Sandera Nasib

sandra nasib kosapoin

Dalam sejarah panjang pemikiran kita, Francis Bacon tidak pernah hadir sebagai pemuja cinta yang cengeng. Ia adalah seorang arsitek jiwa yang dingin, seseorang yang membedah pernikahan melalui esai klasiknya, “Of Marriage and Single Life” (1625), dengan pisau bedah yang jujur sekaligus mengerikan. Ia memaksa kita menanggalkan topeng-topeng romantis demi melihat sebuah realitas yang jauh lebih purba. Setiap ikatan manusia, pada dasarnya, hanyalah sebuah negosiasi strategis dengan waktu—sebuah upaya sia-sia untuk menjinakkan ketidakpastian.

Bacon melempar sebuah tesis yang mengguncang rasa nyaman kita, bahwa “He that hath wife and children hath given hostages to fortune” (Dia yang memiliki istri dan anak-anak telah menyerahkan sandera kepada nasib). Di sini, keluarga bukan lagi sekadar pelabuhan yang tenang. Ia adalah beban manis yang menambatkan sayap kebebasan kita ke bumi. Menikah berarti mengikat leher pada sesuatu yang berada di luar kendali pribadi. Sebab ketika seseorang mulai mencintai, ia sebenarnya sedang membuka gerbang bagi kemungkinan untuk kehilangan. Dari sinilah seluruh kerentanan itu bermula.

Namun, kita—makhluk yang selamanya gentar pada kesunyian—tetap memilih untuk menyerahkan sandera itu. Pernikahan berhenti menjadi sekadar aturan sosial; ia berubah menjadi sebuah loncatan eksistensial yang tidak pernah benar-benar rasional. Kita melompat tanpa tahu di mana dasar jurangnya. Sebagaimana yang pernah dibisikkan oleh Søren Kierkegaard, bobot sebuah keputusan justru lahir dari keberanian kita untuk menanggung ketidakpastian itu sendiri, bukan dari angka-angka kepastian yang kita kumpulkan. Lalu, lihatlah bagaimana Bacon merumuskannya dengan ketajaman yang nyaris brutal: “Wives are young men’s mistresses; companions for middle age; and old men’s nurses” (Istri adalah kekasih bagi pria muda; teman bagi usia menengah; dan perawat bagi pria tua). Di titik inilah, logika fungsional Bacon mulai tampak rapuh. Ia gagal membaca betapa licinnya perputaran kekuasaan dalam hubungan manusia hari ini. Jika Bacon hanya melihat pernikahan sebagai tangga linier bagi pria, kenyataan di sekitar kita justru menunjukkan arah yang jauh lebih tajam.

Tentu saja, manusia selalu pandai menyusun alasan. Bacon tahu itu; ia memahami bahwa seorang pria akan selalu menemukan pembenaran untuk menikah kapan pun ia mau. Namun, ia meninggalkan sebuah ironi yang tetap mengintai tentang kapan waktu terbaik untuk berkomitmen: “A young man not yet, an elder man not at all” (Bagi pria muda belum saatnya, bagi pria tua tidak perlu sama sekali). Seolah-olah pernikahan memang tidak pernah benar-benar berada di waktu yang tepat—ia hanya terjadi ketika dorongan untuk selamat mengalahkan segala keraguan. Akan tetapi, keraguan pria tentang “waktu” ini sebenarnya hanyalah kulit luar dari kenyataan yang lebih dalam. Secara psikologis, di balik keputusan perempuan untuk menikah, terdapat kebutuhan dasar untuk menemukan rasa aman dan kasih sayang yang stabil. Pernikahan bagi perempuan adalah cara untuk memiliki teman hidup yang bisa memberikan dukungan batin, mengurangi rasa kesepian, dan membantu menghadapi masa depan bersama-sama. Melalui pernikahan, perempuan merasa hidupnya menjadi lebih lengkap, tertata, dan memiliki tempat untuk mendewasakan diri sesuai dengan harapan lingkungan di sekitarnya.

Namun, demi menjaga rasa aman yang didambakannya di dunia yang tidak pasti ini, perempuan sering kali harus menjadi pemain watak yang lihai di balik topeng kepatuhan. Kebohongan terbesar perempuan muncul ketika ia berpura-pura setia demi mengamankan posisinya; seorang perempuan bisa saja mengaku tidak merespons lelaki lain, padahal di belakang pasangannya, ia justru sedang mencari perhatian lelaki lain untuk menjaga peluangnya tetap terbuka. Ia mampu berdalih bahwa seorang lelaki hanyalah teman biasa, padahal sebenarnya perempuan itu sedang menyembunyikan perasaan aslinya dengan rapat. Hebatnya, seorang perempuan berani menantang pasangannya untuk memeriksa gawainya sendiri, hanya karena ia telah lebih dulu menghapus semua bukti yang ada tanpa sisa.

Di sinilah muncul sisi lain yang sering kali luput dari amatan Bacon: jika laki-laki mencintai dengan mengandalkan perasaan, perempuan justru lebih banyak menggunakan logikanya untuk memilih laki-laki mana yang lebih menguntungkan buat dirinya. Kebohongan yang paling besar sering kali keluar dari mulut perempuan di saat ia berjanji untuk terus bersama, padahal barangkali ia hanya sedang didera rasa penasaran; dan ketika rasa penasaran itu hilang atau muncul pilihan lain yang lebih mampu menjamin masa depannya, perempuan tersebut akan pergi meninggalkan lelaki itu begitu saja tanpa rasa bersalah. Segala kebohongan ini, pada muaranya, adalah senjata perempuan untuk tidak menjadi pecundang di tangan nasib.

Kita melihat pria muda yang dengan sadar memilih “bersembunyi di balik ketiak” perempuan yang jauh lebih dewasa dan mapan. Mereka tidak sedang mencari kekasih untuk dipuja, melainkan mencari perlindungan ekonomi. Di sisi lain, kita melihat perempuan muda yang mengikatkan diri pada pria tua demi sebuah zona aman dan jaminan materi. Di sinilah konsep “pendampingan alamiah” versi Bacon runtuh sepenuhnya. Pasangan bukan lagi subjek, melainkan instrumen pertukaran. Kemudaan ditukar dengan akses, dan pengabdian ditukar dengan eksistensi. Cinta dipaksa tunduk pada protokoler kepentingan yang kaku. Gairah kini bukan lagi soal getaran rasa, melainkan soal posisi dalam struktur kekuasaan sosial.

Seluruh peran pusat yang dibayangkan Bacon telah terbalik; hubungan bukan lagi sekadar pemuas biologis atau pelayan masa renta, melainkan investasi strategis untuk menjaga kewarasan dan status di tengah dunia yang semakin rumit. Inilah bentuk pernikahan yang paling transaksional sekaligus paling kokoh: sebuah ketergantungan yang direncanakan dengan matang. Cinta hanyalah nama lain dari kesediaan untuk bersekutu demi memenangkan pertarungan melawan nasib. Apakah ini berarti cinta itu batal? Tidak juga. Kita tahu bahwa cinta tidak pernah sepenuhnya murni, akan tetapi kita tetap memilihnya. Dalam gema pemikiran Friedrich Nietzsche, pilihan ini adalah sebuah bentuk kehendak untuk tetap memberi makna pada dunia yang sebenarnya sudah retak. Kita tidak lagi mencintai karena percaya sepenuhnya pada kemurnian, tetapi karena kita memilih untuk tetap terlibat meskipun kita tahu semua itu adalah ilusi yang rapuh. Sebagai muara dari segala argumen, kita semua adalah sandera dari kebutuhan kita sendiri. Entah kita mencari kekasih, rekan, atau sekadar pelindung, kita sedang melakukan hal yang sama: mencoba menjinakkan nasib yang liar. Semakin kita berusaha mengamankannya, semakin jelas bahwa kita hanya sedang memindahkan bentuk risikonya saja.

Kehebatan Bacon sebenarnya bukan pada sinismenya, melainkan pada keberaniannya untuk mengakui bahwa di balik setiap janji setia di altar, selalu ada manusia yang diam-diam gemetar. Bukan karena mereka lemah, tetapi karena mereka sadar bahwa untuk mencintai berarti membuka kemungkinan untuk kehilangan—dan mengakui bahwa apa yang mereka sebut cinta, tidak pernah benar-benar bebas dari rasa butuh. Dan mungkin, justru di situlah letak kejujuran yang paling dalam: tetap memilih untuk mengikatkan diri, meski kita tahu bahwa kita hanyalah sandera dari keinginan kita sendiri. [Bandung,—Catatan di Tepi Pemikiran Francis Bacon— 2010]


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *