“Sahur… sahur… sahur…” Suara dari toa masjid menggema memecah sunyi dini hari. Seorang anak kecil yang baru pertama kali mendengarnya terbangun. Matanya masih berat, rambutnya acak-acakan. Ia menoleh kepada ayahnya yang juga terbangun oleh suara itu.
“Pak… sahur itu apa? Kok mereka keras sekali melontarkan kata sahur?” tanya si anak polos. Ayah tersenyum, lalu duduk di sampingnya. “Nak, kata sahur itu berasal dari bahasa Arab, dari kata sahar (سحر) atau sahuur (سحور), yang berarti akhir malam atau waktu menjelang subuh. Istilah ini merujuk pada kegiatan makan dan minum yang dilakukan umat Muslim pada dini hari sebelum adzan Subuh untuk menunaikan puasa Ramadan.”
Anak itu mengangguk-angguk pelan. “Oh… sekarang saya tahu, Pak. Tapi gimana kalau yang lagi tidur itu kebangun oleh suaranya yang keras itu? Masuk ke telinga orang yang tidak punya makanan. Siapa yang mau tanggung jawab? Ya orang yang ngebangunin sahur lah… masa ayah?” katanya dengan wajah lugu namun serius.
Ayah terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Iya juga ya, Nak…” Anak itu melanjutkan, “Tapi kita diuntungkan ya, Yah? Dengan suara itu bisa bangun tepat waktu. Tapi di sisi lain, kata sahur juga kedengeran jahat di pikiran saya…”
Ayah menatap anaknya dengan lembut. “Nak, kamu benar. Suara ‘sahur’ yang keras itu memang bisa membangunkan orang, tapi juga bisa mengganggu. Ayah setuju, kita harus bijak dalam melakukan hal ini. Dan ayah juga ingin meluruskan, bahwa orang yang membangunkan sahur itu juga harus memikirkan orang lain, jangan sampai mengganggu mereka yang tidak siap.”
Ayah kemudian melanjutkan dengan suara yang lebih tenang. “Tapi, Nak, kita juga harus ingat bahwa tujuan utama mereka adalah untuk membangunkan orang agar tidak kesiangan sahur, bukan untuk mengganggu. Dan kita juga perlu berterima kasih kepada orang yang membangunkan kita, karena mereka membantu kita menjalani ibadah puasa.”
Anak itu terdiam. Ia berpikir sejenak, lalu tersenyum kecil. “Gimana, Nak? Kamu setuju?” tanya ayah. Anak itu mengangguk mantap. “Setuju, Yah.”
Di luar, suara sahur masih terdengar. Tapi kini, di hati si anak, suara itu tidak lagi sekadar keras dan mengganggu. Ia mulai memahami maknanya—antara niat baik, cara yang perlu bijak, dan rasa syukur yang perlu ditanamkan sejak dini.









