Malam begitu hening. Ruang pertunjukan terasa lengang. Tak ada cahaya lampu warna-warni di atas panggung, selain seusap cahaya lampu neon. Aku berdiri di atas panggung tanpa penonton, ditemani seekor kucing tua yang sesekali mengeong dengan sorot mata hijau toska.
Seekor kucing dengan bulu hitam itu, sesekali berjalan di sekitar kakiku. Kemudian aku meraihnya, mengelus-elus kepalanya, seperti mengelus kepala kekasihku yang kini telah tiada. Di kubur sana, boleh jadi kekasihku, kedinginan dan bahkan kesepian, seperti juga diriku. O, bayang-bayang masa silam yang buram. O, malam yang melayang jatuh bagai lembaran daun gugur.
Terus terang, malam ini aku berdiri di atas panggung, entah untuk kesekian kalinya—tapi berdiri tanpa penonton, boleh jadi merupakan hal yang pertama, sejak aku ditinggal mati oleh kekasihku. Ia mati dengan seluruh penderitaanya, dengan seluruh luka yang pedih diperkosa bapak tirinya yang biadab itu. Kekasihku mati bunuh diri—pada sebuah malam, saat aku berada di sebuah kota yang jauh, berperan sebagai Pangeran Hamlet yang juga malang secara lahir-batin. Kekasihku mati bunuh diri pada malam itu juga, seusai diperkosa bapak tirinya. O hidup, sekelam inikah bayang-bayang malam yang datang padaku, bagai hamparan kain hitam?
“Wahai dinding pertunjukan yang bisu, apa artinya hidup–apa artinya mati; jika keduanya harus berujung dengan penderitaan? Sungguh, bukan kematian kekasihku yang aku sedihkan, tapi kebiadaban yang menimpa kekasihku yang menyebabkan dia harus mati bunuh diri. Kalaulah aku harus bunuh diri meloloskan nyawaku dari himpitan kesepian dan kerinduan yang menggumpal ini, haruskah aku berperan sebagai Romeo dengan kisah tragis yang lain?” Suaraku berpantulan, menggema di antara dinding-dinding pertunjukan yang bisu. Namun tiba-tiba, aku memdengar sebuah suara:
“jangan mentang-mentang kamu pemain sandiwara, lantas kamu meromantisir keadaan seperti itu? Sudah-sudah hentikan segala niatmu yang buruk. Tak ada seorang pun yang bisa mencegah datangnya nasib hitam. Apa yang terjadi pada kekasihmu, boleh jadi merupakan sebuah takdir yang tidak bisa dihindarikan, tapi aku tak ingin berdebat soal takdir—pengetahuanku sangat terbatas tentang hal tersebut. Wahai kau yang menderita karena sepi dan rindu. Wahai kau yang merana ditinggal kematian dan kepedihan cinta, bangkitlah. Masih ada cahaya dan matahari yang lain bersinar di luar sana.” Ujar sebuah suara. Suara itu seakan-akan diucap oleh bentangan kain hitam. Sementara itu seekor kucing hitam memejamkan matanya dalam pangkuanku, hangat dalam pelukku.
Aku tentu saja kaget mendengar suara itu. Tiba-tiba perasaanku melayang pada sebuah pentas yang begitu gaib. Ruang pertunjukan yang semula sunyi-senyap itu, tiba-tiba meriah oleh tepuk tangan. Kemudian hening merajut hening.
Aku seakan-akan berperan sebagai hakim yang tidak bisa disogok oleh uang. Satu demi satu pesakitan yang dihadapkan padaku, baik mantan penguasa yang kerap melanggar Hak Asasai Manusia (HAM) maupun yang korupsi besar-besaran dan kerap melakukan tindakan anarkis terhadap rakyatnya sendiri—tak ada yang lolos dari pasal demi pasal hukum yang menjeratnya di tanganku. Fantastis, hal ini beda benar dengan kenyataan hidup sehari-hari. Adakah supremasi hukum hanya bisa tegak dalam bayang-bayang harapan saja?
Dan aku ini tiba-tiba merasa marah luar biasa saat dihadapkan pada pesakitan ayah tiri kekasihku, yang memperkosa kekasihku secara keji, yang menyebabkan kekasihku bunuh diri, dan aku dibutnya sepi dalam kepedihan dan kerinduan tanpa ujung ini.
“Jadi, apa alasan saudara memperkosa anak tiri saudara? Apa saudara tidak dilayani secara memuaskan oleh istri saudara ataukah saudara memang mempunyai kelainan jiwa?” tanyaku dengan nada yang dimuati rasa marah, yang membangkitkan naluri kehewananku untuk membunuhnya seketika. Tentu saja semua rasa marah itu aku pendam, aku kubur dalam seluruh jaringan urat darahku—hingga terasa bergetar, menggigil, dan bahkan seperti demam.
“Saya tidak tahu apa yang saya lakukan terhadap anak tiri saya. Boleh jadi saya tergoda setan ketika melihat belahan payudaranya yang kuning langsat itu,” jawabnya. Mendengar jawaban seperti itu, aku benar-benar marah dibuatnya. Aku gebrak meja hijau dengan tangan yang penuh. Aku meraung bagai seekor singa yang dilukai tubuhnya oleh anak panah yang dilepaskan seorang pemburu.
“Jadi itu bukan perbuatanmu, tetapi perbuatan setan? Dan engkau mencoba menyalahkan setan, bahwa setanlah yang menyebabkan engkau memperkosa anak tirimu sendiri? Sungguh keterlaluan. Jangan-jangan engkau sendiri adalah setan? Ya, setan yang tidak berpeprasaan, setan yang sama bejatnya dengan oknum-oknum penguasa yang kerap menyikat tanah rakyat, menyengsarakan rakyat. Kau wajib dihukum mati. Dihukum setahun dua tahun bagi pemerkosa itu tidak ada artinya—tidak setimpal dengan kepedihan orang yang diperkosa, menderita sepanjang umur. Kini aku jatuhkan vonis padamu, bahwa kau layak dihukum mati,” teriakku.
Kucing dalam pangkuanku, mungkin kaget mendengar teriakanku—melompat-cakar sambil mengeong. Dan aku seketika itu tersadar kembali ke dalam dunia nyata yang sunyi, panggung yang lengang dan sepi dari penonton. Malam semakin beranjak tua, keheningan semakin mengurungku dalam kesendirian dan kerinduan pada kekasihku yang kini tidur tenang di kedalaman tanah.
“Mengapa kau harus mati dengan cara itu, kekasihku? Mengapa tidak mati dengan cara yang wajar saja?” Hening. Tak ada siapa-siapa. Seekor kucing yang tadi kudekap—mengeong—lalu melompat ke arah yang gelap.
Esok paginya aku mendengar kabar, ayah tiriku kekasihku mati terkena serangan jantung di dalam penjara. [Bandung, 2000]









