PENGAJIAN SINGKAT YANG BER-ARTI.,?!:

widi

Malam tadi, saya berpamitan kepada anak dan istri untuk mengikuti pengajian mingguan di mesjid dusun, di mana kami tinggal. Namun sebelum berangkat ke mesjid, saya mengantarkan pesanan uwa, serenceng kopi buat para pekerja di sawah yang kemarin beliau pesankan. Tiba di sana, saya langsung melihat uwa saya yang sedang berbaring di kasur, beliau sering sakit.

“Rek mingguan ayeuna?” Tanya beliau. “Hayang pangmencetankeun heula.” Saat itu pun, saya menghampirinya. Kemudian saya disuruh untuk makan dengan Angeun Kacang kesukaan saya. Ketika itu pun saya menjawab “Sok wen wang pencetan heula, tapi kela atuh ek ngeusian heula tanaga”. Maksudnya mau makan dulu.

Di layar televisi saat itu, me-nyiar-kan tayangan “Kisah Nyata Premier”. Saya menontonnya, sembari menikmati makan malam. Tak berselang lama, selesai makan kemudian menetralkan perut dengan sebatang rokok. Setelah mencapai isapan terkahir-hingga di bibir pabriknya, rokok saya matikan lalu memulai memijat.

Disela-sela menikmati pijitan tangan kaku saya, tayangan iklan menampilkan Hari Kartini. Seketika uwa saya menyampaikan tentang Kartini dan Sartika yang mempunyai makna sama yaitu, Arti. Pemaknaan yang mendalam saat ini tidaklah atau bahkan tidak pernah dilakukan, mungkin anak sekolah saat ini, bahkan sedihnya kebanyakan orang hanya melihat secara luarnya saja. Maka wajar saja yang sering terdengar akibatnya adalah kejahatan, dendam. Seperti dalam sinetron itu, tuh!

Apapun yang kita terima, tidak menjadikan sebuah petunjuk. Seharusnya habis gelap, terbitlah terang sebagaimana kalimat yang pernah dilontarkan Kartini. Saat itu sembari menonton film indosiar, pemerannya bernama ilham. Peran si Ilham di kisah itu, pemuda yang tinggal sendirian selepas ditinggalkan ibunya. “Eumh… Maneh sorangan, jaba teu boga gawe”, Uwa istri menyelami ceritanya.

“Kapan eta keur usaha batur mah, justru usahana teh mgilm”. Kata uwa pameget. [mgilm; maksudnya, main film. Saya sedikit tertawa. Perlu intelektual yang tinggi kalau mendengarkan dan berbincang dengan uwa saya. Tidak ada manusia yang tidak berusaha, semuanya berusaha. Menikamati perannya itu termasuk usaha.

Seketika, tayangan berubah ke acara lain “Pintu Berkah Beraksi.” “Sudah macem-macem wen manusia saat ini neangan duit,” pungkasnya uwa pameget.

Saya melihat sebentar, namun tak menarik. Hingga kemudian saya bergegas pulang, sembari membawa jerigen kosong untuk saya isi air yang uwa saya butuhkan buat memasak air minum. Pengajian mingguan sepertinya sudah beres, pengajian singkat tentang nonton teve dengan uwa saya pun berhenti. Saya pulang.

Saat saya memundurkan motor, saya teringat mesin pompa di rumah belum dimatikan, saya langsung men-gas motor. Sepanjang perjalanan mulut saya dengan lantang melantunkan Shohibus Syafaah,

صَلِّ وَسَلَّمْ دَائِمًا عَلَى احْمَدَا
Sholli wa sallim daa iman ‘alaahmada
وَالْآلِ وَالْأَصْحَابِ مَنْ قَدْ وَحَّدَا
Wal aaali wal ash-haabi man qod wahhada.

Setibanya di rumah; terdengar dari penegeras suara mesjid, yang melantunkan do’a kafaratul majelis. Rupanya, tak jadi ke mesjid. Tapi bisa jadi ngaji bareng uwa saya lebih ber-arti.

[Nagaratengah, 22 April 2025]


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *