Ketika puji-puji sudah dibaca, kalam khotbah itu seolah kalam itu hanya untukku. Suara kalam itu serasa duduk di daun telinga, tidak mau beranjak pergi. Suara itu pun menjalar ke bawah, menyapa kaki menuju rak tempat buku, menyapa tangan memberi isyarat untuk membawa kitab suci, dan menyapa mata memberi isyarat untuk segera membuka kitab suci dan langsung menuju ayat yang bapa baca di atas mimbar.
Aku pun tidak pandai mengartikan ayat itu, soalnya belajar nahwu ya tidak serius. Aku pun membawa kitab suci terjemahan. Mata pun tidak sabar untuk langsung menuju surat Al-Alaq:
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
١ – اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ
“Demi nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”
Ayat Al-Alaq pun tidak semua dibaca, hanya satu ayat. Hati pun bergumam, “Kenapa bapa melontarkan ayat itu?” Seolah-olah bapa tahu bahwa aku sekarang jarang menulis dan membaca. Hati pun terus bergumam sampai kepala pun ikut memutar menari bersama ayat itu. Tarian pun berhenti sejenak, ternyata oh ternyata kata itu merujuk pada informasi situasi sekarang tentang berita-berita yang berseliweran melesat cepat dalam hitungan detik, bahkan hampir mengalahkan roket cepat.
Kalau dapat informasi harus kritis dan analitis, karena membaca dengan metode ini pun dapat informasi lebih baik. “Lamun aya berita teh henteu langsung di teleg, kudu maca hela bismillah terus engges na alhamdulillah.” ucap bapak kala itu
Pengalaman ini pun membuatku menyadari bahwa membaca bukan hanya sekadar membaca teks, tetapi juga memahami dan menghayati maknanya. Dengan membaca kritis dan analitis, kita dapat memperoleh informasi yang lebih baik dan membuat keputusan yang lebih tepat. Oleh karena itu, kita perlu membudayakan membaca dan meningkatkan kemampuan membaca kita dengan kritis dan analitis.
Dengan demikian, kita pun dapat memperoleh manfaat yang lebih besar dari membaca dan meningkatkan pengetahuan serta wawasan kita. []









