PERANG DINGIN

GENCATAN SENJATA 2

Meski di musim penghujan, tetapi hari ini terik Mentari begitu terang yang dipertegas dengan sepasukan awan yang berarak tak menunjukkan akan adanya turun hujan. Sore itu akhirnya kami bertiga memutuskan untuk bertemu di sebuah kedai yang ada di dalam sebuah mal. Kedai itu bernama kedai Ramasra, akronim dari ragam masakan serba ada, yang menjadi tempat favorit kami untuk kongkow.

Tentu saja menjadi favorit, sebab kami tak perlu susha-susah apa lagi berganti tempat. Bahkan untuk mencicipi secangkir kopi ala café yang diracik oleh seorang baristra professional pun tersaji. Pokoknya komplet. Di situlah titik kumpul kami yang mana hal ini pun tidak merepotkan suami, kala mereka hendak mencari kami. Ya, ketika kami tak ada di rumah pastilah tengah berada di kedai tersebut.

Para suami kami sudah paham atas aktifitas rutin ini. Bahkan membuat group WA segala dengan jumlah anggotanya hanya enam orang saja; kami dan para suami. Begitu melihat Mawar yang melambai dari kejauhan dengan senyum lebarnya, dan Rose sudah duduk manis dengan pose siap mendengarkan gosip. Ya, aku tahu—bahwa hari ini akan menjadi hari yang epik dengan ragam cerita, seperti indahnya warna pelangi paska turun hujan.

Meja bundar yang seharusnya cukup untuk menampung duduk empat orang, rasanya terlalu sempit, ditambah lagi dengan akan datangnya ragam makanan yang akan memenuhi ruang meja dan segunung cerita yang siap meletus. Ya, sebabnya topik obrolan kami tak pernah mengenal batas; melompat dari satu kisah ke kisah lainnya, yang nyaris tanpa jeda. Mulai dari drama perselingkuhan ibu-ibu komplek dengan teman sekantornya.

Resep makanan leluhur yang tak pernah gagal dalam basi. Sampai dengan teori konspirasi yang paling mutakhir di zaman ini: Kenapa Walang Sangit kala terbang selalu hinggap di tubuh kita bahkan tak jarang mendarat di wajah, yang akhirnya kita menimpuknya sampai aroma tubuh kita menjadi bau? Inti poko bahasannya itu tak jauh dari seputar perihal yang demikian pun tak luput dari telisisk kami dalam analisa yang lebih mendalam, meski pada ujung simpiulnya sekadar untuk mecari bahan tawa.

Bahkan orang-orang yang secara kebelulan melewati meja kami, tak luput pula dari telisik dengan menyisakan sajian komentar konyol. Ngomong-ngomong tentang hidangan, tak terasa hidangan kami pun ada yang masih belum termakan, disebabkan terlalu asyik saling melelang cerita dengan ragam tanggapannya yang saling tindih menindih bak anggota para dewan saja kala rapat cabinet dalam menangani satu kasus krusial.

Namun, lama-lama hidangan itu habis juga akhirnya. Dan entah untuk yang keberapa kalinya kami memesan makanan. Terang dan jelas itu meja sudah dipenuhi dengan piring, gelas dan plastik kosong yang menyisakan lemak sisa dari bumbu. Hidangan nasi habis beralih pada kentang goreng yang pedasnya nagih, tapi ludes juga tanpa sisa. Ya, seperti itulah kalau kami sudah bertemu. Seolah esok hari. kami tak akan menemukan makanan lagi yang dibumbui ragam cerita.

Perut kenyang. Hati senang, tapi kami masih enggan beranjak dari sana, mata masih betah mengamati orang-orang yang lalu-lalang di mal tersebut. Meski tak ada konspirasi sebelumnya, kami seolah sudah berjanji tak akan beranjak dari sana sebelum kami diusir paksa atau setidaknya lampu kedai mulai padam satu persatu, penanda jam tutup sudah tiba. Akan tetapi waktu tak pernah punya empati. Detik jam terus berputar dan pada akhirnya kami harus mengalah.

Di rumah, barangkali suami sudah menanti dan anak-anak yang tak terjaga, meski ada asisten rumah tangga; “Oke, guys, waktunya bayar, nih!” seru Rose dengan nada ceria, sambil merogoh tas tangan mungilya yang ukuran tasnya tersebut sangat jauh dengan ukuran tubuhnya yang lebih subur dariku. Pada akhirnya keceriaan yang tadi kami bangun perlahan-lahan lenyap begitu kami melakukan pengintaian dengan secara dalam; kala merogoh se-isi ruangan tas kami masing-masing.

Satu kartu, dua kartu, tiga kartu; nihil! Tak ada satu pun kartu debit atau kredit kami yang bisa digunakan. Aneh! Bayangkan saja, layar mesin EDC di meja kasir menunjukkan pesan horor dengan huruf merah menyala dalam format kapital: “TRANSAKSI DITOLAK”. Otomatis wajah kami berubah pucat pasi, beda benar dengan beberapa detik berlalu yang masih kompak ceria. Rasa nyaman dalam kenyang yang tadinya begitu nikmat terlakoni, kini terasa mencekik.

“Sudah main terror. Pasti ini ulah para suami kita!” selidik Mawar. “Ya, meraka pasti kompak memblokir kartu kita, sebagai balasan atas aksi kita yang kompak demo uang belanja seminggu lalu di group wa!” tegasnya penuh dengan keyakinan. Sementara aku dan Rose saling bertatapan, sambil mengingat kejadian seminggu lalu, sebelum akhirnya kami tertawa bersama: “Bagaimana kalu kita cuci prieng saja? Ya, memang ini sebuah skenario terburuk yang akan kita kerjakan!” sela Rose.  

“Memangnya kita ini sedang syuting film komedi apa?” tepis mawar. Benar juga, bawa kami tidak sedang bermain film komedi. Singkatnya, dengan penuh rasa malu yang menyeruak hingga ke ubun-ubun, kami akhirnya kompak menghubungi suami masing-masing. Debar jantungku berdetak kencang, seperti halnya pertama kali jatuh cinta, kala menunggu balasan dari suami. Tidak lama dari sana, notifikasi WA berdering hampir bersamaan di gawai kami. Kami menerima pesan dengan kalimat yang sama persis: “Perlihatkan WA ini ke kasir. Nanti kita yang bayar. Jangan lupa kuruskan badan!” yang diakhiri dengan emotion senyum mengejek.

Tak ada satu pun diantara kami yang mau memperlihatkan pesan singkat itu pada kasir yang parasnya menawan hati, disamping ramah dalam melayani kami. “Kalungmu besar Rose!” ucap Mawar. Mendengar ucapan tersebut, sejurus pandang Rose menatapku, lalu melirik kalungnya. Kami membaca ada perang batin yang hebat di matanya; antara harga diri, dengan nilai sentimental kalung warisan dari leluhirnya, serta martabat perut yang sudah terlalu kenyang.

Aku masih ingat benar bahwa kalung tersebut merupakan jimat keberuntungannya Rose. Rose sendiri yang bilang di itu waktu pada kami. Namun apa dikata; martabat pribadi dan perut yang kenyang sudah berteriak meminta pengakuan. Akhirnya dengan berat hati, Rose melepaskan kalung keberuntungannya. “Demi harga diri kita, silahkan ambi! Dan aku pastikan, suamiku akan tahu akibatnya!” jawabnya dengan penuh kepasrahan, meski ada nada ancaman di kalimat terakhirnya.

Aku pun menerima kalungnya dan bergegas pergi dari sana, sementara Rose dan Mawar sebagai jaminan. Secara kebetulan, tepat di perempatan jalan yang tak jauh dari mal tersebut, ada banyak Toko Mas yang berderet. Aku tak berniat menjualnya, hanya sekadar menggadaikannya. Dengan langkah semangat empat lima akhirnya aku sampai di sana. Akan tetapi, taktir memang gemar mempermainkan kami—tak ada satu pun Toko Mas yang buka. Ah, kenapa pula menyalahkan takdir? Bukankah kami yang tak pernah ingat waktu?

Bukankah ini jam toko sudah waktunya tutup? Sekembalinya aku dari grilya; roman Rose dan Mawar kembali melayu—tak ada pilihan lain—selain kalung Rose sebagai jaminan untuk disimpan oleh kasir. Hanya itulah satu-satunya sebagai jalan terbaik dengan modal saling menanamkan kepercayaan. Singkatnya, di parkiran mal yang sudah sepi oleh pengunjung, kami punya kesepakatan, mulai dari malam ini resmi gencatan senjata. Tak ada perang di atas ranjang dengan waktu yang tak bisa ditentukan. Sepertihalnya kalung Rose, yang entah kapan bisa kembali lagi padanya.

Akan tetapi aku dan Mawar sangat bertanggung jawab sekali dengan kalung dari warisan leluhurnya tersebut, meski belum terpikirkan dari mana uang itu bisa terkumpul demi penuhi mahar tebusan. Ah, apakah ini yang bernama tragedi atau komedi, ataukah tragedi komedi? Entahlah, terang dan jelasnya itu kami bertiga selamat dari yang namanya menjaga martabat dan punya cerita untuk minggu depan dalam bahasan mendatang dengan versi masing-masing dapurnya. Tentu saja hal itu pun jika kami sudah tak perang dingin lagi bersama para suami kami. []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *