XILEUNYIA

Hujan deras jatuh di pucuk-pucuk dedaunan, menetes lambat ke tanah becek yang menelan langkah siapa saja yang lewat. Bau tanah basah dan lumut tua memenuhi udara. Di dalam gubuk reyot, seorang ibu terbaring dengan selimut kumal yang menutupi tubuhnya yang tinggal tulang. Di sampingnya, seorang anak lelaki duduk, menggenggam tangannya yang dingin. Api kecil di perapian hanya tinggal abu merah, menerangi wajah anak itu yang pucat dan gelisah.

“Ibu…” suaranya serak.
“Ibu tak punya banyak waktu…” bisik ibu.
“Aku mau mendengar ceritanya lagi, Bu.”

Laju ibu menutup mata, mengingat dengan sulit. “Dulu, saat ibu masih muda… ibu berjalan terlalu jauh dari desa… seorang pria berdiri di bawah pohon tua…” Matanya terbuka, menatap sudut gelap, seolah melihat sosok itu kembali. “Ia tidak bicara… hanya mengambil segalanya dari ibu.” Tangis kecil keluar dari bibirnya, hilang dalam batuk keras.

Anak itu menggenggam tangan ibu lebih erat. “Apa dia pernah kembali?”
Ibu menggeleng lemah. “Tidak… dia menghilang seperti hujan esok pagi.”
Dan malam itu, seorang yang dipanggil ibu oleh seorang lelaki itu menarik napas panjang lalu terdiam untuk selamanya.

Esok paginya, anak itu berdiri di tepi sungai, menatap kuburan ibu yang sederhana. Angin pagi menggigit kulitnya, tapi pikirannya lebih dingin dari udara. “Ayah… siapa kau sebenarnya?” lantang suaranya memecah kebisuan alam.

Hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan, dendamnya membusuk menjadi obsesi.

**

Di suatu malam, anak itu menemukan botol kaca berlabel lusuh: XILEUNYIA tersangkut di akar sungai. Entah kenapa, botol itu terasa miliknya. Malam demi malam, anak itu menatap air bening itu di bawah cahaya api unggun, berharap mendapat jawaban dari keheningan.

Kala rasa frustrasi membakar kian akalnya anak itu, akhirnya ia membuka botol itu. Air itu tidak berwarna, tidak berbau. Namun saat ia meminumnya, dunia terbakar. Langit pecah menjadi ungu. Pohon-pohon berbisik kata yang tak ia mengerti. Api unggun berkedip lalu padam.

Dan saat ia membuka matanya lagi, ia berada di hutan yang sama, tapi berbeda hari. Langit malam bersih tanpa asap api unggun, kabut dingin merayap di antara pepohonan. Ia mendengar suara tangis seorang wanita muda di antara dedaunan.

Laju ia mengikuti suara itu, menembus akar-akar yang menjulur seperti tangan mati. Tibalah di sebuah celah hutan yang gelap, ia melihat seorang wanita muda dengan rambut hitam panjang dengan sorot mata ketakutan, pakaian compang-camping, terperangkap di bawah pohon tua. Ketika mata mereka bertukar sianar, sesuatu dalam dirinya pecah. Ia mengenali wajah itu—wajah yang sama persis dengan ibu, tapi jauh lebih muda.

Namun tubuh ia bergerak sendiri. Tangannya meraih, menutup mulut wanita itu, menyeretnya ke tanah basah. “Maafkan aku…” bisiknya, tapi suaranya bukan suaranya sendiri, lebih dalam, lebih gelap.

Wanita itu menangis, meronta, tapi tangannya terlalu kuat. Hujan mulai turun, menutup jeritan yang hancur di tenggorokan wanita itu. Bau tanah basah menempel di kulitnya, di pikirannya. Dalam keheningan hutan, suara tangis berubah menjadi bisikan angin, dan ia sadar, ucapannya adalah sama seperti yang sering diperdengarkan oleh ibunya saat kecil: tanpa kata, hanya mengambil segalanya.

Ketika ia terjatuh ke tanah dengan tangan penuh darah, botol kaca XILEUNYIA terguling di sampingnya, setengah kosong. Pagi itu, ia terbangun dalam lumpur dan bau besi bercampur darah. Langit biru terang mengejeknya. Dan saat ia berjalan menjauh, wanita muda itu tertinggal di belakangnya, dengan nyawa yang telah hilang.

Ia berjalan, kosong, kembali ke sungai, kembali ke gubuk reyot, kembali pada waktu yang berputar.

Bertahun-tahun kemudian, hujan turun seperti malam itu, dan seorang ibu terbaring sekarat di gubuk reyot, seorang anak lelaki menggenggam tangannya. Sang ibu menatap anak itu, mengenali mata itu—mata pria misterius yang ia lihat di hutan saat masih muda.

“Dulu… ibu berjalan terlalu jauh dari desa…”

Hujan membasuh atap rumbia yang bocor, seolah tidak pernah bosan mendengar cerita lama ini diulang lagi, dalam kutukan yang tak berakhir. []

AJI SAKTI
Baca Tulisan Lain

AJI SAKTI


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *