Abstrak
Aparatur Sipil Negara yang hebat akan menentukan negara yang kuat, karena rakyat akan sejahtera. Untuk itulah selalu dibuat regulasi yang bertujuan agar Aparatur Sipil Negara selalu berada di garda terdepan dalam setiap perubahan. Namun karena regulasi dibuat untuk seluruh Indonesia, seringkali tidak mendarat dan berdampak. Bukan karena salah, namun karena berbenturan dengan budaya lokal di setiap daerah.
Agile Leadership menjembatani persoalan ini, karena mampu menavigasi organisasi lebih adaptif, produktif dan unggul dalam segala situasi. Terlebih lagi jika dipadukan dengan pendekatan budaya, maka profesionalisme akan tercapai. Karena budaya sesungguhnya bukan penghambat melainkan alat untuk mencapai tujuan.
PENDAHULUAN
Indonesia dengan wilayah yang sangat luas memiliki lebih dari 17 ribu pulau, 300 suku bangsa dengan 300 bahasa, bahkan lebih dari 700 adat istiadat yang sudah membudaya di dalam masyarakatnya. Sehingga interaksi dengan nilai-nilai kehidupan yang bersumber dari berbagai macam budaya dan agama yang hidup di sekitar kita pastilah tidak dapat dihindarkan. Karena itu dapat dipastikan bahwa kehidupan di tempat kerja pun tidak mungkin dilepaskan dari perkembangan budaya yang hidup disekitar kita, dan dituntut untuk mampu memahami sehingga budaya menjadi alat dan bukan penghambat.
Keterbukaan semacam itu menjadi mutlak diperlukan dalam rangka mewujudkan suatu kehidupan bermasyarakat, berbaangsa dan bernegara yang harmonis. Konsekuensinya setiap Aparat Sipil Negara harus memiliki wawasan interkultural, wawasan yang memampukan seseorang setia dan berpegang teguh terhadap kebenaran aturan pemerintah, namun dipihak lain sanggup pula menerima dan menghormati agama dan budaya yang ada sebagai media refleksi bagi kedalaman penghayatan iman sendiri dan bukan sebagai sinkritisme iman.
Kemajuan teknologi dan peradaban seringkali justru melunturkan penghargaan pemahaman terhadap budaya yang ada bahka menganggap tidak diperlukan lagi, sudah ketinggalan zaman dan sebagainya. Namun dipihak lain jika terjadi kemandegan dalam cara memecahkan persoalan, barulah lari kepada budaya (tata cara yang berlaku pada suatu daerah tertentu) dan menikmati pemecahan problem dengan cara yang sederhana dan bahkan dianggap kuno tersebut. Demikian juga di dalam kepemimpinan, setelah berbagai metode kepemimpinan dan pemecahan masalah, ternyata Indonesia memiliki budaya yang luar biasa kaya di dalam menyelesaikan setiap persoalan dan dapat diterima sebagai problem solving.
Mari kita melihat beberapa hal yang sudah ada sejak zaman dahulu di masyarakai Indonesia dan tidak pernah usang untuk dilaksanakan sekarang dan di segala zaman, tentu tidak semua dicantumkan disini.
- Norma, “apang bisa metilesang raga (Bali)”. Artinya, supaya bisa membawa diri harus rendah hati, sederhana tindak perbuatannya dan ramah pada orang lain. (DPP PDI Perjuangan, 2016).
- Tutur kata, “lamam-lamam hata ni begu, risi-risi hata ni jolma (Batak)”. Artinya, bahwa orang merayu, bohong umumnya memakai kata-kata halus dan lembut. Sedangkan orang yang berkata-kata apa adanya (meskipun kadang ga enak didengar, biasanya lebih jujur dan dapat dipercaya. (DPP PDI Perjuangan, 2016).
- Kejujuran, “Nyanggakeun beuheung teukteukeun, suku genteng belokeun (Sunda)”. Berserah diri karena merasa bersalah. Wujud dari sikap ksatria dan bertanggung jawab teradap apa yang diperbuatnya. (DPP PDI Perjuangan, 2016).
- Sinergi. “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani (Jawa)”. Digali oleh ki Hajar untuk orang tua, guru dan pemimpin dengan makna di depan memberi tauladan, di tengah mendorong (membangun) semangat, dibelakang mengikuti sambil mengoreksi dan menjaga keselamatan semua. (DPP PDI Perjuangan, 2016).
LATAR BELAKANG MASALAH
Karena pemahaman yang salah terhadap budaya yang ada, sehingga menganggap budaya bukan sebagai alat untuk berhasilnya sebuah kepemimpinan di dalam pemerintahan namun justru sebagai penghambat terjadinya keberhasilan dan kemajuan. Padahal jika kita memperhatikan sejarah di Indonesia, sebuah kerajaan berhasil berkembang dan membuat negerinya makmur dengan budaya yang berlaku pada saat itu. Untuk itulah dalam penulisan ini, penulis sengaja memberikan penekanan kepada; Pengaruh Budaya terhadap Profesionalisme dalam Agile Leadership.
BUDAYA, PROFESIONAL DAN AGILE LEADERSHIP
Jika kita pergi ke toko buku dan memperhatikan secara khusus tentang kepemimpinan, kita akan menemukan berbagai judul buku kepemimpinan dari penulis yang belum terkenal sampai kepada penulis yang terkenal dengan buku “best seller.” Apakah ada yang salah dengan buku itu sehingga kurang berpengaruh kepada pembacanya? Demikian juga ada berbagai peraturan yang diterbitkan oleh pemerintah demi tercapainya pelayanan prima di dalam setiap instansi lengkap dengan petunjuk pelaksanaannya. Jika tidak memberi dampak, adakah yang salah dengan peraturan tersebut?
Seorang pemimpin minimal harus memilki empat macam kecerdasan dalam memimpin, agar menghasilkan kepemimpinan yang efektif. Pertama, kecerdasan spiritual yang akan memberikan kekuatan iman untuk tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma iman. Kedua, kecerdasan intelektual yang didapatkan baik melalui pendidikan formal maupun pendidikan non formal. Ketiga, kecerdasan sosial yang diperoleh karena berinteraksi dengan sesama dan menghasilkan sikap simpati dan empati. Dan yang ke empat, kecerdasan emosional yang berdampak kepada penguasaan diri yang matang, sehingga dapat memimpin dengan bijaksana.
Dr. Albert L. Winseman menjelaskan bahwa, “Sifat yang paling penting yang harus dimiliki pemimpin yang efektif sering kali sangat kurang yakni: mawas diri. Para pemimpin yang efektif seharusnya sangat mawas diri, tidak hanya mengenal kelebihan mereka tetapi juga kelemahan – sisi gelap dari kelebihan-kelebihan yang ada. Tanpa mawas diri, banyak pemimpin jatuh dan hancur tanpa menyadari potensi maksimal mereka bagi kerajaan Allah.” (Gary L. McIntosh dan Samuel D. Rima 2016).
Sementara John Maxwel menuliskan, “Tidak semua kekuatan pendorong di dalam diri seorang pemimpin itu positif. Agar menjadi pemimpin yang kuat bukan hanya perlu menggali talenta-talenta dari Allah, tetapi juga kemampuan mengatasi faktor-faktor negatif.” ((Gary L. McIntosh dan Samuel D. Rima 2016).
Itulah kemudian muncul teori kepemimpinan yang baru dan menjadi acuan untuk Aparat Sipil Negara, yaitu kepemimpinan Agile atau Agile Leadership. Dalam bahasan disini secara khusus mengenai pengaruh budaya terhadap profesionalisme dalam kepemimpinan Agile, dengan harapan bahwa budaya justu dapat menjadi alat dan bukan penghambat dalam kepemimpinan.
Budaya
Dalam tradisi budaya banyak yang terjebak kepada penilaian yang sempit bahwa budaya adalah sebagai perbuatan yang sinkritisme bahkan cenderung bertentangan dengan kemurnian iman. Namun jika dapat memahami apa yang sering dikerjakan dalam ritual budaya sesungguhnya adalah bahwa itu bukan hanya harus dibuat, namun juga harus diperbuat. Contoh terjadinya degradasi makna pada pembuatan dan penilaian sebuah tradisi tumpengan. Tumpeng menggambarkan kesatuan hati dan kesadaran bahwa tidak bisa sukses sendiri, dibutuhkan kerja sama dengan menganggap yang lain lebih penting dan saling membutuhkan. Warna tumpeng yang kuning dan rasa yang “gurih” menunjukkan dampak yang dihasilkan indah dilihat dan enak untuk dirasakan.
Apakah kepemimpinan Agile ada dalam budaya kita? Bukankah itu hasil penemuan baru? Menjawab pertanyaan tersebut membutuhkan pendekatan pemahaman budaya dan bertanya ulang kepada yang bertanya, apakah sudah pernah mendengar alunan musik gemelan dan atau musik trasisional lainnnya? Apakah sudah pernah menyaksikan pagelaran wayang dan menyelami maknanya? Hal ini penting agar sebagai warga bangsa Indonesia memahami bahwa peradaban bangsa kita sejak zaman dahulu sudah memiliki model kepemimpinan yang hari-hari kemudian muncul. Dulu belum ada teorinya namun mereka sudah bisa melakukannya dan bahkan bertahan dalam waktu yang cukup lama.
Coba kita perhatikan harmonisasi suara gamelan dan penabuh gamelan serta sinden jika itu bukan musik instrumental. Gemelan tidak ada yang merasa lebih penting dan lebih hebat, sebab tanpa kehadiran satu gamelan yang lain maka suara yang dihasilkan akan berbeda. Demikian juga jika kita memperhatikan kepemimpinannya, siapa yang memimpin? Kadang kita tidak bisa membedakan mana dan siapa yang memimpin, ada yang memulai dengan suara rebab, suara kendang, suara saron dan suara lainnya. Apakah itu pemimpinnya?
Sekarang kita akan lebih dalam melihat kepemimpinan Agile di dalam budaya wayang. Dalam pewayangan khususnya dalam babad Mahabarata, sesungguhnya sentral cerita ada pada dua kerajaan yakni Astina dan Indraprahasta, antara Pendawa dan Kurawa. Adapun kerajaan-kerajaan yang lain pada akhirnya akan kelihatan pada akhir kisah Mahabarata di padang kurusetra, dimana hanya akan terdapat dua kekuatan saja dan menghasilkan pemenang yang justru hanya kekuatan “kecil” menurut perhitungan manusia. Mengapa Amarta atau Indraprahasta menggambarkan kerajaan yang makmur dan kuat? Karena kepemimpinan Agile ada di sana.
Kata Pandawa selalu diikuti dengan kata lima, Pandawa lima karena memang jumlahnya lima, Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Mereka bukan menggambarkan orang-orang yang sempurna, mereka memiliki kelebihan namun juga kekurangan. Keberhasilan mereka sesungguhnya karena adanya kepemimpinan Agile yang mampu menggerakkan semua komponen dengan tidak melihat kekurangan satu dengan yang lain, melainkan memanfaatkan potensi kelebihan dari tiap-tiap personal yang ada di dalam keluarga Pandawa.
– Puntadewa (pusat keluhuran) setelah dinobatkan menjadi raja bergelar Prabu Yudistira. Memiliki karakter sabar, ikhlas, percaya atas kekuasaan Tuhan, tekun dalam agamanya, tahu membalas budi dan selalu bertindak adil dan jujur. (Balai Pustaka, 1991). Dalam cerita pewayangan sering terjadi karena karakter yang dimilikinya, maka Yudistira sering dimanfaatkan dan ditipu oleh musuh-musuhnya.
– Bima yang juga disebur Werkodara memiliki badan yang sangat besar dan tenaga yang sangat kuat, namun juga kelembutan hati yang juga pernah dimanfaatkan agar binasa, namun justru membawanya memiliki kekuatan yang baru. Berwatak setia dan mau menolong. Kelemahannya adalah selalu berkata-kata dengan bahasa yang tidak halus, tidak pernah berjongkok dan menyembah kepada siapapun, selalu tegak berdiri walaupun berdiri dihadapan raja sekalipun. (Balai Pustaka, 1991).
– Arjuna adalah seorang yang sanngat sakti, berilmu tinggi, cerdik pandai, pendiam, teliti, sopan santun, berani, halus dalam tindakan dan kata-katanya serta senang melindungi yang lemah. Hormat kepada orang tua dan kepada mereka yang memiliki kedudukan lebih tua dan juga cekatan dalam bidang mempergunakan senjata. (Balai Pustaka, 1991). Namun karena kelebihannya itu juga, Arjuna banyak terlibat dalam kesulitan, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain.
– Nakula (menguasai diri sediri) yang juga disebut Pinten (nama tumbuhan yang daunnya bisa sebagai obat). Mempunya watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan dapat menyimpan rahasia. (Balai Pustaka, 1991). Setiap persoalan selalu dihadapinya dengan hati tenang, sehingga dengan mudah diselesaikan. Bersama Sadewa menjadi pendamping pribadi Yudistira.
– Sadewa(tunggal dewa) disebut juga Tangsen adalah nama buah dari tumbuhan yang bisa dipakai obat.(Balai Pustaka, 1991). Bersama Nakula adalah titisan betara Aswin (dewa tabib), bersama Nakula menjadi pengawal pribadi Yudistira. Memiliki kelebihan karunia kasidan (jawa) mengetahu hal supranatural.
Kesatuan hati dalam mensinergikan kekuatan yang mereka miliki dengan sebutan yang tidak terpisahkan Pandawa lima, menjadikan mereka kuat dan terlebih lagi diridloi sang pemilik kebenaran yang dibuktikan dengan kehadiran Prabu Kresna di tengah-tengah mereka. Di dalam cerita pewayang jawa/sunda masih ada Semar Badranaya yang menjadi pamomong sedehana. Jadi di depan ada kebenaran dan diikuti oleh kebenaran.
Yudistira tidak memiliki kesempurnaan dalam segala bidang bahkan memiliki kelemahan juga, namun dengan mensinergikan kekuatan dari ke empat adiknya dan yang kekuatan lain. Setiap kelemahan yang satu, ditutup oleh kelebihan yang lainnya, disertai budaya saling menghargai, mengayomi dan saling lainnya, menjadikan mereka kuat. Inilah Agile Leadership dalam budaya leluhur kita.
Profesional
Di masyarakat kata profesional sudah mengalami degradasi arti, menjadi hal yang dinilai dengan jumlah materi, sehingga muncul istilah profesional (bayaran) dengan amatir, profesional dan pemula serta istilah lain. “Siapa pun yang bercita-cita besar; rahasianya adalah perubahan diri sendiri.” Demikian nasihat KH. Abdullah Gymnastiar. Sehingga orang yang hebat (profesional) adalah orang yang dapat memberi support agar orang lain menjadi lebih baik, bukan menjatuhkan orang lain biar dianggap paling baik.
Profesional berasal dari kata profesi atau profession berasal dari kata kerja to profess yang berarti mengaku. Dalam bahasa Yunani menggunakan kata homologian asal kata homologeo yang berarti mengaku, dalam hal ini mengaku tentang suatu kebenaran yang berakibat besar, perbuatan yang menyangkut keseluruhan diri dan keseanteroan hidup. Yakni mengaku dengan seluruh eksistensi, dengan menanggung konsekuensi dan sepenuh hati sesuai dengan nilai luhur profesi. (Dr. Andar Ismail, 1997).
Sebagai profesional akan melakukan profesi sesuai dengan keyakinan dan kehormatan profesi dengan mengutamakan mutu dan disiplin kerja. Seorang profesional akan:
- Melakukan pekerjaan yang baku dan sinambung.
- Ilmu yang mendasari pekerjaan bersifat otonom dan dikembangkan oleh orang-orang dari ilmu yang bersangkutan.
- Pekerjaan tidak semata-mata mencari keuntungan, melainkan memberikan pelayanan tanpa pembedaan.
- Terus belajar seumur hidup sambil meneliti dan mengembangkan ilmunya.
- Terikat secara moril dalam hubungan kesejawatan dan menyepakati kode etik profesi, dalam arti terbuka untuk ditilik dan dikoreksi oleh rekan seprofesi.
Agile Leadership
Seorang pemimpin yang memimpin hanya kerena sebuah jabatan saja akan menghasilkan kepemimpinan yang menimbulkan luka hati, baik untuk dirinya maupu untuk orang-orang yang diimpinnya bahkan termasuk orang yang memberikan mandat untuk memimpin. Seorang pemimpin yang berhasil harus memiliki kesadaran bahwa ia memiliki tanggung jawab untuk mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya.
Kepemimpinan yang merupakan penerapan pengaruh spesifik ada pada tingkat terendah jika hanya didasarkan pada posisi. Kepemimpinan bertumbuh naik ke tingkat yang lebih tinggi saat seorang pemimpin hubungan dengan orang lain, yang terjadi ketika yang dipimpin memberi izin melakukan yang melampaui batas uraian pekerjaan dan berhasil meningkatkan produktivitas pekerjaan serta mengembangkan potensi yang dipimpinnya. Akhirnya orang akan mengenal sebagai pemimpin yang memiliki kepribadian.
Agile Leadership adalah kepemimpinan yang mampu menavigasi organisasi lebih adaptif, produktif dan unggul dalam segala situasi. Agile leadersip menghasilkan gaya kepemimpinan yang gesit dan berbeda dari model kepemimpinan tradisional, dengan ciri khas cepat dan fleksibel. Sebuah gaya kepemimpinan yang menekankan kolaborasi, bukan perintah. Gaya kepemimpinan yang melayani, bukan mengatur dan mengendalikan.
Peran pengaruh di dalam kepemimpinan Agile tidak muncul dengan seketika, namun secara bertahap (dijelaskan oleh John C. Maxwell dan Jim Dornan, 2001):
- Model. Orang dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat. Seorang pemimpin akan lebih dahulu dinilai dari apa yang mereka lihat, semakin baik mereka mengenal dan dikenal, semakin besar kredibilita seorang pemimpin di mata yang dipimpin dan semakin besar pengaruhnya. Seorang pemimpin dapat menjadi model di masyarakat, tetapi untuk pindah ke tingkat pengaruh yang lebih tinggi, harus bekerja dengan individu.
- Motivasi. Model dapat memberi pengaruh yang kuat (entah itu positif atau negatif), akan tetapi jika ingin menimbulkandampak yang besar bagi kehidupan orang lain harus melakukannya dari jarak dekat, yakni menjadi pemberi motivasi. Seorang pemimpin dapat mendorong orang berkomunikasi ke tingkat emosi, membentuk jembatan antara pemimpin dengan yang dipimpin dan membangun kepercayaan dan rasa harga diri.
- Mentor. Ketika pengaruh yang positif sudah berdampak dan ingin menaikan dampak itu serta langgeng, harus menaikan pengaruhnya ke arah mentoring. Mentoring berarti menuangkan hidup ke dalam diri orang yang dipimpin membantu mencapai potensi mereka.
- Pelipatgandaan. Penaruh tertinggi adalah pelipatgandaan, yakni memberi pengaruh yang berlippat ganda karena orang yang dipimpin mampu menjadi model, motivator, mentor dan mempersiapkan pemimpin-pemimpin yang unggul perikutnya.
Dengan demikian tujuan dari Agile Leadership akan tercapai, yakni kepemimpinan yang gesit bercirikan adaftif, produktif dan unggul. Hal-hal berikutnya yang harus dimiliki seorang pemimpin dalam kepemimpinan Agile, seperti yang di sampaikan Ari Susanto adalah:
- Adaptability. Pemimpin yang gesit tidak menghindari perubahan, tetapi bersikap fleksibel dan menyesuaikan diri dengan perubahan, terbuka terhadap kemungkinan merevisi keputusannya berdasarkan data erbaru.
- Visionary. Kepemimpinan yang gesit menyediakan visi dan memotivasi orang-orang untuk mewujudkannya, juga menginspirasi pengikutnya dan membangun kolaborasi dalam tujuan yang sama.
- Engagement. Pemimpin yang gesit harus terlibat dengan stakeholder internal dan eksternal, dengan karyawan dan rekan kerja hingga kelevel yang lebih jauh. Hal ini membantu mereka memahami apa yang terjadi, juga memungkinkan jangkauan komunikasi yang lebih luas untuk mewujudkan ide-ide mereka.
PENUTUP
Dunia tempat kita hidup dan berkarya saat ini dan ke depan adalah dunia yang mengalami percepatan di dalam sagala bidang. Perubahan selalu mengubah pola pikir dan motivasi seseorang di dalam bekerja, bahkan kadang-kadang dihantui oleh bayangan ketidakpastian menghadapi masa depan. Jimmy Sudirgo menyebutnya dengan “era VUCA”, yang terdiri dari:
- Votality, artinya perubahan yang sangat cepat terjadi.
- Uncertainty, artinya ketidakpastian. Yakni kurangnya kecepatan kita untuk memprediksi segala peristiwa yang akan terjadi.
- Complexity, artinya sangat kompleks. Situasi adanya gangguan yang dihadapi oleh suatu organisasi.
- Ambiguity, artinya semua serba tidak jelas atau bias.
Dengan mempelajari ketiga hal di atas maka kita menyimpulkan bahwa budaya bukanlah penghambat terhadap profesionalisme dalam Agile Leadership, justru jika kita memahami dengan benar dapat menjadi penunjang dalam mensukseskan kepemimpinan Agile. Selama ini sering terjadi, budaya menjadi rujukan akhir bila terjadi kebuntuan. Seorang yang profesional seperti halnya para Pandawa lima: bukan sebagai kewajiban melainkan sebagai kesempatan, bukan sebagai mata pencaharian melainkan sebagai panggilan hidup, bukan dengan setengah hati malainkan sepenuh hati, bukan asal jadi melainkan dengan kesungguhan dan bukan hanya dengan otak melainkan dengan hati sanubari.
Akhirnya Aparatur Sipil Negara benar-benar berfungsi sebagai abdi Negara dan abdi masyarakat, kepercayaan masyarakat akan semakin meningkat karena akuntabilitasnya teruji dan terbukti. Agile Leadership benar-benar mampu menavigasi organisasi lebih adaptif, produktif dan unggul dalam segala situasi dapat menghasilkan gaya kepemimpinan yang gesit dan berbeda dari model kepemimpinan tradisional, dengan ciri khas cepat dan fleksibel. Sebuah gaya kepemimpinan yang menekankan kolaborasi, bukan perintah, gaya kepemimpinan yang melayani, bukan mengatur dan mengendalikan. Kiranya Allah memampukan kita untuk menghayati dan melaksanakannya, menjadi agen perubahan untuk mempersiapkan masa depan bangsa Indonesia yang bisa sejajar dengan negara maju di dunia.
DAFTAR PUSTAKA
John C. Maxwell & Jim Dornan,(2001). Menjadi orang yang berpengaruh.
DPP PDI Perjuangan (2016), Peribahasa Nusantara – Mata Air Kearifan Bangsa.
Gary L. McIntosh & Samuel D. Rima (2016). Overcoming The Dark Side of Leadership – Menaklukkan Sisi Gelap Kepemimpinan.
Dr. Andar Ismail (1997). Selamat Menabur.
Kh. Abdulllah Gymnastiar ( 2004). Sebuah Nasihat Kecil
Balai Pustaka (1991). Ensiklopedi Wayang Purwa
.

