PUISI Ayie S Bukhary

PANGSANG KOSAPOIN

TIDAK JUGA

Berkah tidak datang ujug ujug dari langit
Seperti jatuhnya komet dari angkasa luar
Yang ekor cahayanya habis terkikis oleh gesekan padat dan hilang dari pandangan
Tidak pula datang dari harapan hamba sahaya penyembah kehampaan
Melainkan milik kemerdekaan kesadaran murni
Yang melekat di dada pencari arti paripurna
Dalam setiap benih tertanam di sel sel tubuh
Batang tubuh kokoh
Akar mencengkram kuat
Taman subur tempat tumbuh benih benih pilihan
Hijau rimbun sejuk udara
Aneka satwa riang saling sapa
Mengitari berpusat pada kesadaran
Itu berkah karena upaya semata mencipta
Juga tidak datang dari doa

Bandung, 1132026 – 21 Ramadhan 1447 H

SELILIT RUMIT

Diwanku sedikit kosong sebagai manusia
Jauh dari harap yang pernah tersirat
Isi selalu berubah warna
Kadang keruh hingga bayang tubuh tak labuh
Merah hati sekali waktu beludru
Hitam pekat semburat berkarat
Putih kusam mendekati terakota
Sesekali asing dari kamus warna
Rumah kaca robek selaput langit bolong ozon
Isi diwan sebagian menguap tak terserap
Harap jadi manusia manfaat sekarat
Pupus dalam pencarian nikmat
Isi diwan kerap berasap madat
Ritual cinta aliran arak
Rasa sayang belang alang kepalang
Campur aduk rindu suntuk meliuk
Diwanku tidak pernah penuh terisi
Menyulitkan arti jadi manusia terbuka jagat raya
Habis waktu di ruang tunggu

Bandung, 1132016

PUISI Yesmil Anwar
Baca Tulisan Lain

PUISI Yesmil Anwar

MENGAMPAK CONGKAK

Akan aku belah kepala sampai berhamburan
Sehingga kenormalan jadi sebilah pedang
Terhunus seperti api di rotasi bintang
Membakar penyelusup rasi musabab goyah benderang
Aku kunyah jantung hingga perih lantak
Mulut merah darah api naga teriak menyalak
Dan labirin jelas jalan untuk beranjak
Dibajak gembur subur bertabur cinta berarak
Bagi yang datang kemudian runduk
Atau sekedar berkunjung menjenguk
Membawa gairah sesudah meneguk
Taman merah hati berdegup runduk

Bandung, 232016

PUISI Diro Aritonang
Baca Tulisan Lain

PUISI Diro Aritonang

SINGGASANA

Masih berjuta galombang kata yang belum terungkap.
Dalam udara, samudra lepas, tinggi langit, luas jagat
Milyaran serat saraf yang mendenyutkan cikal bakal kehidupan
Tetap saja manusia merasa hebat dari yang lainnya
Kata-kata yang berserakan licin belut lepas tangkap
Sedikit yang menangkap, tidak terkecuali pujangga pengungkap.
Tabut berselimut kabut menunggu yang beringsut
Untuk memberikan tuahnya masih menunggu di rebut

Bandung, 232017

PUISI Nurrahmat SN
Baca Tulisan Lain

PUISI Nurrahmat SN


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *