AKIBAT NONTON DRACIN: SLOBODON, KOPI, DAN EPISODE KE-17 KEHIDUPAN

slobodon

Tasikmalaya —

Slobodon, 41 tahun, setiap pagi duduk di warung kopi sambil menatap layar ponsel. Yang ditontonnya bukan berita, bukan ceramah, melainkan drama Cina (dracin) dengan durasi rata-rata 90 episode. Dari kebiasaan inilah lahir sebuah keyakinan: hidup hanyalah soal waktu, tinggal menunggu episode.

“Di dracin, semua penderitaan itu cuma jeda sebelum bahagia,” kata Slobodon, sambil menyeruput kopi dan menghabiskan sebatang rokok.

Ia hafal betul polanya: gadis desa miskin ternyata anak konglomerat, CEO tampan pura-pura miskin demi cinta sejati, orang biasa menikah dengan pewaris perusahaan multinasional. Yang miskin akhirnya kaya, yang kaya tetap kaya. Semua bahagia. Kecuali penonton yang lupa bayar listrik.

Namun, berbeda dengan alur sinetron, hidup Slobodon sudah masuk episode ke entah berapa dan tetap miskin. Ia menyebut dirinya “miskin original” bukan miskin strategis, bukan miskin sinematik, apalagi miskin sementara sebelum naik jet pribadi.

Meski demikian, di dalam kepalanya, Slobodon adalah CEO. Ia mengaku memimpin perusahaan imajiner bernama PT Angan-Angan Sejahtera, dengan jabatan Direktur Utama Divisi Lamunan dan Komisaris Bidang Harapan Kosong.

“Setiap ngopi, saya rapat. Setiap rokok, saya presentasi. Setiap melamun, saya merger,” katanya.

Survei surveian di kedai kopi : Dracin dan Bapak-Bapak Pengangguran Waktu

Fenomena Slobodon bukan kasus tunggal. Survei kecil yang dilakukan di enam warung kopi dan tiga pos ronda di kota saya ti ggal menunjukkan bahwa mayoritas penonton dracin adalah bapak-bapak berusia 35–60 tahun dengan waktu luang melimpah pengangguran terselubung, pekerja serabutan, pensiunan dini, hingga korban PHK.

Dari 73 responden, 61 orang mengaku rutin menonton dracin, dengan durasi rata-rata 2–4 jam per hari. Sebanyak 48 orang mengatakan dracin membuat hidup terasa “lebih ringan,” sementara 29 orang mengaku sering membandingkan hidup mereka dengan tokoh dalam cerita.

“Kalau di film aja bisa berubah nasib, masa kita nggak?” ujar Asep, 52 tahun, penonton setia dracin genre CEO jatuh cinta.

Namun, 37 responden mengaku merasa frustrasi setelah menonton. “Di film miskin bentar, kita miskin seumur hidup,” kata seorang responden yang meminta namanya disamarkan.

Antara Hiburan dan Halusinasi Sosial

Menurut pengamat budaya populer, dracin berfungsi sebagai pelarian massal dari realitas ekonomi yang buntu. Alur cerita yang repetitif dan penuh keajaiban menjadi semacam morfin sosial: mengurangi rasa sakit, tapi tidak menyembuhkan penyakit.

“Ini bukan sekadar hiburan, tapi mekanisme bertahan hidup,” kata seorang sosiolog sebut saja bunga. “Saat mobilitas sosial mandek, imajinasi menjadi satu-satunya jalan keluar.”

Slobodon mengakui hal itu.

“Justru karena hidup bukan sinetron, aku bikin sinetron di kepalaku sendiri. Biar nggak bunuh diri,” ujarnya pelan.

Mimpi, Kopi, dan Episode yang Tak Kunjung Tamat

Malam hari, Slobodon bermimpi menjadi CEO besar. Ia naik mobil mewah, memakai jas, menikahi gadis desa yang ternyata putri taipan. Pagi hari, ia terbangun di kasur tipis, atap bocor, dan perut kosong.

Namun ia tetap percaya diri.

“Di negeri ini, mimpi satu-satunya kekayaan yang nggak bisa disita,” katanya.

Bagi Slobodon, merasa kaya adalah strategi bertahan. “Kadang, merasa kaya itu satu-satunya cara agar orang miskin tetap hidup.”

Di warung kopi, ia menyalakan rokok, menyeruput kopi, dan menatap layar ponsel.

“Tenang,” gumamnya, “hidupku baru episode 17. Masih panjang. Masih bisa absurd.”

Di antara realitas yang kejam dan khayalan yang terlalu baik, Slobodon memilih berdiri di tengah: menertawakan hidup, sebelum hidup menertawakannya.

Dan seperti dracin yang tak pernah kehabisan episode, kehidupan pun terus berputar..dengan harapan, ilusi, dan secangkir kopi yang tak pernah benar-benar manis.

BISMILLAH
Baca Tulisan Lain

BISMILLAH


Apakah artikel ini membantu?

Tulisan Lain dari Penulis :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *