Memandang sebuah gunung dari jarak dekat, tidak seindah memandang dari kejauhan. Seperti halnya perbincangan hangat warung kopi, seorang pemuda bermata empat menghampiri rumah pelarian. Kabarnya, ia sedang sakit kepala dan ingin merasakan ketenangan. Berbagai macam peristiwa ia ungkapkan, sejak duduk sekolah esemka sampai bangku kuliahan. Tak dinyana, ia pun mengabarkan di sebuah sekolahan tempat ia bekerja, mengetuk dadanya yang lapar, haus pengetahuan.
Namun, keadaan pemuda tersebut sedang penuh keberatan dengan beberapa sikap dan pandangan dari rekan kerjanya. Ya, hadapi saja! Kataku, setidaknya mendapatkan pundi rupiah yang ditransaksikan oleh pihak yayasan demi kelangsungan hidup di perantauan serta sedikit bicara banyak bekerja, itu hal yang sederhana yang patut kita lakukan.
Alih-alih bahasan, sampai membaca lambang kemanusiaan kita berbincang dan merancang pertemuan antar kawan, bahwasanya kita akan secepatnya mengagendakan liwetan atau sekadar minum kopi di pinggiran sungai. Biasa, sambil membuang napas panjang dan refleksi peristiwa kehidupan.
Sekitar jam makan malam, beberapa pertanyaan kian dilontarkan. Pemuda itu membuka mulutnya dengan lebar, ia mengucapkan beberapa hobinya yang multitalenta. Namun, ia belum bisa membunyikan dirinya dengan sendirian, padahal potensinya teramat sangat brilian. Sehingga, pada jam akhir makan malam kita merumuskan beberapa agenda kegiatan ngopi siang. Di lain waktu kita bertemu dengan seorang guru yang pandai merawat hatinya dan memandang kita sebagai manusia.
Kenangku, sebelum lekas ia menuju pulang. [Tasik, 2023]









