Kemarin, kami bertiga makan-makan di sebuah kedai yang ada di dalam sebuah mall. Seperti biasa, jika kami sudah berjumpa, segala hal diceritakan. Baik dari mulai urusan dapur sampai dengan topik yang tidak perlu.
Terkadang orang-orang yang lewat di hadapan kami, suka dikomentari. Ya, begitulah kami, tak ubahnya komentator sepak bola. Pesanan demi pesanan kami datang demi menguasai meja tak terisi oleh pengunjung yang lain.
Makanan berat sudah. Minuman sudah. Sampai makanan ringan pun sudah kami santap. Tinggal kenyang yang ada, dan kami enggan beranjak dari sana. Namun waktu tak bisa mengerti keadan kami. Pada akhirnya kamilah yang harus mengerti tentang waktu.
Giliran bayar, semua kartu kami tak ada yang bisa dipakai. Malunya kami atas sikap suami yang kompak memblokir. Akhirnya kami kompak menghubungi suami masing-masing; “Perlihatkan wa ini ke kasir. Nanti kita yang bayar. Jangan lupa kuruskan badan!” kompak jawab suami kami.
Apa boleh buat, ketika nasi sudah jadi bubur? Tak ada satu pun diantara kami yang mau memperlihatkan isi pesan singkat tersebut. Untungnya, tak jauh dari mall ada banyak toko mas. Dua orang jadi jaminan. Saya yang jadi utusan.
Sialnya, sudah waktunya jam tutup toko. Tak ada pilihan lain, selain kepercayaan. Kalung besar milik Surti jadi jaminan. Di parkiran, malam ini kami punya keputusan; akan kompak gencatan senjata, dengan durasi waktu yang tak bisa ditentukan. []









