Judul lukisan: Nayanika. Karya: Dom Puntila. Media: Aklirik di atas kanvas. Ukuran: 60 x 90 cm. dok. Dom Puntila
DONGENG DI ATAS MEJA
—untuk Andromeda
1 |
Saat kita bercakap-cakap
Kepulan asap rokok yang kau mainkan
Malam itu; menjelma layar kehidupan
Bergambar buram, negeri yang runtuh
Aku pahami kisah ini dari sorot matamu
Ada bendera dibakar, Wanita diperkosa
Jerit petani Sampang, pembalakan hutan
Ladang-sawah jadi hunian, tangis anak jalanan
Bom yang meledak di mana-mana, oknum
Penguasa yang menyikat tanah rakyat; hingga
Cintamu yang hitam legam bagai air selokan
Dikhianati kekasihmu
Dukaku hanyut dalam alir air matamu
Lalu aku bermimpi jadi hakim dalam kisahmu
Di tanganku tak ada seorang penjahat pun yang lolos
Dari hukumku. Tidak juga para oknum penguasa
Yang suka korup dan menyengsarakan rakyat itu
Fantastis, mimpiku beda benar dengan kenyataan hidup
Supremasi hukum roboh bagai tiang bangunan
Yang diguncang ledakan bom. Harapan
Adakah tinggal harapan: Melayang-layang
Bagai lembaran daun gugur?

PUISI Diro Aritonang
2 |
Pada sebuah restoran kau mengajakku makan
Setiap pelayan menawarkan masakan asing
Dengan huruf yang asing pula. Kau begitu fasih
Berbicara dengan bahasa asing. Di situ
Aku merasa asing berada di tengah orang-orang
Yang tak asing bagiku, tapi asing bersambung asing
“Meda, adakah aku menjelma orang asing?”
Tanyaku padamu. Kau hanya tersenyum. “Tidak!”
Jawabnya. Aku heran, mengapa bahasa itu
Begitu asing di telingaku; padahal aku mempelajarinya
Sejak di bangku sekolah dulu. Bahkan film yang aku
Sukai, film asing pula. Fantastis, mengapa aku asing
Dengan semua ini?
Di atas meja, pikiranku bagai sendok
Dan garpu, tak disentuh
Dingin, berkilat oleh cahaya duka
Tergambar lagi dalam matamu
Negeri yang dibakar api, kerusuhan yang berdarah
Juga kisah cintamu yang hitam, bagai
Air selokan. “Meda, mengapa aku asing dengan
Semua itu? Mengapa alir air mataku
Terasa pedih atas kisahmu?” tanyaku
Kau diam dan bisu. Selebihnya, angin dingin
Malam yang kelam bagai dukamu
2000

SAJAK-SAJAK Ayie S Bukhary
MALAM MAWAR ASMARA
—untuk Fery Curtis & Pigura Kecil
1 |
Bocah kecil yang duduk
Di atas bangku kayu dengan batu
Menggelantung di atas kepalanya
Adalah bayi yang lahir dalam lakon
Bersama Tengkorak1
Berkabut kehidupan
Miniatur bangunan sejarah
Terhampar di atas arang
Dimainkan bocah kecil sesuka hati
Seketika jiwaku melayang pada peristiwa
Tanjung Priok, Sampang, Pembakaran hutan
Ambon dan Aceh yang dimainkan penguasa
Seenak udel
Bocah itu mencuci kakimu
Dengan air kembang. Pikiranku melayang lagi
Pada kasus aborsi. Demi mencuci aib, seorang
Ibu rela membunuh janin hatinya.
Bocah itu kembali duduk di tempat semula
Memainkan batu yang menggelantung
Di atas kepalanya
Dan maut bersarang di batu itu
Bentangan merah-putih
Kau jadikan alas bagi miniatur bangunan sejarah
Yang roboh ke dasar jurang peradaban
Selebihnya kau cuci dengan air kembang
Ternyata masih saja menorehkan luka
Menjelma patahan sejarah yang lain
Dalam bentangan merah-putih
Dibilas darah pejuang
Bocah kecil yang asyik bermain dengan batu
Di atas kepalanya
Kau gendong bersma merah-putih.
Bendungan telaga dalam
Kelopak matamu tak tertampung lagi

SAJAK-SAJAK Rachman Sabur
2 |
Puisi-puisi yang terlahir dari nurani
Kau nyanyikan penuh dengan segenap cintamu
Tahukah kamu
Puisi yang kau cipta itu
Lebih kekal dari batang usiamu sendiri
Yang rapuh dipangkas waktu
Kelak, puisi itu menjelma biografi hidupmu
Yang menghiasi pusaramu!
2021
________
[1] Pentas teater tubuh Kelompok Payung Hitam dengan judul Bersama Tengkorak karya dan sutradara Rachman Sabur

PUISI Ayie S Bukhary
INDONESIAKU
Diskusi politik
Dipirig caci-maki ketidak adilan
Adalah lagu lama
Kita dengar
Di otakku
Di otakmu
Dan di otak mereka
Ideologi menjelma senjata
Menetaskan peperangan
Menebarkan ketakutan
Menggugurkan tunas bangsa
Apakah kita pernah mencaci-maki nenek moyang
Selagi sumpah pemuda dipupuk dan ditanam
Di taman kalbu tunas bangsa?
Indonesiaku
Di mana taman cinta, selagi saudaraku
Saling mengkhunuskan pedang?
1996-1998-1999









