ANOMALI

ANOMali

Kenapa aku selalu ada di itu ruang dan peristiwa, seperti judul film saja: “Surga yang Tak Dirindukan”. Adakah ini jalan yang mutlak dari Acintya bahwa untuk menjadi bintang, bukanlah hal yang mudah. Jangan bertanya tentang pukang kalaulah mudah terkimbang. Bayangkan saja: Canggih. Disiplin dan berstruktur seperti korporasi. Sebagaimana diksi cinta yang bisa menyimpan makna pencuri buaian dan atau sindikat. Sindikat ini bukan preman.

“Keabadian ada pada rakit kata, jadi wujud sebuah karya. Selamat berkaca dan membaca sepenuh rasa dalam memahami jiwa!” sebuah suara yang tak asing, yang datang dari bilik hari, Kembali hadir seketika—terdengar menembus pendengaranku. Adakah aku harus kembali membuat karya? Entahlah!

Untuk makan saja sulit. Belum uang jajan anak-anak dan istri. Bukan keluh, tapi fakta. Lupakan. Kenapa Acintya begitu senang aku menjadi saksi liputan untuk mewartakan kembali ke segenap arah mata angin, yang mana tanpa penampakanpun, sebenarnya sudah bisa terbaca dalam atmosfer batin. Kenapa pula Acintya memberikan dua cermin lahir dan batin sekaligus padaku, adakah dengan tujuan untuk lebih memperkokoh benteng iman? Entahlah.

Akan tetapi, seperti dinding yang retak akibat gempa atau benturan, selalu ada garis serupa rambat akar yang tak putus dari sumber. Seperti itulah membaca sejarah dari sekunder sampai menjadi konsumer dalam dedah pamer, hingga meluber dalam momok mulut ember sampai menjadi jember yang sember.

Kenapa pula jadi teringat pada sejumlah lakon drama yang pernah aku tulis? Ya, terkadang, dalam sebuah teks lakon drama: Darma dan karma bisa berjalan beriringan pada utuh sebuah tubuh tokoh dalam lakon teks drama tersebut. Jadi—bisa dikata—bahwa; memahami sebuah lakon teks drama bukan sekadar mengerti, tetapi bagaimana musti bisa paham, ketika sang aktor hendak mengaplikasikannya dalam berperan laku tokoh.

Bermain peran bukan hanya soal olah rasa dalam gerak laku, melainkan juga harus mampu disiplin, kepekaan dan juga kepedulian pada atmosfer lakon teks itu sendiri. Berperan adalah perang dengan diri sendiri dan lawan main. Apakah sampai di sini sudah cukup? Belum. Lalu? Berproses dalam kreatif; eksperimen dan eksplorasi. Carilah jawabannya di situ.

Kenapa pula aku teringat pada sejumlah puisi yang kutulis? Ya, pada kesunyataanya bahwa sebuah puisi selalu lebih panjang dari usia penyairnya. Tubuh utuh puisi tak ubahnya sebuah peta yang mampu menawarkan musim lain dalam jalan kehidupan. Dulu, jauh sebelum rasul tiba di bumi; sebuah syair mampu meninggikan sekaligus merendahkan martabat seorang, dan posisi penyair dimulyakan.

Bisa dikata, bahwa dulu, lebih jauh sebelum aku terlahir ke bumi; sebuah syair dibuat tak ubahnya inti dari sebuah bisnis; memberikan solusi dari masalah yang dibutuhkan pembeli. Barangkali dengan maraknya kejadian dalam momok puisi di ini zaman kesempurnaan agama, serupa siklus kelahiranku; dari mulai merangkak sampai uzur, seolah tubuh puisi yang kembali ke asal: Menjelma syair yang mampu diperjual-belikan demi kepentingan-kepentingan pihak tertentu.

Barangkali atau boleh jadi, yang menjadi kemungkinan dan kemungkinan yang terus beranak-pinak, yang menjadi mungkin, bahwa; jalan serangan ghazwul fikri [1] tengah dibangun sekaligus dijalankan dalam upaya membentur-benturkan ragam nalar supaya terpetak-petak, seperti apa yang pernah terjadi di Spanyol, pada tahun 1942, berbarengan dengan ibu mendarat di bumi; jadilah sebuah sejarah kelam dari sababiah april mop yang tak banyak orang tahu.

Tidak dan tak! Sebaiknya aku bersepakat pada kamus, bahwa makna kata puisi dan syair itu berbeda, meski arti turunannya ada yang menjadi sifat sinonim. Ups, mungkin juga fenomena yang tengah naik daun ini, ada udang di balik batunya, dengan tujuan menguburkan isu lain, semisal. Bisa jadi, puisi yang tengah hangat menjadi momok ini hanyalah wujud dari syairi, bukan utuh tubuh syair, puisi atau sajak itu sendiri.

Ya, seperti aku pernah berkata dalam sebuah kelas penulisan, bahwa; menulis puisi itu mudah, tapi untuk memuisi itu sulit. Jika demikian adanya, bisa jadi juga, aku tengah berada dalam jebakan napas saru yang mana nalarku menganggap tidak sopan dalam membaca sebuah umpan? Ya, namanya juga umpan opini dalam wadag puisi, sehingga nalarku terjebak pada makna puisi, sajak atau syair yang sebenarnya jika diselami hingga ke lubuk kata sesungguhnya hanyalah syairi yang tak perlu diperdebatkan dalam momok noda sastra.

Tetapi, lamat-lamat persoalannya bukan hanya di tingkat itu saja; kini, momok puisi yang bertubuh syairi itu, napasnya kian menggelandang ke banyak ruang-ruang sensitif umat. Apa yang harus diperbuat? Barangkali, pepatah lama bisa dijadikan pijakan dalam menyikapi fenomena momok puisi ini: Kawal-lah rindu dengan doa, kawal-lah cemburu dengan bersangka baik, kawal-lah kemarahan dengan wudu, kawal-lah nafsu dengan iman, dan mari-lah hijrah; jangan terjebak dengan momok saru.

Ya, seperti keyakinanku, bahwa semua orang bisa hijrah, tetapi tidak semua bisa istikamah dalam napas hijrah. Wahai diri, mari kita belajar memahami makna bahagia secukupnya. Sedih seperlunya. Mencintai sewajarnya. Membenci sekadarnya, tetapi, bersyukurlah sebanyak-banyaknya. Ups, ada yang lupa; seperti Sarabunis Mubarok yang pernah menulis di itu waktu, bahwa: Judi, mabuk, dan zina itu sesungguhnya tidak haram. Toh, haram itu bagi yang beriman dan bertakwa secara kaffah.

Tetapi iman tanpa cinta itu binasa. Begitu juga takwa tanpa istikamah itu musnah. Barangkali, gambaran inilah yang tengah dipertontonkan dalam momok puisi yang bertubuh syairi itu, dan aku cukup sebatas membacanya saja untuk dijadikan bahan tafakur. Selebihnya, biarkan Acintya sebagai Yang Maha Pemilik Benar, yang bicara di satu detik ke depan.

Bisa jadi, dengan adanya momok puisi ini, jangan sampai aku menjadi terpecah dan kabur fokus pada yang semestinya harus diwaspadai dalam langkah kawal kasus. Ingatlah wahai diri, bahwa pepatah tak prnah salah: “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Mari istikamah dan selalu waspada dari ragam umpan tipu daya hidup dan kehidupan dalam situasi dan kondisi yang tak seimbang ini.

Ah, kenapa pula aku teringat pada Abah Yusuf Qodir Munsi yang pernah berkata: “Puisiku, puisimu atau meureun kerjakan pekerjaanmu, pun moal mengatakan keragaman suku, agama adalah Indonesia. Atau dalam sikon tertentu saja, apa pun tidak bermasalah, tentu termasuk puisi. Ya di Indonesia begitu. Ya sirah teh pinter, tapi oge sirah medu asup pengertian. Tah kurang apa ya?”

Ucapnya itu masih terngiang dengan jelas, kala aku masih nyantri di rumahnya, sembilan puluh enam purnama yang lalu. Dan kini, Pakesit berkata: “Di matanya tak ada marah, hanya air mata yang paham, bahwa hidup adalah debu dan Tuhan adalah angin yang menghapusnya.”

Terang dan jelas; hari-hari yang dilewati manusia itu, tak ubahnya puisi. Ya, kita sebagai penghuni bumi; Hari-harinya adalah puisi. Langkah-langkahnya menyulam narasi. Alur membacanya mengurai tangis. Akan tetapi logikanya sudah bolong dari awal:

Lakban di kepala dan di mulut itu gaya bunuh diri yang paling aneh. Perlu effort dan insting menyiksa diri sendiri yang tak biasa atawa istimewa, sebab tangannya harus bisa melilitkan lakban di kepala dan mulut dengan rapi: Mayatnya ditemukan dalam keadaan tertutup selimut, di kamar kost sederhana di Menteng dengan narasi resmi:

Bunuh diri. []

[1] | gazwatul fikri [1] :  strategi terbaru musuh-musuh Islam dimana menyerang Islam tidak lagi menggunakan senjata, berhadapan tapi dengan jalan pemikiran dan budaya.


Apakah artikel ini membantu?

One thought on “ANOMALI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *