I ).
SENI BUNYI DAN MANTRA DALAM ADAT ISTIADAT SENI KEHIDUPAN BANGSA NUSANTARA
Dalam bahasa Sanskerta yang selalu digunakan dalam Agama Hindu Dharma di Pulau Dewata, ada Istilah
Mantra,
tantra,
yantra,
dan vigyan, ini adalah komponen dari praktik spiritual dan mistik dalam Animisme, Dinamisme atau keyakinan dalam tradisi Hindu kuno yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan spiritual atau mengatasi masalah hidup.
Mantra adalah mantra atau Suara Suci,
Tantra adalah ajaran atau ritual yang mengkordinasikan energi spiritual,
Yantra adalah diagram geometris yang digunakan untuk fokus konsentrasi, dan Vigyan adalah pengetahuan atau sains di baliknya.
Mantra: adalah Kumpulan kata-kata atau bunyi (seperti bija) yang diucapkan untuk memanggil Para Leluhur, atau Para Dewa, untuk memurnikan pikiran, atau mewujudkan tujuan tertentu.
Tantra: Ajaran tentang Mudra, Yoga, yang berwujud kekuatan spiritual, dan dalam berbagai ritual.
Tantra sering kali melibatkan disiplin tubuh dan pikiran untuk menyelaraskan energi spiritual dengan cara yang ditetapkan dalam kitab suci atau ajaran inherent Sastra Jendra Pangruwating Diyu dalam Budaya lokal Jati diri bangsa Sunda Nusantara.
Yantra berfungsi sebagai alat atau media untuk mewujudkan tujuan hidup spiritual, simbol pemujaan, dan fokus konsentrasi bakti kepada Tuhan. Bentuk yantra bisa berupa lukisan geometris, arca, atau bahkan banten.
Vigyan: Berarti “pengetahuan” atau “sains”, yang merujuk secara inherent pada pemahaman mendalam tentang cara kerja mantra, tantra, dan yantra, serta cara menerapkannya secara tesnis efektif untuk mencapai tujuan spiritual dan praktis.
Fungsi Seni Bunyi Mantra dalam Budaya Sunda
Fungsi Seni Bunyi Mantra dalam Budaya Sunda sangatlah beragam, ada yang untuk mencakup pengobatan tradisional, seperti menyembuhkan penyakit,
pelindung diri atau tempat dari gangguan gaib, penyampaian doa dan harapan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,
serta alat untuk mempertahankan norma sosial dan budaya.
Mantra juga berfungsi sebagai media edukasi pendidikan dan pengetahuan lokal,
serta untuk mendapatkan kekuatan secara fisik atau metafisika, natural dan kekuatan supranatural atau kesaktian.
Fungsi Seni Bunyi mantra dalam budaya Sunda:
Pengobatan tradisional:
Berfungsi untuk menyembuhkan berbagai penyakit, meminimalisir rasa sakit, dan membetulkan tulang atau sendi yang cedera.
Mantra (jampe) digunakan sebagai “alat” pengobatan, sering kali dipadukan dengan ramuan tradisional seperti minyak kelapa atau air yang telah dimantrai.
Pelindung dan penjaga:
Rajah dan singlar:
Mantra ini digunakan untuk perlindungan diri, barang, atau tempat dari gangguan jahat, kejahatan, atau binatang buas.
Digunakan untuk Ruwatan atau Panglokatan membersihkan tempat, seperti membuka lahan untuk permukiman.
Media doa dan harapan:
Sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan Tuhan Yang Maha Esa untuk memohon harapan dan dikabulkannya keinginan.
Berisi doa-doa untuk berbagai keperluan, seperti kesembuhan, keselamatan, dan keberkahan.
Pemelihara norma sosial dan budaya:
Menjadi alat untuk mengesahkan pranata dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
Sebagai media untuk menyosialisasikan dan mengajarkan nilai-nilai tradisi kepada generasi penerus.
Media pendidikan dan pengetahuan lokal:
Mantra dapat berisi pengetahuan lokal yang berharga, misalnya mengenai tanaman obat dan cara meramu obat tradisional.
Memberikan pemahaman dan membuka wawasan tentang kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.
Pemberi kekuatan dan kesaktian:
Ajian: Mantra ini bertujuan untuk mendapatkan kekuatan diri, kesaktian, atau ketangguhan.
