Sajak 8 Hari Awal Ramadan
1.
marhaban ya ramadan…
usai tarawih malam pertama;
tumpeng dipotong, doa-doa dilangitkan
: “berkah, sehat, tubuhku, tubuhmu…”
lalu langit sungguh sunyi
tak ada rembulan di atas musala
Kekasih aku sungguh rindu peluk-Mu!
2.
dingin
malam turun perlahan
kesiur angin
seseorang berjalan bersuluh doa, mengelilingi ceruk kampung;
bibirnya terus bergetar: subhanallah….
: “hati-jiwa memar luka ini kuserahkan pada-Mu, yang maha Kasih,
apakah Si Buruk Rupa dan si Miskin seperti saya berhak
mendapatkan kecup sayang-Mu?”
au, dingin
malam turun perlahan
kesiur angin
seseorang itu bibirnya terus bergetar:
lahaula wala quwata illa billahil aliyil adzim….
3.
usai tarawih– tak ada rembulan
di atas musala
tak ada kesiur angin
suara lirih;
mendekat kepada-Mu
izinkan aku masuk ar-rayyan
walau tubuhku butir debu
shauma jami’i syahri ramadhana
: “beri aku pisau puisi-Mu, kuiris-iris ruang-waktu
hingga matiku kilau cahaya kata-kata!”
4.
menjelang berbuka puasa
gerimis bersabung geludug di langit
lalu adzan menggema dari toa musala
seteguk air putih hangat
dua potong singkong rebus
au, nikmat mana lagi kaudustakan?
tetapi gerimis merintang sejumlah orang
tidak pergi isya dan tarawih
kang kicang, mas kamto, om sugito apa kabar?
semoga tetanggaku bregas-waras
: “ya Kanjeng Gusti, aku orang ndesa, doaku
amat sederhana: ingin hidup apa adanya tanpa
hutang dan tidak makan-minum riba!”
gerimis belum jua usai
aku pulang berlindung daun-pelepah pisang
: “ya Kanjeng Gusti, ini tubuh dan hatiku
sungguh bergetar; kilat membelah langit
dan sekejap menerangi jalan puisiku. Ciah!”
5.
hujan turun deras
langit bergemuruh
sesekali ditimpa petir
serengkah hati tersayat sembilu
: makhluk apa yang tak pernah kecewa?
senja berguling sunyi
ramadan menguji diri
untuk tidak kecewa
tidak berharap
pada sesuatu selain Allah
: “aku makhluk lemah, kuatkan aku ya Gusti Allah;
tidak kecewa terhadap sesuatu, tidak berharap
kepada makhluk lain…”
hujan deras
gemuruh di langit
sesekali ditimpa petir
senja jatuh sunyi
ramadan ruang+waktu paling suci
o, alifbata-ku belumlah sempurna.
6.
duh,
aku sadar sesadarnya; diri lemah
dan banyak salah, Allah….
ampuni aku, beri aku cahaya
di setiap langkah
mendung menggantung di langit
usai tarawih ini malam, hatiku berdetak, Allah…
jauhkan aku dari makhluk api
jauhkan aku dari makhluk bertopeng
jauhkan aku dari makhluk berbisa
jauhkan aku dari makhluk culas
jauhkan aku dari makhluk busuk
ya Allah,
beri aku derai angin
beri aku gerimis
beri aku imaji liar
beri aku metafora halus
beri aku kecup-Mu
: “malam-malam dan seluruh ruang-waktuku
ya Allah jadikan zikir dan kerendah-hatian!”
7.
insya Allah
lapar-hausku
membawaku ke lingkar cahaya
: “aku hamba-Mu kuatkanlah
berdiri di kesetiaan cinta-Mu!”
8.
di jalan sunyi-Mu
aku berteman getar zikir
ihdinasirotolmustaqim
aku ingin hanyut
di arus deras rahmat-Mu
sepanjang ramadan
sepanjang puasaku.
Cirebah, Februari 2026

PUISI Sosiawan Leak
Hanya Mau Puisi-Mu
akhirnya ketika dua mawar mekar perlahan gugur ke atas tanah,
akan kembali juga ke titik nol; merah-pucat, kecoklatan, mengering
tiada lagi harumnya, bumi-langit menjadi saksi: hidup harus suci
jauh dari iri-dengki, jauh dari kepalsuan
: “lihatlah, matahari perlahan meninggi, keagungan-Mu adalah
segala-galanya!”
o, dari titik nol ke batas cakrawala– walau paling sunyi aku hanya
mau puisi, hanya mau puisi-Mu!
Cirebah, 14 Januari 2026

PUISI Nurrahmat SN
Bulan di Atas Masjid
udara panas, bulan temaram menggantung
di atas masjid siti aisyah
malam perlahan menua di sanggar pinggir kali
airnya mengalir bening, suasana semringah
irama gendingan menghentak
: gudril, senggot, sekar gadung
suara sinden serupa mawar mekar
: apa yang kaucari sesungguhnya? hiburan atau
panggilan hati…
penayagan mengisap rokok dengan nikmatnya
kopi kental seruput, aku menggoyang-goyangkan kaki
menari mengikuti hentakan kendang
: dober, ayun-ayun, eling-eling, gugur gunung
aku ingin mabuk
malam ini terhipnotis indang
: au, aku jatuh cinta lagi!
Cirebah, 6 Januari 2026

SAJAK-SAJAK Mataya Sutiragen
Aku Datang Lagi
Aku datang lagi Al-Jabbar…
Aku menjelma seberkas cahaya. Tersungkur. Di bawah kubah.
Ampun ya Allah, dosa+khilafku. Segala ngilu. Seluruh tubuh.
Sujud. Aku mau abadi. Walau seberkas cahaya. Sejuk-Mu.
: “Berapa usia cintaku pada-Mu?”
Angin menderu-deru.
Bandung, 3 Januari 2026

PUISI Diro Aritonang
Ke Laut Rindu Kularung
Atas nama kejujuran dan kesetiaan, wahai yang maha mengasihi; ke laut
rindu kularung. Langit keruh. Dan hujan kian menderu. Sepanjang awal
Januari kutabur doa. Tuhan, nikmat puisi tiada kudustakan. Aku lebur.
Ke dalam tajam imaji. Ke kemilau diksi. Walau. Pun aku penyair paling
fakir. Berjalan di atas kerikil kehidupan yang amat fana. Seraya menyeret
masalalu jingga. Au, jangan kauiris sejarah dengan pisau kebencian. Tak
‘kan sanggup menanggung derita. Luka tak mengering.
Lupakan rasa sakit. Lupakan deru ombak yang membentur-bentur tebing
karang. Sayap camar yang patah. Juga kerlip mercusuar di malam kian menua.
Aduhku aduhmu menyatu. Tak ‘kan ada sesal.
Langit makin keruh. Januari serupa bayangan cita-cita. Merambat.
Sepanjang dinding lumut lembab. Puisi? Kukira puisi yang sungguh-sungguh
membuatku mabuk. Sejak puluhan tahun silam. Dan sekarang tiada lagi orang
mengunyah cahaya. Di rumah kayu atas bukit. Tiada lagi menanam mawar.
Takut runcing dan tajam durinya.
: “Aku takjub pada tumbuhnya kesetiaan di setiap pertengkaran. Setiap kesalah-
pahaman. Mengekalkan kata!’
Laut itu. Debur itu.
Luas dalam tubuh. Cahaya.
: “Aku zikir di atas api sajadah. Aku terbakar. Dalam nyala imaji!”
Cimahi, 2 Januari 2026

