APAKAH MALAM INI MALAM LAILATUL QODAR

yusef asa

Ramah tamah malam menyapa dengan sejuk, merasuk celah-celah mantel, meraba tubuh. Langit pun menyapa mata untuk melihat ke langit milik Sang Pencipta. Langit memamerkan perhiasan yang bernama bintang yang berkedip dengan beribu warna. Hiasan langit tidak hanya memamerkan bintang; bulan pun dipamerkan dengan bentuk seperti semangka yang dibelah sebelah, warnanya kemerah-merahan, hampir mirip seperti nampan. Lantunan sura ayat-ayat para perindu di rumah Sang Maha Pencipta merasuk ke dalam telinga, menjalar sampai menenangkan hati dan merangsang pertanyaan: apakah malam ini malam Lailatul Qodar yang dirahasiakan?

Aku pun melangkah pergi ke kursi di depan rumah saudaraku. Kopi pun disuguhkan bersama rokok kretek. Kopi pahit kuteguk, sebatang rokok pun kuhisap. Asap keluar berlari ke atas, sampai membawaku pada tulisan Simbah Aenun Nadjib. Ajaib, ya. Saya membaca tulisan itu seperti dialog langsung bersama raga yang jauh, namun terasa seperti berhadapan antara cucu dan kakek.

Bah, apakah malam Lailatul Qadar malam ini? Malam istimewa itu adalah hak prerogatif Allah yang bisa turun kapan saja, tidak terbatas pada malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadhan. Lailatul Qadar adalah anugerah di mana Allah menunjukkan kemurahan-Nya, dan manusia bisa mendapatkannya dengan cara memikat hati Allah melalui ketulusan beribadah, bukan sekadar mengejar tanggal tertentu.

Aku pun diajak pergi bersama beliau untuk melihat tulisannya tentang Kiai Sudrun yang mendapat Lailatul Qadar.

Setelah semua orang berkumpul, Kiai Sudrun membaca salah satu firman: “InNa anzalNahu fi lailatil qadr” diulang-ulang, kemudian: bukan “InNa anzalNa lailatal qadr”.

“Allah menurunkan Al-Quran pada malam Lailatul Qadar, bukannya Lailatul Qadar akan diturunkan oleh Allah dan kita menanti-nantikannya, apalagi dengan pembayangan bahwa Lailatul Qadar adalah rezeki materiil dan keduniawian. Kapan saja engkau merasakan dan menemukan Al-Quran turun mencahayai jiwamu, pasti yang mengantarkannya adalah ‘tanazzalul Malaikatu war-Ruhu fiha’, yakni para Malaikat dan Paduka-Ruh yang menaburkan qadar-Nya Allah kepadamu, ‘hatta mathla’il fajr’.”

“Andaikan pun kau gadang-gadang Lailatul Qadar adalah rezeki dunia, baik untuk memenuhi kebutuhan keluargamu, keajaiban bagi Bangsa dan Negaramu, atau karena semangat ingin kaya raya harta benda—maka insyaAllah itu semua terkandung di dalam informasi nilai Al-Qur`an.”

Aku pun tergugah dan terpesona dengan tulisan Simbah yang sufistik ini. Aku hanya bisa bersyukur, Alhamdulillah, punya orang tua yang selalu memberi ketenangan, kelapangan, dan damainya hati.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Allahummaghfir lī waliwālidayya warḥamhumā kamā rabbayānī ṣaghīrā.
“Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta sayangilah mereka sebagaimana mereka telah menyayangiku ketika aku kecil.”

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِمَشَايِخِنَا وَلِمَنْ عَلَّمَنَا وَارْحَمْهُمْ وَأَكْرِمْهُمْ بِرِضْوَانِكَ الْعَظِيمِ فِي مَقْعَدِ الصِّدْقِ عِنْدَكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Allahummaghfir limasyāyikhinā waliman ‘allamanā warḥamhum, wa akrimhum biridhwānikal ‘aẓīm fī maq‘adish-ṣidqi ‘indaka yā arḥamar-rāḥimīn.
“Ya Allah, ampunilah para guru kami dan orang-orang yang telah mengajarkan ilmu kepada kami, rahmatilah mereka, dan muliakanlah mereka dengan keridaan-Mu yang agung di tempat kemuliaan di sisi-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”

Aamiin, insyaAllah aamiin.

PUISI Sosiawan Leak
Baca Tulisan Lain

PUISI Sosiawan Leak


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *