Terkadang ilmu itu menghalangi pada sampainya. Karena itu ada istilah kadang elmu tèh ngahijab kana wushul. Sebagaimana Abuya Uci pernah berkata : “Sholat yang paling nikmat itu shalat yang ketika kita melakukannya sejak takbir — kita sudah merasa bahwa takbir itu merupakan kehendak Allah.” Sehingga setiap ucap bacaan dan geraknya karasa kersana Alloh.
Namun proses itu biasanya tidak hanya dirasakan saat sholat saja, tapi sejak awal wudhu. Jika sejak awal wudhu tidak muncul kesadaran seperti itu, biasanya saat tengah melaksanakan sholat juga tidak akan seperti itu. Tetapi tetap, fiqih juga penting untuk memperbaiki lahiriah. Karena bagaimanpun juga, seperti yang dikatakan oleh Imam Abu Zakaria Muhyiddin an-Nawawi : “Tingkat ketaatan adalah tanda bagi ma’rifat (pengenalan kepada Allah).”
Akan tetapi dunia itu sudah diatur sebagai tempatnya sandiwara : Tempatna ulin-ulinan. Bilamana segenap manusia yang ada di bumi sadar akan hal itu, tentu saja tidak akan rame. Ibadahna ogè moal aya tangtangan. Karena memang dunia disetting seperti itu guna untuk menguji. Musabab dari itulah; bisakah kita konsisten dalam kesadaran itu?
Sebagaimana kalian yang mencari-cari tuan, tapi sayangnya, dikarenakan : Segala hal dalam perbuatan yang dilakukan tuan di luar sepengetahuan, telah mengurung kami di sini dengan ragam ketakutan. Buntulah tujuan-tujuan kami yang minim asupan. Di sisi lain. pemberitaan-pemberitaan yang berseliweran, memaksa kami untuk bertahan. Seperti tikus dalam buruan. Lubang-lubang dibongkar demi suksesnya pemberantasan sekaligus pemusnahan.
Asap-asap mengkudeta udara. Pengap sudah hingga ke ruang dada. Mengapa pula kami yang diberondong peluru tanya. Melebihi sandra dalam ruang rahasia. Melebihi saksi dalam interogasi. Apa salah kami wahai para pencari tuan?. Tidakkah kalian bayangkan bilamana posisi kita dibalikan?. Ke mana kalian akan meminta keadilan dengan tuduhan yang tak pernah dilakukan?.
Sebagaimana kami yang tak punya benteng pertahanan. Jangankan bisa jalan-jalan, untuk berkeliaran sekadar cari makan saja sudah dipertanyakan. Segala langkah jadi perkara dan diperkarakan. Tuan, kami bungkam sebab tidak paham, tapi kami dituduh yang bukan-bukan. Kami berdalih sampai biji mata perih, kalian kian lirih menurih.
Sesungguhnya kami berada di pihak siapa, ketika pulang kandang ditendang. Tak mengapa yang penting Tuhan tak salah memandang. Jika kami dianggap sebagai soal matematika, ketika salah menerka tak mengapa. Sebab mutlak jawaban itu tersimpan dalam jernih pikiran. Jika tuan dan kalian merasa sama-sama benar, kenapa tak diselesaikan saja di ruang netral?.
Jika tuan dan kalian sudah tak percaya lagi pada lembaga pengadilan, kenapa pula tidak diselesaikan dengan cara kekeluargaan?. Jika tuan dan kalian sudah tak percaya lagi dengan keluarga, kenapa pula tidak diselesaikan di ruang pengandilan?. Jika pengadil dan warga sudah tidak ada lagi yang bisa dipercaya, kenapa pula tak gunakan mantra yang bisa membuktikan dengan kutukan secara seketika?.
Secara kasat mata, Tuhan memang tak bisa diajak bicara, tapi cahayanya yang menyelusup ke segenap rasa, tak bisa dibantah dengan logika. Misalkan tuan dan kalian tak percaya dengan agama, tapi setidaknya cahaya Tuhan yang bersemayam di rongga jiwa itu bisa dirasakan oleh semua secara seksama, sebab cahaya ilahi tak pernah pilih-pilih dakam memasuki tiap-tiap inti diri.
Berselisihlah sejauh keyakian kalian dan tuan. Berhentilah bicara tentang kemanusiaan selagi hidup masih bisa menyendiri. Tapi yang harus kalian dan tuan ingat : Mengerti pasar adalah tentang mengerti manusia: bagaimana manusia berpikir. Berplilaku. Merasa dan lain sebagainya. Sampai kalian dan tuan bisa merasa bahwa manusia itu unik, sebab hampir tidak ada individu yang sama meski kembar, tapi sebenarnya ada yang bisa diamati secara umum dan memahami hal ini adalah kemampuan terpenting yang kalian dan tuan butuhkan.
Apakah kalian dan tuan sudah saling memahami satu sama lain?. Jika itu belum terjadi, tanyalah pada lubuk nurani ; kenapa pula bisa ada saling berhubungan?. Kenapa pula ada kesepakatan yang dikuburkan?. Kenapa pula ada timbunan?. Kenapa pula ada kecemasan?. Kenapa pula ada curiga berlebihan?. Kenapa pula ada saling melempar dadu?. Bukankah dalam suci tak pernah ada debu?.
Bukankah jika menampakkan apa yang ada di dalam hati atau menyembunyikannya, niscaya sebelum sampai pada Pengadilan Hakiki, kalian dan tuan sudah tahu jawabannya. Bukanlah kala menyaksikan bahwa ibadah itu keluar dari diri sendiri (hasil dari diri sendiri, bukan dari Tuhan), apa yang bisa kalian dan tuan pertanggungjawaban di hadapan-Nya?.
Sebaiknya cukup dengan kembali menelaah pada cermin resah jiwa kalian dan tuan, niscaya gambar kebersamaan kembali terputar sesuai rumusan, meski ada kelabu di sebalik blueprint : siapa merasa siapa?. Bukankah kunci konsisten itu ada dalam kesadaran?. Karena perjalanan itu fleksibel : Berbeda kondisi. Berbeda Situasi. Berbeda pula cara menanganinya.
Tuntaskanlah selisih dengan segera antara dalih kalian dan tuan dengan terbuka. Bukankah apa yang dilakukan kalian dan tuan itu demi hak-hak kami jangan sampai dikebiri?. Sementara kami hanya ingin menyepi, selepas menerjemahkan tujuan-tujuan yang terampas. Dengan menyepi bukan lantas kami tak peduli, sebab dengan menyepi, kami bisa mendengarkan apa yang menjadi isi dari keramaian. Sebab kami itu kita ; 286,7 juta jiwa yang menanti asupan.
Di luar kata dan bahasa. Belum juga terselesaikan. Ada lagi bahasan: Segala sesuatunya harus jadi putusan sistem politik dan ekonomi yang sering kali mengabaikan kebutuhan dan aspirasi. Sebuah realitas getir yang satir. Kenapa pula teringat pada John F. Kennedy yang berkata: “Jangan tanyakan apa yang telah negara berikan kepadamu, tetapi tanyakan apa yang sudah kamu berikan kepada negara.”
Bukankah Negara yang baik adalah yang membuat warganya merasa didengarkan, dihargai, dan dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Jika kami seperti warga imigran yang memutuskan mundur dari kewarganegaraan, maka itu adalah tanda bahwa negara perlu melakukan refleksi dan perubahan dalam sistem kewarganegaraan yang ada.
Warga imigran sendiri tidak melakukan tindakan yang spektakuler atau provokatif. Mereka hanya melakukan tindakan yang elegan dan reflektif, yaitu mengundurkan diri dari kewarganegaraan dengan cara yang damai dan tanpa kekerasan. Dengan demikian, warga imigran tengah menunjukkan bahwa pemberontakan tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang radikal atau destruktif.
Adakah secara tanpa disadari sesungguhnya kita sudah keluar dari kewarganegaraan dengan tidak pindah alamat? Bayangkan saja bilamana benar kami yang diam itu sudah tidak lagi merasa menjadi bagian dari elemen bangsa karena tidak lagi diajak bicara sebagai manusia. Pernyataan ini mencerminkan perasaan ketidakpuasan dan ketidakpercayaan terhadap sistem kewarganegaraan yang ada.
Di ambang refleksi peringatan hari merdeka, siapakah sesungguhnya tuan, kalian dan kita itu? Adakah secara tanpa disadari sesungguhnya kami semua sudah resmi jadi penghuni ilegal sehingga sistem yang berlaku bukan lagi tatanan utuh perihal kemanusiaan yang adil dan beradab, melainkan hukum rimba yang kian terus berjalan di bawah semboyan Bhineka Tunggal Ika.
Ada yang lupa, jika batin sudah terbuka masih perlukah lahir dibaca? []









Tulisan seperti ini sangat langka. Perlu diperbanyak