Berselancar di Dunia Maya, merupakan salah satu hiburan termurah di abad ini, di samping banyak ragam pilihan pun bisa sekaligus mencari informasi, baik untuk kebutuhan pribadi, umum, dan keluarga. Dunia Maya sendiri merupakan salah satu dari penanda peradaban yang terus bertumbuh dan berkembang.
Ada banyak konten yang bisa kita temukan, meski virtual, tetapi transaksinya nyata. Faktor transaksi inilah yang menjadi pemantik ber-lahiran-nya konten kreator sekaligus pebisnis dadakan. Bahkan pebisnis yang sudah punya nama pun membuka lapak di Dunia Maya, guna mempromosikan produk yang dijualnya tersebut.
Satu sisi yang diminati oleh konten kreator adalah pada dunia visual atau gambar bergerak dengan ragam pilihan platform yang menyediakan bayaran, jika memenuhi target baik pengikut pun penonton, sehingga banyak sudah ide-ide segar yang bisa menghasilkan cuan. Namun sayangnya, banyak sudah konten kreator yang kebablasan dalam mengemas ide, sehingga melupakan moral, etika dan adab.
Hal ini terjadi disebabkan demi mengejar cuan semata. Sebagaimana kini dihebohkan dengan banyaknya ragam suguhan ide yang mengeksplorasi satu lokasi atau tempat untuk kita kembali kelak, yaitu perihal tempat neraka. Sehingga neraka dijadikan lelucon. Imbas dari produk AI, yang menjadi kebablasan para konten kreator, sehingga disadari tanpa disadari merusak regenerasi bangsa.
Bagaimana tidak, dalam diksinya saja baik di dalam kitab Al Qur’an pun kitab-kitab lainnya, neraka itu merupakan tempat yang mengerikan. Jelasnya, di dalam kitab Al Qur’an, neraka itu ditampilkan dalam diksinya sebagai ancaman yang mengerikan. Kok bisa dijadikan lelucon demi mendapatkan cuan lebih? Bukankah kata-kata itu doa?
Ah, atau jangan-jangan kini agama hanya sebagai pengetahuan saja, bukan sebagai pedoman untuk menjalankan alur hidup dan kehidupan, guna kita bisa selamat dari adzab-Nya? Bukankah apa pun laku kita yang dilakukan di bumi,akan di hisab-Nya, kelak? Lantas, siapakah yang harus dipersalahkan dalam hal ini? Adakah pemerintah? Adakah para pemuka agama? Adakah lingkungan, tempat mereka tinggal? Atau keluarga, sebagai kontrol terdekat? Ataukah diri kita yang sudah lupa pada jalan pulang?
Siapa kita? Mau apa kita? Hendak ke mana kita? Tiga pertanyaan ini tentu saja sangat tabu untuk kembali dipertanyakan, sebab sangatlah mustahil di zaman kesempurnaan agama ini, masih tidak mengenal siapa pencipta semua makhluk, bukankah ketika tahu gambaran neraka sendiri, merupakan hasil dari jejak baca dalam pelajaran agama? Entahlah!
Dunia memang berubah. Perubahannya itu seperti waktu yang tak bisa kembali. Meski benar, gambar bergerak itu bisa dihapus dalam platform, tapi siapakah yang bisa menghapus catatan dari dua malaikat Rokib dan Atid, selain Allah sendiri? Pada akhirnya, laku kita hidup dan berkehidupan di bumi-Nya ini, sekadar untuk menuliskan biografi diri sendiri, yang kemudian dibaca dan dipertanggung jawabkan oleh diri sendiri dengan tidak bisa lepas dari marketing dosa, baik yang disadari pun tanpa disadari.
Benar, bahwa kesunyataanya hidup dan kehidupan kita di bumiNya ini sekadar Senda dan gurau belaka, sebagaimana yang tercantum dalam QS. Al-An’am Ayat 32: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”Di ayat lain, Allah berfirman: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan jika mereka mengetahui.” (QS Al-Ankabut Ayat 64).
Ya, demikian Allah mengumpamakan kehidupan dunia, tak lain dan tak bukan adalah permainan dan senda gurau saja. Maka tidaklah heran, jika ada orang yang menjadikan dunia sebagai urusannya, hatinya akan penuh dengan penyakit-penyakit hati, seperti cinta dunia yang berlebihan, penyakit dengki, demikian pula rakus, bahkan sampai tingkat menghalalkan yang haram demi untuk mendapatkan dunia. Mengapa pula semua itu membuat lupa pulang, untuk merengkuh limpahan rahmat-Nya? Entahlah.
Terang dan jelas itu; lihatlah anak-anak yang bermain; penuh kesenangan, tak ada beban. Bila saatnya tiba mereka akan pulang kepada ibunya. Melepas lelah di pelukan keduanya, merengkuh kasih dari belaiannya. Bila dalam bermain ada gelisah karena perilaku teman yang bikin resah, sang ibu lembut berkata, “tak apa nak, hanya main-main saja.”
Lihatlah mereka yang bersenda gurau; tertawa riang bersama, tanpa kebencian. Terkadang dalam guraunya satu sama lain saling mengejek, namun tak ada benci tak ada dendam di hati. Karena semua tahu, semua hanya gurauan.
Bila demikian kehidupan dunia, mengapa harus dibuat susah, begitu ngoyo mengejar angan hingga lelah. Mengapa pula mesti saling caci satu sama lain, saling hujat, saling memaki dan bully hanya karena berbeda warna dan pilihan aneka rupa. Bukankah hanya bermain dan guyonan saja? Bukankah senda dan gurau itu merupakan bagian dari dunia dan perhiasannya? Benar.
Namun Allah berfirman dalam surat Hud ayat 15-16: “Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, Kami akan berikan apa yang dia inginkan dari amalannya tersebut tanpa dikurangi. (Tapi apa alasan buat dia di akhirat?) Mereka itu orang-orang yang tidak mendapatkan apapun dalam kehidupan akhirat kecuali api neraka. Dan batal apa yang mereka lakukan dan sia-sia perbuatan mereka.”dan dalam surah yang lain, Allah kembali berfirman: Diantara manusia ada yang berdoa, ‘Wahai Rabb kami, berikan kepada kami dunia”, sementara akhirat tidak ada bagian dalam doanya tersebut.”(QS. Al-Baqarah [2]: 200.)
Dari itulah, mengapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Siapa yang dunia menjadi keinginan terbesar dihatinya, maka Allah akan cerai-beraikan urusannya. Dan Allah jadikan kefakiran diantara kedua matanya. Dan dunia tidak mendatanginya kecuali yang dituliskan saja untuknya. Dan siapa yang akhirat itu menjadi niat utamanya (keinginan terbesar di hatinya akhirat), Allah akan kumpulkan urusannya untuknya, dan Allah akan jadikan kekayaan di hatinya dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan dunia itu hina di matanya.” (HR. Ibnu Majah)
Simpulnya; Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencela orang yang keinginan terbesar di hatinya itu ada dunia. Keinginan terbesar dia adalah dunia, dunia, dan dunia. Apa yang terjadi dengan orang seperti ini? Allah akan cerai-beraikan urusannya. Apa maksudnya Allah cerai-beraikan urusannya? Artinya Allah cerai-beraikan kekuatan dia. Orang yang dunia adalah yang terbesar di hatinya, pasti akan menjadi orang yang mudah putus asa ketika ditimpa musibah.
Musabab itulah, kita harus waspada dalam senda dan gurau, sebab bisa memarkirkan diri kita di neraka. []