Pada masa lalu sering digunakan oleh para jawara, sementara kini juga bisa digunakan oleh atlet sebagai sugesti kepercayaan diri dan perlindungan saat bertanding.
Fungsi dan tujuan mantra
Dalam segi tujuan, maka mantra berfungsi sebagai sarana dalam suatu kelompok untuk menyampaikan aspirasinya, sebagai sarana lembaga budaya untuk memantau norma-norma masyarakat,
sebagai sarana pendidikan, dan dari segi makna. Mantra dapat diartikan juga sebagai Doa.
Dalam masyarakat Sunda istilah mantra dikenal dengan berbagai sebutan, diantaranya jangjawokan dan jampe.
Mantra secara tradisional adalah bunyi, kata, atau bahkan frasa pendek yang diucapkan dalam bahasa Sanskerta dan digunakan untuk tujuan meditasi .
Mantra diucapkan secara afirmasi atau berulang-ulang untuk membantu menjaga keseimbangan pikiran dan tubuh kita tetap fokus pada situasi kondisi saat itu.
Mantra memiliki ragam fungsi dalam kehidupan masyarakat Melayu, diantaranya adalah sebagai media komunikasi dengan Tuhan Yang Maha Esa, untuk dikabulkan segala harapannya dan sebagai pengetahuan lokal sehingga masyarakat dapat kuat bertahan dan beradaptasi dengan kehidupan lingkungan sosialnya.
Fungsi mantra sangat beragam,
seperti sebagai pengobatan tradisional, perlindungan spiritual, sarana upacara adat,
alat untuk berkomunikasi dengan alam gaib, penguat mental, dan pengesahan pranata budaya.
Mantra juga dapat digunakan untuk hal-hal praktis seperti untuk Hasil Pertanian Panen Padi, Palawija, dan memetik Hasil Hutan, membuka gembok yang disebut “Pangabaran”.
Beragam fungsi mantra:
Pengobatan: Digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, baik yang disebabkan oleh faktor fisik maupun yang dipercaya berasal dari gangguan gaib.
Perlindungan spiritual: Dipercaya dapat memberikan perlindungan dari bahaya fisik maupun spiritual, terutama saat melakukan perjalanan atau mengunjungi tempat-tempat keramat.
Upacara adat: Menjadi bagian penting dalam berbagai ritual adat, seperti upacara pernikahan, ritual pertanian, atau penobatan pemimpin adat.
Komunikasi dengan alam gaib: Digunakan untuk “berbicara” atau berkomunikasi dengan makhluk halus, seperti yang dilakukan oleh pawang hujan.
Penguat mental dan motivasi: Dapat memberikan kekuatan mental, meningkatkan kepercayaan diri, dan memotivasi seseorang untuk bekerja lebih giat.
Pengesahan pranata: Berperan sebagai pengesahan terhadap lembaga-lembaga kebudayaan dan norma-norma masyarakat.
Tujuan praktis: Memiliki fungsi praktis, seperti untuk membantu dalam pekerjaan tertentu seperti memetik nira ijuk, membuka gembok, atau membasmi hama.
Kesejahteraan holistik: Dalam praktik spiritual modern, melantunkan mantra diyakini dapat mengurangi stres, meningkatkan fokus, dan menyeimbangkan emosi.
Mantra secara etimologi adalah susunan kata atau kalimat yang berunsur puisi dengan rima dan irama, yang dianggap memiliki kekuatan gaib dan sering diucapkan oleh dukun atau pawang untuk mencapai tujuan tertentu,
seperti menyembuhkan penyakit atau memengaruhi sesuatu di luar kemampuan biasa. Berdasarkan etimologi Sanskerta, “mantra” berasal dari kata manas (pikiran) dan tra (alat), yang berarti “alat dari pikiran” atau instrumen pikiran untuk memfokuskan energi.

II ).
SENI BUNYI MANTRA DALAM ANGKLUNG DOGDOG LOJOR DI LEMBUR KANEKES BADUY
Fungsi utama seni bunyi mantra dalam angklung dogdog lojor di Baduy adalah sebagai sarana upacara adat, pengungkapan rasa syukur, dan penolak bala.
Bunyi yang dihasilkan oleh dogdog lojor digunakan untuk mengiringi berbagai acara sakral seperti Seren Taun (syukuran panen) dan ritual lain sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada Tuhan atas rezeki yang diberikan. Selain itu, bunyi ini juga dipercaya dapat menolak bala dan memberikan keselamatan.
Fungsi utama
Sarana upacara adat: Dogdog lojor sering digunakan dalam upacara adat penting, terutama seren taun yang merupakan upacara syukuran panen.
Fungsi utama
Sarana upacara adat:
Dogdog lojor sering digunakan dalam upacara adat penting,
terutama “seren taun” yang merupakan upacara syukuran panen.
Pengungkapan rasa syukur:
Bunyi pukulan dogdog lojor menjadi ekspresi kegembiraan dan rasa syukur masyarakat Baduy kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah.
Penolak bala:
Selain sebagai ekspresi syukur, bunyi dan ritual dogdog lojor juga berfungsi untuk menolak bala atau bahaya.
Menyambut kelahiran bayi:
Dogdog lojor juga dimainkan pada upacara memperingati 40 hari kelahiran bayi.
Hiburan:
Meskipun memiliki nilai sakral, dogdog lojor juga dapat digunakan sebagai media hiburan.
DOGDOG LOJOR
Dogdog lojor adalah alat musik tradisional tabuh dari Banten Selatan yang dimainkan dengan cara dipukul menggunakan tangan atau alat bantu. Nama “dogdog” berasal dari bunyi yang dihasilkan saat dipukul, sedangkan “lojor” berarti panjang karena bentuknya yang menyerupai silinder panjang. Alat musik ini sering digunakan untuk mengiringi upacara adat seperti Saren Taun.
Asal usul nama: “Dogdog” berasal dari bunyi “dog… dog… dog…” yang dihasilkan, sementara “lojor” berarti panjang, sesuai dengan bentuknya yang memanjang.
Bahan dan bentuk: Terbuat dari kayu berongga dengan salah satu ujungnya ditutup membran kulit kambing. Alat ini memiliki diameter sekitar 12-13 cm dan panjang hampir 1 meter.
Seni Angklung Dogdog Lojor di Lembur Kanekes Baduy
Seni Angklung Dogdog Lojor di Lembur Kanekes Baduy adalah repertoire kesenian tradisional yang menggunakan alat musik angklung dan dogdog (bedug) untuk mengiringi upacara adat, terutama ritual tanam padi dan upacara Seren Taun (syukuran panen). Kesenian ini menggunakan alat seperti 2 Dogdog Lojor (bedug panjang) dan 4 Angklung Besar, yang terdiri dari Angklung Gonggong, Kingking, Panembal, dan Ingklok, untuk menciptakan irama harmonis yang mencerminkan hubungannya dengan Alam Semesta.

Nama “Dogdog Lojor” berasal dari suara dan ukuran alat atau instrumen nya yang Lojor yang artinya Panjang, sedangkan istilah “Angklung Buhun” juga digunakan untuk membedakannya dari jenis angklung lainnya, Buhun yang artinya secara inherent “nu baheula, heubeul, bihari”.
Dalam Makna dan Karakteristik
Harmoni alam: Suara yang dihasilkan oleh Angklung Dogdog Lojor mencerminkan alam sekitar dan menciptakan suasana damai serta harmonis.
Nada sakral dalam Lagu yang dibawakan seringkali memiliki makna simbolis dan lirik yang sederhana, seperti pada lagu Adulilang yang memiliki makna mendalam tentang siklus kehidupan manusia.
Pewarisan ini secara turun-temurun: waditra atau alat musiknya dibuat diciptakan oleh orang-orang tertentu yang merupakan keturunan dari pembuat angklung sebelumnya, sehingga nilai kesenian ini hingga saat ini tetap terjaga secara inherent turun-temurun.
Mantra dalam seni beluk
Lirik Mantra, biasanya menjadi bagian dari lirik, syair atau rumpaka yang biasa disajikan dalam seni beluk.
Terintegrasi, dalam Mantra lirik syair rumpaka nyanyian beluk sering kali tidak terpisah, melainkan selalu menyatu selaras dalam alur lantunan syair yang saling bersahutan.
Makna dari Mantra dalam seni beluk berfungsi sebagai doa, harapan, atau ungkapan rasa dalam berbagai konteks budaya dan ritual.
Seni Bunyi Beluk
Seni Bunyi Beluk adalah tradisi vokal tradisional Sunda tanpa alat musik yang ditandai dengan suara melengking dan bergetar, dari jaman bihari seni beluk digunakan untuk alat komunikasi sosial daerah Sunda Agraris, juga sebagai ritual adat, atau hiburan.
Fungsi Seni Mantra dalam kesenian ini sering kali terintegrasi dalam lirik dan lantunan beluk yang bunyi vokalnya menjerit melengking menggunakan teknik vokal Oktav Tinggi, di mana tradisi ini juga dapat diiringi alat musik seperti dalam Seni Tabuh Terbang Gebés untuk pementasan modern.
Seni bunyi beluk,
Asal usulnya, Berasal dari kata “memanggil” (cumeluk atau caluk, nyalukan) atau eluk (dinamika suara), seni beluk awalnya berfungsi sebagai sarana komunikasi dalam budaya agraris dan ritual adat.
Padahal dalam kita dalam kesadaran pikiran, seni beluk bukan sekadar hiburan. Ia adalah warisan budaya tak benda sebuah tradisi lisan yang sarat dengan nilai sosial, spiritual, dan filosofis.
Dalam tradisi Sunda, beluk sering dilantunkan pada upacara adat, ritual keagamaan, kegiatan pertanian, hingga hajatan masyarakat.
Melalui vokal khasnya, beluk menjadi medium komunikasi antara manusia, alam, dan Sang Maha Pencipta.

Memasuki era modern, fungsi beluk perlahan bergeser. Seni ini tak lagi menjadi bagian penting dalam ritual masyarakat, melainkan hanya tampil sebagai hiburan sesekali. Generasi muda pun kurang tertarik mempelajarinya, karena lebih akrab dengan musik modern dan hiburan digital yang lebih praktis dan instan.
Minimnya perhatian dari pemerintah serta kurangnya dukungan lembaga kebudayaan memperparah kondisi ini. Program pelatihan, dokumentasi, dan regenerasi pelaku seni tradisi masih sangat terbatas. Akibatnya, keberlanjutan beluk kian terancam.
Meski begitu, beberapa seniman mencoba melakukan inovasi dengan menggabungkan beluk dan alat musik modern. Upaya ini menjadi angin segar agar beluk tetap relevan di mata masyarakat masa kini. Walau tampil dalam format berbeda, nilai filosofis dan kekuatan spiritual beluk tetap menjadi daya tarik tersendiri.
Nama Kanta, maestro beluk asal Kecamatan Surade, begitu melegenda. Suaranya yang kuat, melengking, dan penuh penghayatan mampu memukau pendengar dan menciptakan suasana magis dalam setiap penampilan. Ia menjadi ikon beluk di masanya.
Namun seiring waktu, cahaya beluk meredup. Setelah Mang Kanta wafat, hampir tidak ada penerus yang mampu melanjutkan tradisi dengan kualitas serupa. Beluk pun perlahan menghilang dari kehidupan masyarakat.
Beluk adalah napas budaya dan identitas masyarakat Sunda. Jika dibiarkan punah, maka lenyap pula salah satu jejak kearifan lokal yang berharga. Karena itu, pelestarian beluk harus menjadi tanggung jawab bersama.
Beluk bukan sekadar nyanyian. Ia adalah simbol harmoni, kesabaran, dan spiritualitas yang mencerminkan karakter masyarakat Sunda. Dalam setiap lantunannya, tersimpan pesan tentang hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.
Dengan sinergi antara pemerintah, seniman, akademisi, komunitas, dan masyarakat, beluk dapat kembali menemukan tempatnya. Kesenian ini bisa hidup berdampingan dengan budaya modern, selama jati dirinya dijaga.
Karena menjaga beluk berarti menjaga suara sejarah. Dan selama suara beluk masih bisa terdengar walau hanya sayup warisan budaya Sunda akan tetap hidup untuk menyapa generasi masa depan.
Sekian dahulu… Rahayu Salam
Pun Tabe Rampes… Run Turun Bayu Rahayu Sirna-sirna Sagala Rereged…
Hamemayu Hayuning Bhawana…
Bandung, 18.November.2025
dody satya ekagustdiman
Dosen Musik Angklung dan Bambu, Fakultas Seni Pertunjukan, ISBI BANDUNG…









