkokkan dahannya?”

“Seperti itulah perempuan. Di mana-mana sama,” bisik batinnya, laju tersenyum hangat dipungkas jawab: “Tentu saja boleh, kapan pun kau mau, boleh … tapi untuk kali ini jangan terlalu dipaksa, bisa patah seperti perempuan… ups … maksudnya dengarkan dulu apa yang dia mau … ikuti alur atau arahnya, ke mana ia ingin dibengkokkannya. Singkatnya, kau harus bisa mendengarkan napasnya!”

“Maksudmu itu apa sih, Dom?” jawab Avieka sambil mengernyitkan dahinya.
“Eeeu… ya, kau boleh membelokkan pohon itu, bahkan merubah arahnya juga, tapi kali ini jangan memakai kacamata psikologi, coba pakai naluri manusia yang ingin ngerti makhluk lain—dengarkan dia. Atau kita coba kembali ke tema: Kalau kita tidak mengerti design besarnya, kita ditukangi orang lain, artinya itu diatur, debelokkan, dibentuk. Sama seperti bonsai yang kau paksa tanpa kau pahami sedikit pun. Bedanya itu manusia sering tak sadar sedang dibentuk, bahkan bangga meski jadi peluru!” tukas Dom.
“Baiklah, tapi kalau dia masih ngeyel?”
“Berarti dia itu kembaranmu, hahahaha ….”
“Semprul lho ehehehe …”
“Maaf. Ya, kalau batang pohonnya masih ngeyel, artinya pohon sinensis itu sedang menguji siapa yang mau bangkit dan siapa yang mau pasrah!”
“Baiklah!”

Avieka kembali memejamkan mata, sambil mengelus-elus pelan batang sinensis penuh muatan perasaan, seolah meminta izin. Dahan itu melentur, lebih lentur dari sebelumnya seakan batang pokok sinensis itu merespon sentuhan dari tuannya yang baru—sebelum melayu di bumi—sentuhan yang datang dari seseorang yang akhirnya menemukan kesadaran:

“Dom … aku gak akan kembali ke sana. Aku tak mau lagi jadi bagian dari kerusakan yang dibungkus dengan janji pembangunan!”
“Itu pilihan seorang arsitek!” jawab Dom dengan tegas.
“Arsitek?”
“Ya. Arsitek!”
“Maksudmu itu apa sih Dom? Begini ini nih kalau ngomong sama orang teater berbasis sastra!”
“Maaf, saya lupa, harsunya saya tak menggunakan bahasa simbolis. Begini; seperti yang kau tahu sendiri bahwa arsitek itu bukan sekadar pembuat rancangan. Artinya dia itu sudah memilih nilai sebelum memilih jalan. Dia sudah menentukan bentuk masa depan sebelum tangan lain melakukannya. Artinya, ketika kau menolak bukan karena takut, tapi kau memilih fondasi yang benar dan memutuskan arah.” Seterusnya Dom menunjuk batang pokok dan dahan sinensis yang mulai terbentuk oleh tangan dinginnya Avieka: “Lihatlah baik-baik pada apa yang sudah kau lakukan dengan tanganmu ini; kebanyakan orang itu hanya melihat batang pokok pohon yang masih kecil, sekadar dibengkokkan, tapi arsitek sudah melihat apa jadinya sepuluh tahun dari sekarang!”
“Tapi aku takut salah membelokkan!”
“Hidup bukan pilihan, tapi hidup menyuguhkan begitu banyak pilihan. Lihatlah dengan keputusanmu yang membelokkan batang sinensis itu ke arah kanan, tanpa disadari kau sudah mengambil garis pertama dari hidupnya yang baru. Kau sudah bukan lagi operator, melainkan tengah merancang, memilih dan mengubah. Dan itu … itulah pilihan seorang arsitek. Dan satu hal yang harus kau ingat; jangan pernah merugikan orang lain!”
“Tapi pohon itu terluka, merugikan juga kan?”
“Luka yang menjadi indah di masa depan itu lebih baik ketimbang luka untuk terpuruk. Sepertihalnya kau pernah mukim di pesantren!”

Detik yang terus melaju. Hujan yang benar-benar berhenti. Kabut yang menuruni lereng kian menebal seolah sapuan kuas dalam lukisan panorama karya Barli. Saung Pembibitan Bonsai itu jadi saksi kunci dua percakapan bayang yang sedang belajar menjadi arsitek hidup mereka sendiri. Dan di antara garis-garis batang, dahan dan ranting yang melekuk-liuk dengan halus itu jadi penanda bahwa sebuah tekad tumbuh. Pelan. Namun pasti, seperti jalar-jalar akar yang mencari tanah terbaiknya.

Sebagaimana Avieka di itu sore yang tahu arah hidupnya akan ke mana; ia tak akan pernah lagi membiarkan alur hidupnya dipangkas lagi oleh tangan-tangan asing. Putusannya sudah bulat dalam jelas, memilih jadi arsitek untuk hidup dan kehidupannya sendiri. []

PUCUK |4|
Baca Tulisan Lain

PUCUK |4|


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *