AGITASI DI BULAN JULI

agitasi

Selagi asyik menulis, ada tamu tak diundang. Mereka datang bergerombol memasuki pagar rumah. Semua konsentrasiku buyar seketika. Jejak imaji beterbangan ke ruang-ruang tak terduga dan tak bisa kembali. Oh, betapa mahalnya imaji bagi seorang penulis.

Mereka yang datang itu katanya suka mengaji, tapi tak mau mengkaji diri. Pantaskah datang dan membuka pintu tanpa menyapa terlebih dahulu, meski pemilik rumah sedang ada di beranda untuk diburu? Laju menembakan peluru-peluru tanya, tanpa belum selesai dijawab sudah ada tanya lain dari objek lain lagi yang menembakan peluru tanyanya.

Selepas sadar salah sasaran, mereka pergi tanpa membawa kepenasaran dengan pulangnya pun tanpa adanya penyadaran. Laku-laku melaju pergi, tanpa permisi terlebih dahulu. Adakah itu yang bernama gede hulu? Ya, lebih indah hujan di bulan Juli meski datangnya tanpa permisi, tapi mampu menyuburkan segenap keturunan Dewi Sri. Padi-padi kian subur. Para petani terhibur.

Jadi sangatlah wajar kala para pujangga mengabadikan hujan di bulan Juli jadi adikarya. Ah, ini sebenarnya zaman apa? Katanya zaman sabaraya? Tapi kenapa, masih ada saja yang seperti itu: laku Jailangkung masih jadi menu favorit dalam aplikasi. Wangi terasi dari sambal buatan istri, hilang selera juga untuk dieksekusi.

Dasar kaum manipulasi datang-datang membawa segudang agitasi tanpa tahu alamat pasti. Ini kisah tersaji. Bukan pula peristiwa basa-basi. Lumayan juga jadi diary. Jika aku seorang pujangga, tentu saja jadi puisi, bukan tulisan biasa yang Anda baca! []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *