ANTARA ISMAIL & ISHAQ: PENDAPAT SUFYAN AL-TSAURY & MUQOTIL BIN SULAIMAN PERIHAL NABI YANG DIQURBANKAN

perbedaan e1748415068526

Dua kitab tafsir quran tertua, yang ditulis di pertengahan abad kedua hijriyah, dan ditulis oleh dua tokoh yang hidup sezaman, yakni Tafsir Sufyan al-Tsaury (w: 161H) dan Tafsir Muqotil bin Sulaiman (w: 151H) telah mengungkap pendapat yang berbeda mengenai anak nabi Ibrahim yang diperintah untuk disembelih itu.

Sufyan al-Tsaury menyebut dalam tafsirnya bahwa yang disembelih adalah Isma’il, sementara Muqotil bin Sulaiman dalam tafsirnya berpendapat bahwa yang disembelih adalah Ishaq.

Namun, dari kedua pendapat itu, ada perbedaan yang sangat mendasar dalam pengungkapan kedua pendapat tersebut yang mereka tuangkan dalam masing-masing kitab tafsir yang mereka tulis.

Dalam tafsirnya, Sufyan al-Tsaury menulis Isma’il sebagai nabi yang diperintah untuk disembelih itu dengan dilengkapi sanad dari siapa saja ia menerima pendapat tersebut.

Sementara Muqotil bin Sulaiman, menulis Ishaq sebagai nabi yang diperintah untuk disembelih itu tanpa menuliskan sanad dari siapa pendapat itu ia dapatkan.

Para ahli tafsir di awal abad kedua Hijrah memang sudah berbeda pendapat mengenai siapa anak nabi Ibrahim yang diperintah untuk disembelih. Ada yang menyebut Isma’il, ada pula yang menyebut Ishaq.

Dalam Tafsir Sufyan Al-Tsaury dituliskan sebagai berikut:

عن بن أبي نجيح عن مجاهد في قوله “وفديناه بذبح عظيم”: قال: الفداء إسماعيل.

artinya: diterima dari Ibnu Abi Najih yang diterima dari Mujahid, mengenai Firman Allah: “Dan kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar.” (QS. As-Shooffaat ayat 107), ia berkata: yang ditebus itu adalah Isma’il. (Tafsir Sufyan Al-Tsaury: hlm. 252)

Sementara dalam Tafsir Muqotil bin Sulaiman hanya dituliskan sebagai berikut:

فبشرناه بغلام حليم (آية ١٠١): يعني عليم وهو إسحاق ابن سارة.

artinya: maka kami berikan kabar gembira padanya (Ibrahim) dengan (lahirnya) anak lelaki yang penyabar (QS As-Shooffaat ayat 101), yakni yang pintar, dan ia adalah Ishaq putra Sarah. (Tafsir Muqotil bin Sulaiman: hlm. 204)

Dari kedua pendapat tersebut kita dapat melihat bahwa Sufyan Al-Tsaury menggunakan metode riwayat dalam menafsirkan siapa anak yang ditebus dalam peristiwa qurban tersebut.

Sementara Muqotil bin Sulaiman menggunakan takwil (interpretasi) secara langsung mengenai siapa yang dimaksud anak penyabar yang diperintah untuk disembelih tersebut.

Jika kita bertanya, pendapat mana yang lebih layak untuk dijadikan sandaran dari kedua pendapat tersebut, maka jawabannya adalah pendapat pertama, yakni pendapat Sufyan Al-Tsaury, sebab, sebagaimana kita tahu bahwa “al-isnad minad-diini” bahwa sanad itu adalah bagian dari agama.

Lagi pula, jika kita melihat kembali interpretasi yang dikemukakan oleh Muqotil bin Sulaiman, yang menginterpretasikan kata “Ghulamin Haliim” (anak lelaki penyabar) dalam QS Al-Shooffat ayat 101 tersebut dengan kata “‘Aliim” (yang pintar/alim) maka kita akan menemukan sebuah kelemahan.

Pasalnya, memang tak bisa dipungkiri bahwa kata “Haliim” sendiri dalam Lisanul-‘Arab juga memiliki makna “Naqidlul-Safahi” yakni lawan dari kata bodoh (lihat Lisanul-‘Arab karya Ibnu Mandzur hlm 980), tetapi jika kita melihat kembali dalam rangkaian QS A-Shooffaat setelah ayat 101, yakni di ujung ayat 102 justru Al-Quran sendiri menjelaskan bahwa yang dimaksud “Haliim” dalam ayat 101 itu bukan makna “Naqidlul-Safahi” melainkan makna yang lebih umum dipahami sebagai “Al-Shabru” yakni sabar/penyabar.

Mari kita baca kembali QS As-Shooffaat ayat 101-102 tersebut:

فبشرناه بغلام حليم (١٠١) فلما بلغ معه السعي قال يا بني إني أرى في المنام أني أذبحك فانظر ما ذا ترى، قال يا أبت افعل ما تؤمر ستجدني إن شاء الله من الصابرين (١٠٢)

artinya: Kemudian kami berikan kabar gembira padanya (Ibrahim) dengan (kelahiran) anak lelaki yang penyabar (101). Kemudian ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata: “wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?”, dia (anak itu) menjawab: “wahai ayah, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaAllah engkau akan mendapati ku termasuk orang-orang yang bersabar. (102).

Di ayat ke 102 itu terlihat bagaimana ucapan si anak, “engkau akan mendapati ku termasuk orang-orang yang bersabar” (QS As-Shooffat ayat 102), semakin menguatkan apa yang disifati Allah kepada anak itu sebagaimana di ayat 101, sebagai Haliim.

Selain itu jika kita mencari dalam Al-Quran tentang siapa saja nabi Allah yang memiliki keunggulan dalam sifat sabar (minas-Shoobiriin), maka kita akan menemukan salah satu di antaranya adalah Isma’il, sementara Ishaq di dalam Al-Quran tidak pernah disebut sama sekali melekat dengan sifat (minas-Shoobiiriin) tersebut.

Lihat QS Al-Anbiya’ ayat 85 ini:

و إسماعيل و إدريس و ذا الكفل، كل من الصابرين (٨٥).

Artinya: Dan Isma’il, dan Idris, dan Dzul Kifli, semua termasuk orang-orang yang bersabar. (QS. Al-Anbiya’ ayat 85).

Wallahu A’lam bis-Showaab.***


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *