Luka Liku Panda
Kita hanya sebatas merenungkan jejak pikir,
Meramu makna dalam takdir yang samar.
Di titik separuh perjalanan ini,
Di usia setengah dari kematian yang umum diberi.
Luka liku perjalanan kian membuncah,
Di antara gelombang keangkuhan yang tak pernah reda.
Aku hanya mampu menekan dada,
Sementara di balik mata yang berkaca,
Hujan semakin menderas tanpa jeda.
Namun setidaknya,
Serangkaian kata yang pernah berbisik pelan,
Menemukan ruang bahagia, meski sesaat,
Tempat sejenak jiwa lelahnya berakhir dengan kalimat,
Tuhan selalu ada ketika kita luka.
Memang, takdir teramat tersembunyi,
Biarlah perjalanan ini kita rangkai tanpa cemas,
Dipeluk rindu yang sunyi,
Di antara tulisan-tulisan yang mungkin tak dianggap bernas.
Tasik, 2024

SAJAK Juniarso Ridwan
Hajat Langit
Tuhan, untuk selebihnya terserah pada-Mu
Aku hanya minta detak dan detik menghujam langit
Hingga tumpah ruah airmaya cinta-Mu
Membasahi dadaku yang tandus
Menghidupkan kembali jiwa yang tak terurus
Tuhan, aku tak meminta banyak
Hanya seberkas cahaya dalam gelap
Hanya sepenggal harapan,
di tengah himpitan gelombang dunia
Agar aku tetap berdiri, dan terus mengabdi
Tuhan, selebihnya biarkan Kau yang menulis
Aku hanya secarik kertas di tangan-Mu
Menorehkan cerita yang Kau kehendaki
Karena aku tahu, setiap detik dalam kuasa-Mu
Adalah cinta yang tak pernah kupaksa dituruti
Garut, 2024









