DUPA REKAYASA
Sakralitas hambar hingga buram gambar
Ruang dada dan kepala hilang siar
Sujud syukur berhenti selancar
Sepanjang koridor terpindai akselerasi berkecepatan teknologi tinggi
Berdialog syahdu dengan artificial intelligence
Serba cepat dan mudah dijambangi
Romantisme ruhani berkedip mati suri
Dinafikan intensitas kemudahan selancar
Musikalitas komputerisasi berpendar
Menyisakan syair kokoh siar
Verbalitas bahasa yang belum terpapar
Nostalgik gambar disulap simsalabim adakadabra
Maka jadilah kekinian tertipu daya
Seperti mainan anak penuh tawa
Masuk menusuk pula pada segala
Ruang ruang berwujud goa
Seperti zaman batu semula
Yang berubah tempat semata
Tinggal kata yang bebas
Belum terkontaminasi tegas
Bandung, 982025

SAJAK-SAJAK Galih M. Rosyadi
PALUNG BERPALUNG
Sebuah kelemahan diri telah membuka monster untuk masuk
Menguasai hidup memberi stempel prilaku surealistis
Selera humor yang ironi
Ketidak mampuan diri bersubversi pada kemapanan tafsir
Yang telah kuat di pindaian
Dan merusak struktur kuasa
Lemah disana sini
Karena jerih mengeluarkan magma yang bergolak
Semakin berlapis lapis mengeras hapir tanpa celah
Mati berdaya jadi cover yang tegas
Konsekuensi dari terbukanya kelemahan
Seperti kran loncer hilang bendung menampung
Jelas celaka penciptaan diri
Tenggelam di candradimuka
Menapikan nirwana diri
Memotong kepingan demi kepingan
Yang seharusnya utuh individu
Matilah !
Gejolak diredam sendiri penuh kelemahan
Bila saja ada kesadaran dengan kecerdasan membaca
Belum usai bila usia masih dipindai
Tutup pelan pelan pintu masuk monster
Buka jendela untuk masuknya segar udara
Ruang sedikit terang
Tata bacaan dan tulis untuk pustaka
Korek lapisan lava yang keras
Biar magma keluar menghangati ruang
Tremor sudah pasti terjadi
Sebagai subversif diri penafsir
Bukan untuk siapa
Melainkan untuk utuh jadi bab bab buku
Pengisi ruang pustaka raya
Bandung,982025

PUISI Yusef Muldiyana
FANA
Kematian bukanlah musibah
Hak ketika kewajiban usai
Dan hidup di kalbu pecinta
Itu ruhani yang tidak pupus
Bandung, 782016
Menapaki Sepi :
Transaksi diri
Jadi kawula Gusti
Di malam sunyi
Bandung, 782018

PUISI Ayie S. Buckhary
Aroma Metropolis :
Kemarau dingin
Belah tanah berdebu
Kering ke kulit
Aroma kota bergeliat di pembuangan
Limbah sampah meruah
Sebuah identitas peradaban para nomad
Pecah perawan rumah kaca berlendir
Kanker di akrabi sebagai konsekuensi
Mengalir disanitasi setiap penjuru rumah
Hirupan udara petaka nyata
Bablas tidak di tata di lupa
Neraka itu ada di sewarga fana
…
Bandung, 782018

SAJAK-SAJAK Yoyo C. Durachman
TEMPUHAN UNTUK BATAS
Bila aku terus-terusan menulis bukan berarti lebih dari yang lainnya
Menanam menaburkan benih seperti petani
Atau menggali sesuai kedalaman yang dibutuhkan
Untuk pondasi yang diperlukan dari sebuah bangunan diri yang tidak kunjung khatam
Keluasan lahan tidak semua bisa tergarap
Keterbatasan sudah tentu menyertainya
Tidak pelak lagi keberdayaan yang ada sebagai batas
Kehendak sudah pasti semua maunya tergarap
Seperti hasrat kenyamanan bertempat
Segala fasilitas didapat
Tentu itu tidak terjadi pada sifana
Dan mustahil diraih
Dengan kesadaran penuh aku memahaminya
Maka aku terus menabur dan menanam
Sebagai diri yang kurang
Semata mata untuk kelapangan
Walau utopis dimata kenyataan
Sadar sekali kalau idea hanya ledakan kekecewaan
Ini hanya mendefinisikan diri
Bandung, 482025









