Ia sudah begitu hafal jalan ini. Jalan yang dulu pernah ia susuri saban hari kala ia masih berprofesi sebagai wartawan. Namun, ada banyak hal yang sudah berubah. Di depan kantor berita tempat ia dulu bekerja telah berdiri sebuah pabrik. Tak tahu milik siapa.
Hari itu, 1975, kota itu masih amat sejuk. Pohon-pohon masih berdiri dan berbaris di pinggir jalan. Sore hari selalu menjadi waktu terbaik untuk menikmati perjalanan. Kendaraan yang melintas masih terbilang lengang.
Waktu ternyata melaju begitu cepat. Ia tak pernah memberi kabar pada apa dan siapa. Kini, gedung-gedung tertanam berdesakan di sepanjang jalan tak terbilang jumlahnya. Semua anjing tahu bahwa embun tak lagi sudi singgah di kota itu. []









