RENDEZVOUS

PENYAIR RUSIA

“Di Kafe ini, tiap sore, penyair Alexander Pushkin menghabiskan waktunya.”

Larik itu tertulis pada dinding kafe di tepi Sungai Neva, nun jauh di Kota St. Petersburg, Rusia sana. Petersburg atau Petrograd adalah kota yang paling tekun merawat tiap helaian sejarah di Rusia. Di banyak gedung, di dumma, kafe, lepow kopi, apartemen, plakat-plakat yang menandai pernah singgah orang besar, akan dipajang pada dinding temboknya. Saya tidak bisa bahasa Rusia, namun guide kami, Mrs. Henny M. Sujai, amat telaten bercerita, termasuk menunjukkan plakat yang bertuliskan Arseny Turbin pernah bermukim di salah satu apartemen. Arseny dikenal sebagey pencipta mesin Turbin.

Di hadapan kafe atau lepow kopi tempat Puskhin menghabiskan waktu itu, saya beruntung pernah berfoto bersama Benny Benke, wartawan Suara Merdeka, kawan sejawat sejak kuliah, dan kami sempat berkelana ke beberapa lokus, termasuk ke Rusia.

St. Petersburg amat mempesona bagi orang udik seperti saya. Sekian keagungan, yang disodorkan oleh Peter Agung, Kaisar Pendiri Rusia, dipelihara dengan begitu tekun mekipun pastinya rumit dan rigid. Gadung-gedung agung yang dibangun mulai abad 17, bukan saja masih terpelihara bangunannya, tapi cat pewarnanya hingga tahun itu, 2004, tak pernah diganti. Warnanya memang telah kusam karena dijerang oleh sengat matahari dan dibasuh oleh guguran salju. Di Kita, amat jarang ada bangunan yang cat-nya bisa bertahan 20 tahun. Malah rumah penduduk kebanyakan menggunakan gipsum campuran kapurnya telalu banyak, sehingga cat tembok mudah retak dan mengelupas.

Di Rusia, terdapat banyak kafe atau kedey untuk menggelar pertemuan, baik sekala banyakan atau hanya berdua. Pertemuan yang direncanakan tentunya, yang dalam bahasa Prancis disebut “rendezvouz”. Dari pertemua yang bukan sekadar menggosip, di mana gosip dilarang oleh agama, lahir sekian rencana. Termasuk rencana menggulingkan kekuaan Tsar Nikholas II oleh Lenin dan kawan-kawan, yang detail-detail rencananya dibahas dalam sebuah Rendezvouz di Kota Petrogard yang sekarang dikenal dengan St. Petersburg itu. 

Kota tersebut kemudian dijuluki Kota Museum terbesar di dunia. Di sana berdiri Museum Hermitage dengan entri lebih dari tiga juta. Jika satu benda dilihat selama 3 menit, maka dibutuhkan waktu 15 tahun untuk dapat melihat satu per satu seluruh benda yang tersimpan di Hermitage. Termasuk gedungnya yang indah menawan dan mengandung aura mistis, adalah koleksi museum. 

Koleksi museum The Hermitage rata-rata berusia minimal satu abad. Indonesia pernah diminta menghibahkan patung burung garuda. Presiden Megawati mengirimkan patung tersebut, tapi sayang usianya belum seabad, malah masih hitungan tahunan. Ketika box patung tersebut datang ke Hermitage, saat dibuka box-nya, muncul cecunguk (kecoa), dan para staf museum kelimpungan. Akhirnya segera dibasmi itu kecoa dengan insektisida.

Karena yang memberikannya Presiden, dan akan mengunjung Hermitage, patung garuda itu tetap dipajang, di bawah salah satu tangga yang nanti akan dilintasi rombongan pejabat RI. 

“Nah, di sana patung garuda itu dipasang. Namun keesokan harinya, patung itu segera diturunkan, karena tidak memenuhi kriteria sudah berusia satu abad lebih,” kata Mrs. Henny yang menjadi guide kami.

Mrs. Henny menambahkan, para pelajar dari SD hingga mahasiswa akan antri untuk bisa masuk ke gedung ini, sekalipun dibawah guyuran rinai salju. Itulah yang saya alami ketika penasaran ingin melihat lukisan-lukisan maetro dunia yang menjadi koleksi museum Hermitage, di antaranya lukisan karya Rembrandt, van Gogh, Rodin, dan lain-lain. Para pelajar SD akan dengan hidmat menyimak paparan guide saat menerangkan story dan history lukisan Rembrand van Rijk berjuluk ‘The Return of the Prodigal Son’, yang harganya sudah pasti ratusan milyar rupiah.

Saya datang ke Rusia, atas undangan dari Departemen Ilmu Bahasa Indonesia, Moscow Goverenment University, guna membawakan makalah kondisi sosial politik Indonesia menurut generasi muda, ditambahkan dengan pembacaan puisi diringi spontanisasi petikan gita oleh Benny Benke. Sekalian ke Rusia, maka dihubungkan juga ke St. Petersburg University oleh Mrs. Henny, dan di kampus tempat seluruh Presiden Rusia ngampus itu, saya membawakan makalah proses kreatif seorang penyair di haribaan Nusantara.

Pembacaan puisimu, mengingatkan kami kepada penyair WS Rendra, yang juga pernah membaca puisi di ruangan itu, tahun 1960-an. Kamu adalah penyair kedua dari Indonesia yang membaca puisi di ruangan ini!” Demikian komentar seorang profesor yang membuat hidungku berkembang dan serasa terbang. 

Bli Warih Wisatsana dari Bali, termasuk berdecak kagum saat saya memposting salah satu foto di beranda facebook. Sayang foto tersebut hilang bersama facebook saya yang di-banned oleh FB.

Sepulang dari St. Petersburg, orang udik ini kemudian membayangkan, berimajinasi, bahwa pada suatu hari, di tanah air, dapat mendirikan kedéy atau lepow tempat melakukan rendezvouz bagi para sastrawan jadi, maupun sastrawan calon besar. Tak ada yang tak mungkin selama masih di kolong langit, dan kata orang Jawa “Pangeran ora sare” (Tuhan tak pernah tidur). Tinggal kemudian menjalankan mantra klasik orang Latin yang berbunyi “ora et labora” (berdoa sambil bekerja).

Bayangan mendirikan tempat-tempat ‘rendezvouz’ itu terus saja berkelana dari waktu ke waktu, seakan bertawaf dalam ubun-ubunku. Saya bersama kawan-kawan mendirikan Konsorsium Wartawan Kebudayaan Nusantara, dengan Ketua Putu Fajar Arcana dari Koran Kompas, dan saya dari Koran Media Indonesia, didaulat menjadi Sekjen. Namun karena kesibukan jurnalis itu ternyata kadang melebihi anggota Pemadam Kebakaran, juga kadang wartawan itu terkena rooling dari posisi wartawan kebudayaan menjadi wartawan desk kriminal, akhirnya KWKN jalan ditempat, malah bubar sebelum buku kumpulan cerpen karya anggota KWKN terbit, yang rencananya diterbitkan oleh QB Word Book yang didirikan Richard Oh (almarhum). 

Musibah Tsunami di Aceh, bukan saja membuat KWKN bubar, malah saya harus mundur dari Koran Media Indonesia karena banyak hal, dan berpindah ke koran grup Jurnal Nasional (Jurnas) yang inisiasi pendiriannya oleh Presiden SBY. Di Jurnas ini, kami mendirikan Majalah Art indonesia (Arti), dan ini majalah, membuat saya tambah berkelana ke banyak galeri. Bisa dikatakan, seluruh galeri penting di berbagey kota di Indonesia, pernah saya datangi. Termasuk mengumpulkan 40 kurator seni rupa terdepan di Indonesia, yang didanai oleh Depbudpar. Tapi grup Jurnas juga tidak dapat memberikan ruang untuk saya mendirikan rendezvouz, meskipun telah didirikan ‘Bale 9’ yang dimanageri oleh Klara Sinta, putri dari mendiang WS Rendra. Kekuasaan SBY berakhir, Jurnas pun menggulung tikar.

Berakhirnya Jurnas, membuat saya mendirikan Koperasi Aktivis Renaisans Kebudayaan (Arpen). Mungkin wasilah-nya belum tiba, nasab dan nisab-nya belum tergariskan, sehingga dalam sebulan, Arpen hanya bisa merekrut anggota kurang dari 30 orang. Cita-cita mendirikan tempat ‘rendezvous’ pun ditangguhkan. 

Tahun 2015, saya mendirikan kedéy di pojokan gedung Skretariat Bersama, kampus UPI, dengan mimpi meracik serta mengekstrak rempah-rempah, sebagai obat dan vitamin tubuh, dari bahan pegagan (antanan), dari daun sirsak dan daun alpuket, sudah coba diekstrak. Namun itu kedéy ilegal, karena berdiri di kampus UPI, harus mendapat izin, dan tentu harus membawa sekian berkas legalitas formal. Akhirnya kedéy tutup layar, menggulung mimpi, dan saya banting setir mendirikan Sanggar dan Penerbit SituSeni dengan semboyan ‘Kesenian untuk Kemanusiaan, untuk Semua Kalangan.”

Penerbit SituSeni berdiri hingga sekarang, dan saya bisa ‘survive’ karena mengelola penerbitan indie tersebut. Namun ternyata lelah juga bekerja sendiri, dan ditambah dengan Pak Wina Armada Sukardi selaku salah satu donatur tiba-tiba wafat, maka cita-cita lama menghidupkan koperasi itu saya nyalakan kembali dengan batubara berupa pengalaman dan pertemanan. Itulah dua modal sosial untuk membangun koperasi yang kemudian sekarang diberi nama Koperasi Insan Sastra Indonesia (KISI).

Kali ini saya terharu dan optimistik, karena belum apa-apa, sudah ada 6 titik yang memberikan kepercayaan kepada KISI untuk mendirikan Kedéy Bunga Setara, tempat rendezvouz sastrawan dan calon sastrawan besar, sekaligus tempat workshop, diskusi, perdagangan umum, serta merencanakan sekian gagasan revolusioner agar dapat melompat jauh ke depan, menerabas batas melintasi imajinasi. 

Kita butuh berdiskusi, untuk menyadari, bahwa di atas langit masih ada langit, dengan kata lain, melalui diskusi, ilmu dan pengetahuan kita akan bertambah ketika mampu menempatkan diri sebagai murid yang siap ditempa! []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *