Ketika kebaikan tidak mengenal jam kantor, ia tidak pergi pagi pulang sore dan tak perlu mengisi absen. Secara administratif, ia pun tak harus runut mengikuti etika dan etos kerja kantoran, tidak perlu bertahap dari meja ke meja menjadi rangkaian birokrasi, atau menyesuaikan diri dengan keselarasan antara tuntutan pimpinan dan keharusan bawahan. Bahkan, kebaikan tak pernah “ngantor”; ia tak punya jadwal waktu dan tak harus berada di suatu tempat. Kebaikan bukan sekadar pilihan, melainkan identitas yang melekat pada setiap manusia—“pekerjaan tetap” yang paling hakiki, melampaui tuntutan apa pun, bahkan bagi para pemegang profesi apa pun sekalipun.
Berbahagialah bagi yang sudah memiliki profesi. Rutinitas itu menghasilkan “produk”, menghasilkan sesuatu yang darinya kita diberi penghargaan: upah yang selayaknya, perasaan tenteram karena—paling tidak—dapat menyelesaikan sebagian bahkan seluruh kebutuhan penghidupan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain (keluarga). Dan itu baik, sebaik-baiknya kebaikan: menjadi sesuatu atau seseorang yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Namun, kehidupan tidak selalu berjalan seideal itu. Ada kalanya kita merasa tak cukup puas dengan penghasilan yang kita dapatkan, bisa jadi karena berbagai hambatan. Pekerjaan mendera tak henti, menjadi tekanan yang melelahkan; hasil terasa tak seimbang, tak sepadan dengan pengorbanan. Ada saat di mana lelah bukan lagi soal fisik, tetapi perasaan hampa karena usaha tak kunjung menemukan makna. Di titik inilah, makna kebaikan benar-benar diuji.
Kadang, tak perlu juga kita “mengukur-ngukur” kesabaran ketika kita tersudutkan untuk harus “menyerah”, asalkan itu berpedoman “demi kebaikan”—bukan kebaikan semu atau seolah-olah kebaikan. Ini bukan apologi dari seorang “pekerja serabutan”, bahkan karena situasi tertentu lebih sering disebut pengangguran. Justru di ruang-ruang yang dianggap kosong itulah, pertarungan batin sering kali berlangsung paling jujur.
Pada titik paling sunyi, ketika tak ada lagi yang bisa diandalkan selain harap, doa menjadi satu-satunya tempat pulang. Sepagi itu, permohonan “kebaikan” kepada-Nya dihampar di atas sajadah panjang: “Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik. Allahumma inni a‘udzubika minal hammi wal hazan. Hasbunallahu wa ni‘mal wakil, ni‘mal maula wa ni‘man nashir.” Wirid yang setiap ayatnya tiga kali kuulang.
Melangkah adalah kebaikan awal yang sebelumnya diniatkan, walau entah harus seperti apa. Paling tidak, sedikit menoleh pada apa yang ada di depan mata—di rumah—atau sekadar membuka pintu dengan diiringi gerentes hati: laa haula wa laa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim. Lalu semuanya mengalir. Temui atau lakukan, walau secuil perbuatan, jika itu memang kebaikan.
Aya gawe, aya buruh—setiap pekerjaan pasti ada upah. Kita tidak akan pernah benar-benar tahu bahwa Allah SWT sedang “memberi upah” pada setiap kebaikan yang kita lakukan. Ada yang datang segera, ada yang ditunda sebagai tabungan berikutnya, ada pula yang diganti dengan yang lebih baik. Kadang, dalam bentuk yang tak terduga: pertemuan dengan orang baik, kemudahan kecil di saat sempit, atau sekadar kecukupan yang datang tanpa disangka. Alhamdulillah, justru hal-hal yang tampak “kecil” itu terasa lebih menggetarkan, menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Kenikmatan paripurna manakala spontan terucap syukur.
Rutinitas bersyukur itu akan selalu menjadi energi tambahan, sekaligus keyakinan bahwa Allah pasti memberikan apa pun kebutuhan atau hajat terbaik agar kita mampu menjalani kehidupan. Semua itu hadir dalam takaran keseimbangan: kesediaan dan kemampuan kita untuk terus berusaha.
Barangkali yang paling menentukan bukan seberapa besar yang kita kerjakan, tetapi seberapa tulus kebaikan itu kita jalani—meski tanpa jam kerja, tanpa panggung, dan tanpa diketahui siapa pun. Kita sering sibuk menghitung hasil, menimbang layak atau tidaknya sebuah usaha, seolah-olah nilai kebaikan bergantung pada apa yang tampak dan diakui. Padahal, bisa jadi justru dari kebaikan-kebaikan kecil yang luput dari perhatian itulah hidup kita sedang disusun, diarahkan, dan dikuatkan dengan cara yang paling sempurna.
Di situlah kita belajar bahwa kebaikan tidak selalu tentang capaian, melainkan tentang kesediaan untuk tetap melangkah, bahkan ketika tak ada kepastian. Dan bisa jadi, pada akhirnya, bukan kita yang sedang mengerjakan kebaikan, melainkan Allah yang sedang menyiapkan kebaikan untuk kita—melalui langkah-langkah kecil yang kita jalani dengan tulus. []



