Dunia anak-anak adalah sebuah dunia yang otentik, unik, bebas dan indah. Melalui semangat bermain anak-anak mengembara dengan imajinasinya, berpetualang dengan fantasinya, dan berasosiasi dengan ragam simbol yang dipungut dari manusia, alam dan lingkungannya. Ekspresi anak-anak yang otentik, unik, bebas dan indah itu seringkali naïf, tak terduga dan penuh kejutan.
Kesadaran inilah yang melandasi eksperimen teater Tanah Air dalam menggarap tontonan. Tanpa intervensi dan atau menggurui teater Tanah Air mencoba memaksimalkan semangat bermain anak-anak melalui ragam dolanan yang sarat kearifan lokal.
Dolanan adalah permainan tradisi turun-temurun, warisan nenek moyang bangsa Indonesia. Tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat yang majemuk di antara ribuan suku di Nusantara. Sayangnya dolanan yang penuh kearifan lokal ini sudah mulai ditinggalkan, tergerus oleh peradaban instan yang siap saji. Masyarakat yang menyebut dirinya modern lebih tergiur pada segala sesuatu yang datang dari Barat. Yang datang dari Eropa, Amerika atau dari negara lain. Seperti tarian jalanan (Hip Hop), Kpop, dan sejenisnya. Sementara ragam dolanan yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat tradisi, yang mengajarkan banyak ikhwal tentang kearifan; Tentang sopan-santun, kejujuran, harga-menghargai, hormat-menghormati, kerjasama dan gotong royong dianggap jadul, disebut lebai. Padahal, melalui ragam dolanan anak-anak ditantang daya juangnya, didorong daya kreatifnya dan ditumbuh-kembangkan kepercayaan dirinya. Dan yang tidak kalah penting, melalui ragam dolanan, anak-anak mengolah tubuh dan suaranya, melatih spontanitas, daya asosiasi dan memaksimalkan kemampuannya berimprovisasi. Dan masih banyak lagi manfaat yang bisa diraih dari ragam dolanan yang tersebar di Nusantara; seperti permainan “gobak sodor”, “Soyang-soyang”, “Kakak mia”, Sala Bandung”, dll.
Mengusung dolanan ke atas pentas dan menjadikannya sebagai sebuah tontonan (seni pertunjukan), adalah upaya kreatif, artistik, sekaligus estetik, bila; dengan memaksimalkan unsur-unsur bentuk, warna, nada, irama, tempo, ruang, komposisi, harmoni, dinamika dan nuansa. Kemudian memadukannya dengan unsur-unsur tontonan (spectacle), seperti tata cahaya, tata busana, tata rias, dan tata pentas (set dekor, property, hands-prop).
Seni laku (akting) yang dijelajahi oleh teater Tanah Air adalah ekspresi yang bersumber dari alam, dengan mengeksplorasi semangat bermain dari anak-anak. Pendekatannya adalah paduan antara; “Menjadi”, artinya menjadi watak yang dituntut oleh lakon, sebagaimana yang dianut oleh Konstantin Stanislavski. “Menjadi dan Tidak Menjadi”, artinya membuat jarak dengan watak yang dituntut oleh lakon, sebagaimana yang dianut oleh Bertold Brecht. Dan “Biarkan Menjadi”, artinya aktor mendekati watak secara fisikal dan ekstrem, sebagaimana yang dianut oleh Jerzy Grotowski.
Dengan masuk ke dalam alam, anak-anak akan menyentuh wilayah-wilayah tak terduga dari seni laku. Dengan masuk ke dalam alam, anak-anak akan memaksimalkan kekayaan (tubuh dan suara) yang tersimpan dan mengendap di dalam dirinya. Semua dieksplorasi tanpa intervensi dan serangkaian contoh-contoh.
Proses latihan yang ditawarkan teater Tanah Air adalah keluar dari rutin kebudayaan kemudian masuk ke dalam alam; melakukan penjelajahan terhadap ragam daya imajinasi, ragam daya fantasi, ragam daya asosiasi, ragam daya eksprsi wajah, suara, gerak, daya penghayatan (pikira, perasaan, kesadaran), spontanitas dan sentuhan rasa seni. Dengan begitu, setiap individu akan mampu menangkap sesuatu ysng dapat membuat sesuatu itu menjadi otentik, unik, bebas dan indah.
Proses latihan, keluar dari kebudayaan dan masuk ke dalam alam membuat anak-anak lebur dalam semangat bermain yang penuh kejenakaan dan keceriaan. Sebagaimana persyaratan dari tontonan yang baik, yaitu harus menyenangkan dan tidak mudah terlupakan. Karena tontonan merupakan nilai yang paling nyata dari apa yang didapat ana-anak dalam menyaksikan suatu pertunjukan. Tontonan yang baik itu ‘mempesonakan’ dengan cara menghadirkan kesempatan bagi anak-anak untuk meng-identifikasi-kan dirinya dengan tokoh-tokoh yang ada, dalam situasi yang menarik, yang bisa difahami, bermanfaat dan mengasyikkan.
Suatu kesempatan yang melibatkan indentifikasi anak-anak dengan sang protagonist, sang antagonis dan karakter-karakter yang lain dalam lakon tersebut. Dari mana simpati anak-anak tergugah dengan hal yang masuk akal karena dilibatkan dengan situasinya.
Lakon tidak perlu nyata-nyata mengkhotbahi. Anak-anak suka belajar tapi tidak suka digurui. Jadi yang baik adalah memberi kerangka sedemikian rupa di mana tidak dikatakan bagaimana seharusnya, tapi biarkanlah segalanya terjadi secara partisipasi aktif daripada anak-anak terhadap pola tindak-tanduk yang akan mereka ikuti.
Dalam pementasan yang baik, prinsip estetik penyutradaraan, pemeranan, desain dan sebagainya akan nyata sekali. Kwalitas pementasan harus dalam kerangka teater anak-anak, kalau kita memang hendak memperkenalkannya dengan nilai sebenarnya dari teater sebagai kesenian.
Ada komposisi dasar dari keterpaduan, keseimbangan, keberagaman, akan jelas dalam suatu plot yang alurnya tidak terputus-putus, karakterisasinya berkembang penuh tapi tidak kelewat kompleks. Yang terutama dilukiskan dalam kata-kata dan pola geraknya serta mampu untuk tumbuh secara konsisten dan logis. Dan dialognya menti penuh semangat, imajinatif dan segar. Wassalam!
Jakarta, 7 Maret 2017.






