MEMBACA ULANG LANGKAH 

don

Benar adanya bahwa dunia berubah dan semua berubah dengan cepat, sehingga ada banyak ruang untuk berkreasi, salah satunya media sosial. Begitu pula ada banyak keuntungan dalam menebar narasi, salah satunya bisa diikuti ragam generasi. Dan yang tak kalah pentingnya lagi; ada banyak cara untuk menjaga gengsi, salah satunya menata ekosistem diri.

Serta ada banyak sumber lapangan pekerjaan, salah satunya berani berselancar di dunia saluran. Namun yang harus kita pikirkan ke depan, bukan sekadar mahir berselancar di dunia virtual saja. Sebab jika hanya ingin cepat populer dan banyak pengikut, gampang dan mudah saja. Misalkan dengan menghubungi biro jasa follower merangkap komentar. Kemudian memasang iklan di Google untuk mempromosikannya. 

Di zaman kecerdasan buatan ini, tantangan menghadapi zaman kian menanjak dalam arus perubahan. Bisa dikata tak sekadar hitungan hari sudah bisa melupakan yang baru saja tranding. Namun ada satu yang tak bisa mengalahkan itu semua, yaitu karya-karya ilmiah yang murni, masih saja banyak dicari dan diminati dalam referensi. 

Generasi muda harus sadar kesana. Bukan sekadar jago main game, dan bikin konten populer, serta cari hiburan sekadar untuk kencan belaka. Benar adanya bahwa regenerasi muda harus melek digital, sebab setiap napas anak muda adalah napas zamannya. Sebagaimana program hulu ke hilir yang mewajibkan pendidikan digital itu penting sejak usia dini. 

Namun ada yang dilupakan dalam mencetak regenerasinya, yaitu bukan sekadar cara cepat untuk mencari uang semata dengan memperkaya wawasan bikin konten saja. Sebab warisan dari generasi ke generasi harus tetap ada supaya bisa diikuti dan berinovasi kedepannya, salah satunya itu dengan cara menciptakan konten-konten kreatif yang serius–perihal pendidikan karakter dan ilmu eksakta lainnya.

Hal ini menjadi penting guna generasi berikutnya tak sekadar puas dengan hiburan semata, tapi juga melek akan data dan budaya negerinya sendiri, jauhnya bisa mempertahankan keberlangsungan identitas negeri di tangan generasi berikutnya yang bakal terus menata masa depan bangsanya sendiri.

Kiranya kesadaran ini harus diwaspadai sejak dini oleh segenap elemen negeri, guna bisa melahirkan regenerasi yang bukan sekadar mandiri, tapi juga mampu mengayomi negerinya sendiri dari segenap ancaman disegala lini. Mampu memfilter akulturasi, misalnya. Tujuannya bukan sekadar membatasi aksi-reaksi dengan dunia luar, tapi itulah sejatinya bukti bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang bangga dan tumbuh oleh budayanya sendiri yang tak pernah terintimidasi–imbas dari akulturasi. 

Jangan sampai jati kasilih kujunti. Mari sedikit bercermin : Lihatlah Mesir dan Priramidanya serta cagar budaya dan peradabannya yang masih hidup sejak kini, begitu laris manis untuk dikunjungi. Disamping menjadi sumber devisa, mereka begitu bangga pada peradaban nenek moyangnya yang masih dijaga rawat sampai kini, sebagai warisan sejati dalam cermin mutlak karya adiluhung asli dari budaya yang lahir dan tumbuh di negerinya sendiri.

Katakanlah semodern-modernnya Kota Paris, tak melupakan semoyangnya dalam satu kesatuan utuh negeri Francis. Katakanlah Vincent van Gogh masih bisa diakses dengan mudah dari mulai sejak lahir sampai jadi sejarah. Begitu pun ketika kita berkunjung ke Italia, bagaimana Kota Roma masih berdiri kokoh dengan cagar budaya dan sejarahnya yang lengkap dan mudah diakses oleh para peneliti.

Tentu saja bukan sekadar peninggalan saja yang harus bisa dilindungi, tapi juga batas teritorial negeri serta penjajahan yang tersembunyi dengan dalih investasi luar negeri yang lamat laun atau tanpa disadari jadi pencuri legal yang dilindungi kebijakan penguasa negeri.

Karena keterbatasan halaman, sekiranya dicukupkan sekian. Ada pun hal-hal yang belum sempat dituliskan, merupakan pr bersama guna menentukan arah masa depan dalam berbangsa dan bernegara di bawah Panji Bhineka Tunggal Ika yang sudah jadi kesepakatan segenap elemen bangsa dan negara.

Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya mari sumbangsih solusi, biar terhindar dari ‘petaka abrasi’ selagi ‘meragi’ regenerasi negeri. Merdeka! []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *