MENGANTAR KYAI ALI

mengantar ali

Setelah jam kampus usai, aku mendapat pesan dari Kyai Ali yang memintaku untuk mengantarnya ke gedung Islamic Center (IC), karena beliau akan mengisi kajian di sana sebelum pulang dan beliau mengabarkan telah menungguku di kantor rektorat kampus kami berada.

Aku termasuk santri sekaligus mahasiswa yang beruntung dapat mengantar jemput Kyai Ali menggunakan motor Honda jadulku ke kampus tempat beliau mengajar.

Membonceng seorang dosen sekaligus kyai muda yang terkenal alim adalah sebuah kebanggaan. Karena dengan hal ini aku bisa membicarakan dan menanyakan banyak hal kepada beliau, terutama mengenai masalah hukum yang tidak aku mengerti.

Singkat cerita, aku menemui Kyai Ali yang telah menungguku di luar kantor rektorat kampus. Setelah melihatku, beliau pun langsung menghampiri dan menaiki motor jadulku sambil kedua tangannya memegang pundakku, dan kami pun melaju menuju IC.

Seperti yang biasa kami lakukan, aku menanyakan beberapa hal sepanjang jalan menuju IC., yang kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus kami berada. Kyai Ali pun menjawab pertanyaan-pertanyaanku dengan begitu jelas dan detail.

Sesampainya di IC, beliau mengajakku masuk untuk ikut mendengarkan kajian yang beliau sampaikan. Aku mengikuti ajakannya, dan dengan khidmat menyimak seluruh materi yang beliau sampaikan sore itu.

Setelah acara usai, Kyai Ali pun berbincang barang sebentar dengan para panitia dan beberapa kyai lainnya, dan aku hanya menunggunya di atas motor jadulku sambil menghabiskan sebatang rokok. Tak lama, beliau pun berpamitan kepada mereka dan kemudian menghampiriku.

Aku kemudian langsung menyalakan motor jadulku, dan seperti yang biasa dilakukan, kedua tangan Kyai Ali pun memegang pundakku. Aku pun melaju menuju pulang ke rumahnya.

Sepanjang jalan aku mengajukan beberapa pertanyaan kepada beliau, terkait materi kajian yang baru saja beliau sampaikan. Namun, tak seperti biasanya, setiap pertanyaan yang aku ajukan kali ini justru tak mendapat jawaban sama sekali.

Aku pun akhirnya menanyakan hal lain kepadanya, terkait jadwal rihlah ilmiah yang akan dilaksanakan oleh pihak kampus seminggu mendatang. Namun, lagi-lagi, beliau juga tidak merespon dan tidak menjawabnya sama sekali.

Sudah kurang lebih 15 menit, pertanyaan demi pertanyaan lain aku ajukan sepanjang jalan pulang, tapi, tak ada satu pun yang beliau tanggapi dan beliau respon.

Pada akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengajukan lagi pertanyaan. Namun, aku merasa tak nyaman dengan hal ini lantaran aku tak biasa jika mengantar Kyai Ali tanpa berbincang sedikit pun.

Akhirnya, aku pun mencoba menengok kaca spion sebelah kanan motor jadulku, berniat untuk melihat apa yang tengah Kyai Ali lakukan sepanjang perjalanan.

Namun, aku merasa heran, mengapa tak kutemukan wajah Kyai Ali di kaca spion motorku. Aku pun menengok ke belakang, dan terkejut ketika melihat jok belakang motor jadulku juga kosong.

Sontak, aku pun menghentikan laju motor jadulku, dan kembali memutar balik menuju IC sambil menahan tawa dalam batin.***


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *