AKAL.IMITASI

aim

Transformasi Digital telah memasuki zaman di mana “akal imitasi” atau Artificial Intellegence – AI mengambil alih banyak peran manusia.

Apakah kita akan terus membiarkan AI menguasai dan mengendalikan hidup kita?

Laporan McKinsey Global Institute, menyebut,
“super akal imitasi”, atau super intelligence AI, kedepan akan memiliki sepuluh kali kapasitas kecerdasan manusia.

Saat ini saja AI, generatif misalnya, telah merenggut dan mendominasi sebagian besar pikiran, fungsi dan sebagian besar tindakan manusia.

Mesin-mesin pabrik digerakkan kekuatan AI, analisis medis dikendalikan kecanggihannya, kerja ilmiah dibantu AI. Tren mengandalkan AI terus menjangkiti seluruh lini kehidupan.

Filsuf Yunani Aristoteles, pernah mengatakan; “Kita adalah apa yang kita lakukan berulang kali. Kesempurnaan, bukanlah tindakan, tetapi kebiasaan.’

Dalam konteks kekinian, pesan Aristoteles dapat kita maknai, bahwa menggunakan AI harus bijak, tidak boleh membiarkan ia mengendalikan akal dan tindakan manusia.

Sebab hanya kebiasaan lah yang membuat orang hebat. Tetapi seberapa hebat logika orang yang mengandalkan keunggulan AI.

Firman Allah SWT dalam QS Al-Isra’ 36 menyatakan;
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban. Firman yang dapat kita jadikan pijakan menghadapi kekuasaan AI.

AI penting, tetapi harus diimbangi, kemampuan dan profesionalisme. Sisi “inner humanity” harus menjadi asupan nilai moral dan etika. Sehingga kemampuan inteligentia dan cognitive tak selalu didoktrin AI.

Bagaimana dengan dunia pendidikan?

Apakah keunggulan riset masih akan bergantung pada syarat dan metodologinya, jika semua dapat diambil alih AI?

Lalu, buat apa ada kampus jika semua sudah bisa dituntun AI. Apakah kedepan tugas kampus hanya “mengkurasi” karya inovasi mahasiswa, dan menerbitkan ijazah saja,

Apakah kampus sekedar menjalankan tugas ‘social guard’? Agar luaran kampus tetap punya nilai secara etik dan moral?

Pertanyaan yang harus kita rumuskan dalam jawaban kemudian,

DETAK
Baca Tulisan Lain

DETAK


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *