MEKAR SEHABIS HUJAN

mekar

Mawar adalah seorang gadis kecil mungil, tubuhnya ringkih seperti ranting muda, kulitnya putih bersih seperti kapas yang belum pernah disentuh debu. Matanya bulat, bening, dan selalu memandang dunia dengan rasa ingin tahu yang besar. Ia anak tunggal dari pasangan suami istri yang sangat menyayanginya. Bagi ayah dan ibunya, Mawar adalah cahaya di rumah mereka. Kecil, lembut, tapi menyinari segala sudut dengan kehangatan.

Sejak kecil, Mawar dikenal sangat berani. Ia tak takut gelap, tak gentar berbicara di depan orang banyak, dan selalu maju paling depan saat ada tugas di sekolah. Tapi di balik keberaniannya itu, ada satu ketakutan yang diam-diam bersarang dalam hatinya, ia takut membuat orang tuanya sedih. Bahkan, terlalu takut. Namun di balik senyum Mawar, Mawar selalu ingin melakukan segalanya dengan sempurna.

Nilainya harus tinggi, gambarnya harus rapi, bajunya tak boleh kotor. Semua harus sesuai dengan apa yang ia harapkan, seolah jika sedikit saja melenceng, cinta ayah dan ibu akan memudar. Padahal tidak pernah, tidak sekali pun, orang tuanya menuntut hal-hal besar darinya.

Barangkali itu semua hanyalah ketakutan Mawar saja, atau bisa jadi karena ia anak yang patuh pada kedua orang tuanya, sehingga ia ingin membahagiakan mereka dengan segenap kemampuannya. Dan kemungkinan terakhirnya itu — bagi Mawar — letak sumber bahagia kedua orang tua itu ada pada anaknya, yang bisa dibanggakan oleh mereka? Bisa jadi demikian!

Terangnya: Suatu hari, Mawar mengikuti lomba menggambar di sekolah. Ia sudah membayangkan karyanya akan jadi yang terbaik. Tapi saat pengumuman pemenang dibacakan, namanya tidak disebut. Mawar pulang dengan mata basah, menunduk di hadapan ayah dan ibu.

“Aku gagal…” bisiknya lirih. “Aku pasti mengecewakan kalian…”

Ayahnya mengangkat dagunya perlahan, menatap matanya yang sayu. “Nak, kamu tidak perlu jadi yang terbaik untuk membuat kami bangga.”

“Iya,” tambah ibunya sambil membelai rambutnya. “Apa pun hasilnya, kamu tetap gadis mungil kami yang berani mencoba.”

Mawar terdiam. Hangat menyelimuti dadanya. Untuk pertama kalinya, ia sadar dunia tak akan selalu sesuai harapan. Tapi cinta keluarganya tak pernah berubah.

Ayah dan ibunya selalu membimbingnya dengan sabar, menanamkan dalam hatinya bahwa dunia tak selalu berpihak pada keinginan kita. Tapi dengan doa, ikhtiar, dan kepercayaan kepada Allah, hati akan kuat menerima apa pun yang datang.

“Mawar,” kata Ayah suatu malam, sambil menyelimuti tubuh kecil anaknya, “kamu akan terus jadi gadis mungil kami yang paling berani. Bukan karena kamu selalu berhasil, tapi karena kamu berani mencoba, dan berani menerima jika hasilnya tak seperti yang kamu harapkan.”

Mawar mengangguk kecil, senyumnya mengembang. Ia tahu, selagi ada cinta, usaha, dan keyakinan, tak ada kegagalan yang benar-benar menakutkan.

Dan malam itu, di bawah langit yang sunyi, Mawar tertidur dengan tenang — seperti bunga kecil yang tumbuh perlahan, tak sempurna, tapi penuh harapan.

Keesokan harinya, Mawar terbangun dengan senyum kecil yang belum pernah ia sadari sebelumnya. Bukan karena semuanya sudah sempurna, tapi karena hatinya mulai menerima bahwa tak apa jika tidak selalu berhasil.

Ia membuka jendela, membiarkan cahaya pagi menyentuh wajahnya.
“Hari ini, aku akan tetap berusaha, bukan untuk menjadi sempurna, tapi untuk menjadi ikhlas,” bisiknya dalam hati.

Dan senyumnya pun merekah – lembut, penuh cahaya, dan tumbuh dari hati yang mulai berdamai. Seperti mawar yang mekar seabis hujan. []

UPS!
Baca Tulisan Lain

UPS!


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *